Uncategorized

Am I Happy?

“Gimana perasaan kamu setelah menikah? Bahagia, kan?” tanya seorang teman lama, ketika dia menghubungiku, via chatting.
Aku mengangguk. Tapi, aku sadar dia tidak akan melihat anggukanku, akupun mengetik kata “ya”.
Lalu kami pun bicara banyak hal. Tapi, aku lebih banyak membaca ceritanya ketimbang aku sendiri yang cerita.

Sesampainya di rumah, aku merenungkan pertanyaan temanku tadi.
Bahagia kah aku setelah menikah?
Malam2 yang kulalui, bukan dengan rasa bahagia dan bangga..
tapi hanya tangisan… bukan tangisan haru, tapi tangisan sedih…
aku merasa sangat nelangsa. merasa sangat tertekan.
Apakah aku bahagia?

Kupandangi wajah lelaki di sampingku yang terlelap. Dia sangat lelah setelah seharian bekerja mencari nafkah. Dia pasti sangat tidak menyadari kepedihan hatiku.

Hatiku mencelos. Menangis sesenggukan pun tidak akan ada gunanya. Karena dia sudah sangat terlelap.

Bahagiakah aku, jika malam-malam kulalui dengan isak tangis pedih?

Aku beranjak dari tempat tidurku. Lampu kamar sudah dipadamkan. Tapi, aku tahu, di salah satu sudut ruangan kamar kami, terpajang foto pernikahan kami. Senyum bahagia terukir di bibir kami ketika itu. Ya, kami bahagia ketika itu.
Setidaknya, aku pernah merasakan bahagia yang amat sangat ketika itu.

Tak sadar, tanganku meraih foto pernikahan kami dalam kegelapan kamar kami. Meski aku tak melihatnya, aku sudah sangat hafal bentuk wajah sumringah kami ketika itu.
Tiba-tiba, aku teringat pada teman2 seusiaku, bahkan di atas usiaku yang belum menikah. Betapa mereka tengah merindukan belahan jiwa mereka yang entah ada di mana.
Mengapa aku tidak bersyukur dan berterima kasih kepadanya?
Aku menikah dengan lelaki yang sekarang terlelap di tempat tidurku itu pasti ada alasannya.
Dia memang tidak romantis. Tidak suka memanggilku dengan panggilan khusus untukku. Tidak suka mengirimiku kata2 rayuan. Apalagi kasih hadiah surprise! Ga pernah! Boro-boro bunga. Bahkan, dia tidak pernah memujiku untuk hal apapun, walaupun sesekali, aku pasti menginginkannya.

Aku tahu. Aku menikah dengannya karena begitulah dia. Dan sekarang dia adalah imamku. Meski aku tak pernah mendengar pujian apapun darinya untukku, aku tahu. Akulah satu-satunya wanita yang paling ingin dia bahagiakan semampunya, setelah ibunya. Hanya aku yang dipilihnya untuk menjadi pendamping hidupnya, di antara semua wanita yang ada di dunia. Dia begitu tulus padaku. Dia sungguh2 mencintai dan menyayangiku. Meski dia tidak pernah mengatakannya secara verbal.

Lalu, aku menangis lagi. Ini bukan tangis tertekan atau sedih. Ini pastinya tangisan haru. Aku letakkan foto pernikahan kami, dan beranjak naik ke tempat tidur. Kupandangi samar2 wajah lelaki yang masih terlelap itu. Kubelai kepalanya, tangisku menderas. Bahkan ada air mataku yang jatuh ke keningnya. Dia terbangun.

“Kamu nangis? Kenapa?” tanyanya. Dia lalu duduk, memandangiku.
“Ga apa-apa. Aku cuma ga bisa tidur,” sahutku.
“Hmmm… sini…,” dia lalu memelukku. “Sekarang, berdoa mau tidur, dan pejamkan mata!”
Dia masih memelukku, meski sudah kembali terlelap.
Aku merasa nyaman sekarang.

Iya, aku bahagia. Aku sungguh bahagia.
Kenapa aku harus mencari apa yang tak dipunyainya?
Apa yang ada padanya, itu yang harus kusyukuri. Dan memang itu yang dipunyainya…
Maafkan aku, Tuhan….
Terima kasih, Tuhan, karena telah menghadirkannya untukku……

Advertisements

2 thoughts on “Am I Happy?

  1. indrayogi said: Ikut mendoakan ya semoga rumah tangganya selalu dalam lindungan-Nya dan diberi kemudahan dalam menjalani bahtera rumah tangga. Amin.

    aamiinn….ma kasih banget atas doanya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s