Uncategorized

Saya Mau Jadi Istri Shalihah

Di suatu hari yang panas, sambil kerja saya sempat chat dengan rully (yang seorang jurnalis)

peni : eh, rul, tau ga, sih, aku sekarang ngerasa beda banget… kayaknya aku dah
berubah, neh
rully : oya? berubah jadi siapa, tuh?
peni : jadi catherine zeta jones lah! who else?
rully : oh, selamat! kalo aku masih jadi Jennifer lah… kamu sapa aja aku dengan
J-Lo….
peni : garing!
peni : maksudku….. sekarang, aku ngerasa bukan lagi peni yang dulu, getttoooo
peni : bayangin aja, sekarang, tiap pagi aku masak buat bikin bekalnya fahmi
kadang, kalo ga lagi ngapa2in, selalu kepikiran “mau masak apa, ya?”
peni : padahal, itu ga peni banget, kan, rul!!! tul, ga?
rully : wah, selamat, kalo gitu. sekarang kamu udah mulai jadi ibu2 sejati.
peni : kan, kamu yang duluan suka masak, rul.
rully : iya, tapi sekarang aku ga sempet masak yang ribet2 lagi.
peni : iya, lah. kamu udah cape kerja. lagian kan arief (suami rully) sedang ga di
situ. tul, ga?
rully : iya, sih. tapi aku salut, deh, ama kamu. selamat menikmati, yaaaaa

Dan percakapan terus mengalir. Kadang terpotong karena saya harus meeting atau menyelesaikan storyboard sementara rully juga harus berkutat dengan artikel yang sedang digarapnya untuk beberapa edisi.

Standar kerjaan ibu rumah tangga ya memang begitu, kalo dipikir-pikir. Beres2 rumah, siapin makan suami, siapin pakaian suami, dll. Melelahkan memang. Belum lagi, kalo sudah ada anak-anak yang (mungkin) rewel minta ini dan itu.

Jadi wajar kalo ibu saya sering mengeluh pegal2. Apalagi, anak2nya meski sudah pada bisa mengurus sendiri, rasanya nggak enak kalo makan ga disediain ibu. Satu bukti, bahwa kita perlu kasih sayang ibu setiap saat.

Terus, kalo kita (wanita2) merasa capek, lalu mengeluh, apa lalu semua amalan kita (mengurus keluarga) menguap? Saya takutnya begitu. Sebab, keluhan2 tersebut seolah-olah telah menghapus jerih payah kita yang seharusnya kita lakukan dengan setulus hati.

Di balik semua kelelahan yang saya rasakan, saya jadi teringat cerita tentang Siti Fatimah Azzahra r.a (putri Rasulullaah SAW) yang merasa lelah karena seharian dia menumbuk gandum supaya jadi tepung. Rasulullaah SAW dengan bijaksananya menasihati, bahwa itu menjadi salah satu amalan baginya untuk ditempatkan di surga. Bacalah subhanallaah 33x, alhamdulillaah 33x, dan allaahu akbar 33x menjelang tidur. Niscaya, rasa lelahmu akan hilang.

Duh, sampai sekarang saya belum juga mengikuti jejaknya. Padahal, beliau sudah jelas dijamin surga oleh Allah SWT. Seringnya saya suka mengeluh capek, dll. Belum lagi bila beban kerja di kantor cukup membuat lelah sebelum sampai di rumah.

Oya, saya pernah baca di sebuah buku kado pernikahan kami dari seorang teman. Judulnya “Untukmu yang Telah dan Akan Menikah”. Di situ ada tulisan tentang istri shalihah.

Istri shalihah itu adalah istri yang selalu penuh lemah lembut, mampu menenangkan hati suami dan anak2 yang sedang gundah, selalu bisa membuat hati teduh dan menyenangkan bila didekati, dan mampu memelihara semua ibadah2nya. Bahkan, ganjaran untuk seorang istri shalihah adalah: DIA BEBAS MASUK SURGA DARI PINTU MANA SAJA.

Hiks… saya jadi merinding. 5 bulan usia pernikahan saya, ternyata belum bisa membuktikan saya istri yang shalihah atau bukan. Saya belum mampu sabar, terutama jika kelelahan. Saya belum mampu bersikap lemah lembut, terutama jika saya sedang banyak yang dipikirkan.

Tapi, saya sadar. Saya harus bisa menikmati peran saya yang sekarang ini. Harus bisa. Di luar sana, banyak wanita yang seusia saya atau lebih tua dari saya, sudah sejak lama mempersiapkan diri untuk menjadi istri shalihah namun mereka belum juga ketemu dengan pangeran yang akan membawanya ke istana rumah tangga.

Seharusnya saya bersyukur atas itu semua. Saya punya suami yang sangat baik (meski kurang luwes alias kaku sedikit) dan penyabar. Saya percaya, bahwa rasa capek yang saya rasakan setelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan di kantor, adalah tetes2 pahala kalo kita ikhlas.

Subhanallaah….

Allah SWT telah menyediakan begitu banyak pahala dan keindahan di balik semua jerih payah seorang istri shalihah. Pekerjaan-pekerjaan yang kerap dianggap “menyebalkan”, “menjijikkan”, ternyata mengandung tetesan-tetesan pahala yang tak terhingga. Bahkan Allah SWT menjanjikan untuk para istri shalihah masuk surga dari pintu mana saja!

Pernah, suatu ketika, saya sedang duduk di sebuah sudut coffee shop. Di belakang saya ada sejumlah perempuan seusia saya sedang ngerumpi. Ga sengaja saya dengar beberapa percakapan mereka. Ga maksud nguping, kok. Sebab, mereka bicara dengan nada suara yang lumayan tinggi.

“Gue ga ngerti, deh! Hari gini masih ada cewek yang mau married. Mikir mau nikah gitu! Gue rasa, pernikahan itu adalah perbudakan bagi kita, kaum cewek. Jadi istri itu harus nurut sama suami. Bangkang dikit, masuk kategori istri durhaka. Rese banget, ga sih, lo???”

Temannya menimpali,”trus, buat kebutuhan biologis, gimana?”

“Kalo cuma buat menghalalin kayak gituan mah, ngapain repot?! Masa, kucing aja bebas kawin di mana aja, kita kok nggak! Intinya, gw kalo mau menuhin kebutuhan biologis bebas aja, lah. Cowok gue juga mau, tuh!”

Saya langsung beranjak meninggalkan coffee shop tersebut, karena tidak tahan mendengarkan obrolan mereka.

Saya sedih. Ternyata, di balik semua pahala yang dijanjikanNYA, ada juga yang lebih suka menjerumuskan diri ke dalam dosa yang jauh lebih besar.

Semoga, saya, teman-teman juga, bukan termasuk bagian dari yang saya ceritakan barusan. Atau, mudah-mudahan, kita bisa meneladani cerita berikut ini.

Seorang kenalan saya, yang dia adalah lulusan fakultas kedokteran di sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia, memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga saja.
Gak sayang, gelar dokternya (hasil PTT, dll) ga dipake? Dengan entengnya, dia menjawab, “Saya ingin sekolah lebih tinggi lagi supaya saya bisa mendidik anak-anak saya dengan baik. Kalo perlu, saya akan sekolah lagi sampai saya selesai S3, mudah2an bisa jadi profesor, supaya layak buat merawat dan mendidik anak2 saya.”

Saya tercenung. Dia seorang wanita yang sangat cerdas yang pernah saya kenal. Usahanya untuk menjadi istri sekaligus ibu yang shalihah sama sekali tidak main-main. Tutur katanya lembut, tidak saja mampu meneduhkan hati keluarganya, tapi juga saya – orang lain di luar keluarganya. Ibadahnya yang saya tahu – sangat terjaga. Tidak pernah keluar ucapan keluh kesah dari mulutnya. Semua dijalaninya dengan ikhlas.

Duh, saya benar2 malu. Malu sekali. Saya suka protes pada suami, jika dia “bertindak bodoh”. Kadang, saya protes dengan nada meninggi atau mungkin dengan kata-kata yang tidak lembut. Tapi, saya serius. Seribu rius, malah. Saya bener-bener mau jadi istri yang shalihah. Mudah-mudahan.

– p e n i –
di suatu pagi, after ngerjain storyboard yang bolak-balik diubah sama atasan

Advertisements

4 thoughts on “Saya Mau Jadi Istri Shalihah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s