Uncategorized

Lupakan atau Ikhlaskan?

Sebelum kerja di AKAL Interaktif, saya kerja di sebuah “perusahaan” yang sedang merintis.
Meski bukan pioneernya, saya termasuk salah satu karyawan pertama yang bekerja di situ. Area usaha tempat saya bekerja itu di bidang kursus kreativitas anak.
Awalnya, saya diminta buat mengajar, yang kemudian selain mengajar, saya juga “kebagian” jaga tempat. Kebetulan, waktu itu, kami mengontrak sebuah tempat di Jalan Imam Bonjol. Di tempat itu, kami bersama perusahaan lain yang juga berkantor di rumah yang sama.

Ketika kontrak perusahaan lain di rumah itu habis, maka tinggal kami sendiri saja. Yang membuat saya tidak betah, bapak penjaga di rumah itu mulai rewel dan membuat saya yang paling sering datang ke situ sendirian merasa tidak nyaman. Kalo nggak matanya yang jelalatan memperhatikan saya, dia sering bertingkah yang membuat saya ingin cepat2 pergi dari situ.

Sebetulnya, ada lagi yang membuat saya tidak nyaman. Selain saya dipercaya mengajar, saya juga merangkap jadi “front officer”, yang kerap mengganggu waktu mengajar saya yang padahal cuma seminggu sekali itu. Karena banyak tamu yang datang untuk bertanya tentang program kami di waktu saya mengajar. Tentu saja ini mengganggu kegiatan belajar mengajar. Selain itu, merangkap juga jadi administrasi, yang kalo ada siswa yang mau bayar uang kursus melalui saya.

Sebagian orang tentu berpikir, dengan kerjaan rangkap2 begitu, mungkin saya dapet gaji yang besar atau lebih besar dari pengajar lainnya.
hahahaha… i wish it was true.

Nyatanya….
dari uang kursus siswa sebulan (4 kali pertemuan) itu harganya Rp.100.000 (ketika itu), saya dapat 30%nya sebulan, dikalikan dengan jumlah siswa yang saya pegang. Itu sudah termasuk biaya transport dan makan. Waktu itu, siswa yang jadi pegangan saya cuma 2 orang. Artinya, sebulan saya dapat Rp. 60.000. Cukupkah? Tentu tidak!!!!! Waktu itu transport pulang pergi sehari sekitar Rp. 4000, harga makanan paling murah di situ minimal Rp. 3500,00. Nombok lah! Dan yang paling pahit….. kadang saya tidak mendapat bayaran di bulan tersebut.

Saya sempat bertahan selama sekitar 8 bulan, setelah itu, saya “pamit” untuk tidak datang lagi, karena saya sudah tidak sanggup datang ke situ karena saya tidak punya uang lagi, karena emang ga dibayar. Emangnya, saya kerja sosial di situ????

Awal Desember 2004 lalu, saya dikontak lagi. Katanya, mereka sudah punya tempat baru (di sebuah kawasan perumahan yang terbilang cukup mewah di Bandung) dan ingin lebih memperbaiki manajemennya. Ya sudah, waktu itu saya sudah lama menganggur dan saya terima saja. Lagian, saya udah cari kerja ke sana kemari, belum juga saya dapat.
Di situ saya tidak lagi diminta mengajar, tapi cukup mengerjakan pekerjaan administrasi alias bener2 jadi front office saja, supaya saya lebih fokus. Good, deh, kalo gitu!

Meski, fee yang ditawarkan juga masih lebih rendah dari UMR alias 500rebu sebulan. Saya kerja dari hari Senin sampai Sabtu, makan ditanggung sendiri, begitu juga dengan transportasi.

Awal bulan Februari 2005, saya bener2 dapet amplop yang isinya berjumlah Rp. 500 rebu. Lumayan, gaji pertama. Saya sudah positive thinking, bahwa bulan2 berikutnya akan demikian. Alhamdulillaah….

Ternyata, di awal bulan Maret 2005, saya tidak kunjung dapat amplop. Saya tunggu sampai pertengahan bulan. Hiks, masih tidak ada juga. Yang ada, beberapa hari menjelang akhir bulan, saya terima 2 lembar uang seratus ribuan dari ibu pengelola. Katanya, nanti menyusul sisanya.

Bulan April, saya tunggu sisa gaji bulan sebelumnya berikut gaji bulan itu. Hiks. Yang ada, listrik malah disegel!!! Saya kira, sedang mati listrik, ternyata…. listriknya disegel. Padahal, untuk air, komputer, dll kan perlu listrik!

Ketika akhirnya listrik kembali bisa menyala, ada masalah baru lagi. Saya tidak bisa telepon keluar (padahal memang untuk keperluan kantor) karena kini giliran telepon yang diblokir. Masya Allaah….

Mulai bulan Mei itu, saya sama sekali tidak bisa melakukan pemanggilan keluar. Padahal, banyak sekali keperluan darurat yang HARUS menggunakan telepon.
Trus, nasib gaji saya? Dibayar sisa dari bulan Februari itu, cuma Rp. 250 rebu!!!
Artinya, ibu pengelola masih punya tunggakan hutang (sampai bulan Mei) sekitar Rp. 1.650.000,00.

Saya mulai malas, deh, kerja di situ. Saya sengaja datang siang2, dan pulang cepat . Jadi, saya ada di kantor antara 2 sampai 3 jam saja. Hehehe…. Padahal, saya sudah tidak punya uang lagi untuk transport bahkan makan. Untuk membiayainya, saya kerja malam juga (les privat di beberapa rumah).

Jelang bulan Juni, saya makin malas datang. Bahkan, saya sering izin. Oya, hari nikahan saya sudah ditentukan. Otomatis, ibu saya mulai mempertanyakan “berapa tabungan yang sudah saya punya, dari gaji kerja”.
Hmmm…. ini bagian yang paling malas saya jawab. karena, jawabannya “nol besar”.

Karena jawabannya demikian, otomatis ibu saya jadi marah besar. Karena saya dianggap tidak mau menabung, alias foya2. Rahasia yang saya simpan berbulan-bulan akhirnya bocor juga, karena saya ga mau ibu saya berburuk sangka terhadap saya. Saya ceritakan yang sebenarnya. Ibu saya kecewa juga sedih. Akhirnya, ibu meminta saya untuk keluar dari situ.

Awal bulan Juli, saya dapat kabar bahwa teman saya yang kerja di AKAL mau resign karena alasan kesehatan dan saya diminta untuk menggantikannya. Barangkali ini memang jawaban atas doa saya selama ini, saya minta diberikan yang terbaik untuk saya juga keluarga saya. Saya ikut tes masuk AKAL di akhir bulan Juli. Saya juga memutuskan untuk hanya datang seminggu sekali ke tempat saya bekerja itu.

Awal Agustus, saya mulai kerja di AKAL sampai sekarang. Alhamdulillaah. Saya tinggalkan perusahaan lama tempat saya kerja, secara baik2. Tapi, hutang pengelola masih belum dibayarkan pada saya. Janjinya, pertengahan Agustus mau dibayar sejuta.

Terus terang, dekat2 hari pernikahan, saya sempat berharap pada “gaji” saya tersebut. Tapi, sampai lewat hari pernikahan saya, masih tidak ada kabarnya.

Awal Maret lalu, saya iseng menelepon mantan bos saya. Konon, katanya, sudah pindah tempat lagi. Niat saya cuma mau menyapa dan sekedar menanyakan kabar. Itu saja, nggak ada maksud untuk menagih. Tapi, baru saja saya menanyakan kabarnya, beliau sudah menyerobot duluan dan mengatakan bahwa beliau selalu terpikir akan hutang beliau terhadap saya.

Bahkan, beliau menanyakan nomer rekening saya, yang katanya akan ditransfer saja tiap bulan (dicicil supaya tidak berat).

Tak lama, saya terima sms dari beliau, katanya anaknya yang bayi masuk RS dan perlu biaya, jadi tidak bisa bayar hutang dulu ke saya. Ya sudah, gapapa. Saya datang untuk menengok anaknya.

Bulan April lalu, saya cuma mau cek aja, saya iseng sms, “kalo udah transfer, tolong kabari, ya, Bu. Perlu, nih, buat operasi gigi” (emang bener, kok, gigi belakang saya perlu dioperasi)

Tak lama kemudian, beliau menelepon, untuk menyatakan kalo beliau sedang tidak ada uang, yang ada malah banyak hutang. Belum lagi, anaknya yang kedua mau masuk SD, perlu banyak biaya. Sekali lagi, saya katakan, “ya sudah, bu, tidak apa2.”

Tapi, terus terang, ada rasa yang tidak bisa saya tahan lagi. Rasanya, kok, saya jadi m
alu, nagih terus
. Walaupun saya tahu, itu adalah hak saya. Jerih payah saya. Keringat saya yang memang harus dibayarnya.

Saya lalu curhat pada suami saya. Dia bilang terserah saya aja. Tapi, kalo saya mau ikhlas, toh, pengganti “kehilangan” saya yang Rp. 1,65 juta itu kan jauh lebih banyak. Saya kerja di tempat yang lebih baik, gaji saya juga ga lagi 500 rebu sebulan, lingkungan kerjanya juga lebih asyik…. dan masih banyak lagi.

Saya belum buat keputusan apa2, sih, yang pasti saya sudah tidak akan menagih lagi. Malu .

Tapi, untuk melupakan apalagi mengikhlaskannya? Rasanya, kok, belum rela. Tapi, satu hal yang pernah suami saya nasihatkan pada saya dan masih saya ingat.

Jangan pernah berharap pada manusia, karena kamu akan kecewa. Berharap cuma sama Allah SWT aja. Dan, kalo kamu mengikhlaskannya, kamu akan dapat pengganti yang jauh lebih besar dari kerugianmu, selain kamu juga akan cepat melupakannya.”

Semoga, saya bisa cepat mengikhlaskannya.

Advertisements

7 thoughts on “Lupakan atau Ikhlaskan?

  1. Alloh mendengarkan doa doa setiap hamba-Nya..dan terbukti..mbak Peni mendapatkan yang lebih baek sekarang..semoga betah dan lancar lancar aja kerjaanya plus karirnya ya..:)

  2. brounie said: Alloh mendengarkan doa doa setiap hamba-Nya..dan terbukti..mbak Peni mendapatkan yang lebih baek sekarang..semoga betah dan lancar lancar aja kerjaanya plus karirnya ya..:)

    aamiin…..aamiin ya rabbal ‘alamiin….thanks a lot, ya, may…..

  3. saya pikir saat kak peni menagih itu adalah untuk kebaikan diri si ibu itu sendiri, bagaimana nasib dia jika ternyata kak peni menagihnya di akhirat nanti ??Kalau mau diikhlaskan juga sebaiknya di akadkan dengan jelas sama si ibu, biar jelas dan dia juga gak kepikiran terus, lagian berinfaq kepada orang yang banyak hutang juga pahalanya besar kok 🙂

  4. srisariningdiyah said: mbak, saya jadi terharu bacanya…. dan teringat pengalaman sendiri, hehehee…semoga mbak Peni dapat ganti yang lebih besar & membahagiakan… 🙂

    aamiin….ma kasih banget, ternyata saya tidak sendirian, karena mbak Ari juga mengalaminya, yaa..berbagi pengalaman ternyata bisa membuat saya merasa lebih lega…. 😉

  5. wahyu25 said: saya pikir saat kak peni menagih itu adalah untuk kebaikan diri si ibu itu sendiri, bagaimana nasib dia jika ternyata kak peni menagihnya di akhirat nanti ??Kalau mau diikhlaskan juga sebaiknya di akadkan dengan jelas sama si ibu, biar jelas dan dia juga gak kepikiran terus, lagian berinfaq kepada orang yang banyak hutang juga pahalanya besar kok 🙂

    oh, gitu, ya, kak?setelah beliau telpon terakhir kali itu, saya sudah akan melupakannya (atau mungkin lebih tepatnya mengikhlaskannya), tanpa bilang pada beliau. Ternyata memang harus ada akadnya, yaaa…ma kasih, deh, kak….

  6. saya pernah mengalami mbak… apalagi orang tersebut termasuk figur masyarakat, saya sempat ragu.kalo udah ‘argumen’ ma dia rasanya jadi orang tertuduh deh, kalah dalil. tapi kata guru ngaji saya MAJU TERUS kalo ikhlas ntar dia nggak menyadari kesalahannya dan berbuat lagi ma orang lain. toh hak kita yang ditagih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s