Uncategorized

Gue ini Keras Kepala atau Keras Hati?

Pernah dinasihatin begini?

“Udah, atuh, jangan kesel terus. Nikmati aja, ambil hikmah di balik kekeselan kamu.”
atau
“Di balik setiap kejadian pasti ada hikmahnya, nikmati aja.”
atau
“Sabar, atuh… Allah pasti memberikan yang terbaik buat kita. Nikmati aja, siapa tahu tergantikan. Kita harus selalu bersyukur dalam keadaan apapun.”
atau…
“Nikmati dan syukuri aja sakitmu. Nanti setelah sembuh, kita akan sadar nikmatnya punya badan atau gigi sehat.”
dan sederet barisan kalimat nasihat lainnya.
Pernah?

Kalo aku? Pernah, dunks! Selalu malah. Nasihat itu datang setiap aku mengeluh pada seseorang yang aku percayai buat kukeluhkan. Apakah aku langsung nerima? Nggak, tuh! Yang ada aku malah langsung menjelek-jelekkan diriku sendiri di depannya. Dan itu membuatnya jadi kesel. Mungkin pikirnya, ini anak, udah untung dinasihatin, eh, masih ngomel dan malah menghina diri sendiri. (Maaf, nggak suudzhan, kok, aku cuma ngebayangin keselnya menerima balasan dari apa yang sudah diberikan)

Kenapa aku nggak mengiyakan aja? Maksudku kenapa aku pake membantah segala? Jadi panjang, kan, urusannya. Kenapa?

KARENA SEMUA YANG DIKATAKANNYA BENAR!!!!!

Karena sesungguhnya, ketika aku membantahnya, aku mencerna semua kata-katanya. Masuk ke otak dan hatiku. Seandainya aku cuma mengiyakan aja, itu artinya aku bebal. Masuk telinga kiri keluar telinga kiri (bukan telinga kanan lagi, karena udah mental). Jadi, ketika aku membantahnya, aku mengakui kebenaran nasihat itu. Semua-muanya. Ga ada yang kurang sama sekali dari semua nasihat itu.

Misalnya gini, kalo kita sakit, ngapain kita misuh-misuh, toh, dengan misuh-misuh kita nggak akan sembuh? Dengan kita mengeluh berlebihan, bukannya bikin orang lain jatuh iba sama kita, yang ada malah jadi sebel ama kita. Iya, nggak, sih?

Atau kalo kita lagi bete karena perbuatan orang lain, kenapa nggak kita balikin ke diri kita sendiri, seandainya kita ada di posisi seperti orang itu, harusnya kita ngapain?

Sayangnya, setiap aku dapet nasihat2 bagus begitu, reaksiku: MANYUN, MARAH DAN NGEDUMEL bahkan sampai merendahkan diri sendiri. Astaghfirullaahal adzhiim…

Harusnya aku bersyukur… Masih ada orang lain yang peduli sama aku, masih sabar mau dengerin keluhan aku, dan bahkan masih mau meluangkan waktunya buat memberi nasihat sama aku supaya hatiku bisa lebih ringan nerima apa yang kualami. Tapi, apa yang malah kuungkapkan sebagai rasa syukurku?

Ternyata aku ini keras kepala… Atau jangan-jangan udah nyampe ke tahap keras hati? Masya Allah… A’udzubillaahi min dzaalik… hindari aku dari tahap keras hati, ya Allah….

Duh… ternyata untuk bersyukur itu susah sekali, ya, rasanya… Padahal, dikritik, dinasihati itu adalah salah satu nikmat yang harus aku syukuri. Di mana syukurku?

ngutip salah satu nasihatnya:
“susah sih untuk bisa bersyukur, berterima kasih, ketika kita dapat kritik, dapat nasihat, tapi itu sama seperti kita bercermin, kalo di muka kita ada noda, bukan mecahin cermin, tapi menghapus n
oda dan bersyukur masih punya cermin …” (setiap aku baca kalimat ini, hatiku tersentak, so pasti berdarah-darah deh menangis…)


buat seseorang di sana, ma kasih buat selalu mau menampung semua curhatku, selalu dengan sabar memberiku nasihat (diminta atau tidak), dan yang terpenting selalu ingin membuatku merasa nyaman dengan diriku sendiri… ma kasih bangettttt… nget…nget… semoga Allah selalu menaungimu dengan lautan kasih sayangNYA yang tak bertepi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s