Uncategorized

Semua Ada Prosesnya

Mungkin bukan saya sendiri yang senang dengan berita dari bidan yang memeriksa saya, bahwa hasil pemeriksaannya adalah positif. Ibu dan bapak sudah pasti senang, secara mereka memang sudah rindu akan kehadiran cucu di rumah kami. Tampaknya, mertua dan kakak2 ipar saya juga merasa senang, sebab, sebelum ini, setiap saya ke Garut – tempat di mana ibu mertua dan kakak2 ipar saya tinggal – selalu bertanya,”sudah isi?”

Yah, ternyata, begitu pula dengan teman2 sekantor: semuanya jadi pada perhatiaaaaannnn banget…. . Dan tidak ketinggalan, tetangga sebelah rumah: Tante Dorce (maaf, tidak bisa saya sebutkan nama sebenarnya, hehehe)

Saya ingin cerita sedikit tentang beliau di sini. Beliau sudah lama sekali menjanda. Beliau punya anak 2, yang keduanya sudah dewasa. Anak tertuanya seusia saya, kurang lebih. Bahkan, dari anak bungsunya, beliau sudah punya seorang cucu mungil yang cantik, bernama Jeli.

Menurut ceritanya sendiri, beliau menikah pada usia 16 tahun. Wow! Otomatis, pendidikan dia cuma sampai SMP. Wah, pada usia itu, saya sedang menikmati masa2 ABG saya di SMA 2 Bandung. Hahaaa…

Menurut ceritanya juga, sewaktu beliau menikah, beliau sangat dimanja. Nyaris ga pernah bangun dari tempat tidurnya kalo pagi. Sarapan diantar oleh suaminya. Suaminya yang sangat memanjakannya. Dan, kalopun dia bangun dari tempat tidur, mungkin cuma buat ke kamar mandi atau pergi pesta. Hidupnya berputar dari itu dan itu terus.

Hingga suatu hari, tragedi menimpa mereka. Suami Tante Dorce sakit keras dan meninggal dunia di kampungnya di Gorontalo. Sementara, Tante Dorce yang cuma lulusan SMP sama sekali ga punya bekal apa2 untuk membesarkan kedua anaknya yang saat itu tinggal di Bandung.

Entah gimana ceritanya, sampailah Tante Dorce ke sebuah salon yang cukup kenamaan di Bandung. Beliau mulai ikut bekerja sebagai asisten di salon tersebut. Ternyata, karena ketekunan dan kesungguhan beliau, lama2 beliau bisa menjadi salah satu karyawan tetap di situ. Praktis, semua kebutuhan kedua anaknya bisa dipenuhi melalui pekerjaannya sebagai karyawan salon.

Mungkin Tante Dorce mulai capek kerja di salon, ketika anak bungsunya mulai beranjak SMA, beliau memutuskan untuk membuka usaha salon sendiri di rumah.

Ada yang saya amat sayangkan ketika beliau masih bekerja sebagai karyawan di salon milik orang lain. Anak-anaknya menjadi tidak terperhatikan, terutama si bungsu. Anak itu sejak ABG sudah “rajin” mengumpulkan teman laki2. Dari SMP anak ini sudah kenal pacaran.

Ibu saya sempat mengkhawatirkan keadaan ini dan melapor ke Tante Dorce. Tapi, Tante Dorce saat itu marah sekali. Dia bilang, ga mungkin anak saya “nakal”. Padahal, dalam keseharian, ibu dan bapak saya lihat sendiri apa yang terjadi. Sempat juga, ibu dimusuhi Tante Dorce selama beberapa tahun. Bahkan, ibu saya sempat dituduh iri, karena anak2 ibu yang meski sudah cukup umur untuk pacaran, masih belum “laku” juga. Wew! Ya sudah, akhirnya, ibu saya memilih diam, meski khawatir, kalo anak bungsu Tante Dorce bakal kebobolan hamil.

Waktu terus berjalan. Lama-lama, Tante Dorce mau berbaikan dengan ibu saya dan mereka mulai “bersahabat”.

Sampailah kira2 bulan April 2004 lalu, ketika musim Pemilu. Saya, bapak, ibu dan Astri-adik saya, pergi berombongan menuju TPS. Tante Dorce dan anak bungsunya ikut juga. Sepulang dari mencoblos, tiba2 saya dengar Mel, anak bungsu Tante Dorce tersebut, muntah2.

Wah, serem! Ngeri banget kalo ingat itu. Katanya, sakit maagnya sedang kronis2nya. Dan anehnya, itu sakit terus berlanjut sampai bulan Juni, di mana pada saat itu Tante Dorce memutuskan untuk menjenguk keluarganya di Gorontalo. Praktis, yang ada di rumah itu cuma Mel sendirian, karena sang kakak harus bekerja hampir 18 jam sehari.

Berhubung Mel sedang sakit dan tidak mungkin mengurus diri sendiri, ibu lah yang mengurus Mel. Ibu yang membuatkan bubur sampai menyuapi Mel setiap waktu makan. *I love you, Mom!*

Ibu bingung, kenapa Mel sakit maag nya ga kunjung sembuh. Muntah terus. Ibu udah membujuk Mel buat ke dokter. Mel bilang,” udah ke dokter, kok. Ini dikasih obat.” Ya sudah, ibu nggak kuatir lagi. Ibu meneruskan mengurus Mel yang “tidak-kunjung-sembuh” sampai Tante Dorce pulang dari Gorontalo.

Oya, waktu itu, di rumah saya sedang “kuriak” (maaf, saya tidak bisa menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia, tapi kalo ga salah, arti harfiah dalam bahasa Indonesia, “kesibukan dalam rangka merenovasi rumah”) di mana ada seorang tukang yang lumayan dekat rumahnya dengan rumah saya, curiga kalo Mel bukan sakit dalam arti sakit maag, tapi “hamil”.

“Ah, mana mungkin?!!! Mel kan belum nikah!” sanggah bapak saya, waktu diajak bergosip sama oom Hardi – tukang yang kerja di rumah.

“Ih, si Mas mah (om Hardi manggil bapak saya dengan panggilan “Mas”). Masa ga hafal sama perempuan hamil?” tukas om Hardi lagi.

“Kamu jangan bergosip, ah!” balas bapak.

“Ah, ya udah. Pokoknya mah kelihatan, Pak!” komentar om Hardi.

Tentu saja komentar om Hardi ini membuat bapak bertanya pada ibu. Secara om Hardi juga punya estri dan sudah punya anak, pastinya tau kaleee, seluk beluk bentuk badan dan perilaku perempuan yang sedang hamil.

Jadi, Tante Dorce selama itu tidak menyadari bahwa Mel, putri bungsunya berbadan dua. Singkat cerita, usai lebaran 2004, barulah semuanya terbongkar. Ada 3 laki2 datang ke rumah Tante Dorce dan menyatakan “akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Mel”. 3 laki2 itu adalah: pacar Mel didampingi oleh ayah dan pamannya. FYI, pelakunya cuma pacar Mel, bukan ayah dan pamannya .

Tante Dorce shock sekali. Tentu saja! Bagaimana tidak?! Anaknya yang selama ini sangat dipercayanya membuat aib keluarga. Tante Dorce menangis dan mengadu pada ibu dan bapak. Ibu dan bapak diam saja pada awalnya, karena mereka sudah menyadari – bahwa Mel hamil – jauh lebih dulu dari Tante Dorce.

Lalu, gimana akhirnya? Tante Dorce sangat marah sekali dan mengatakan bahwa dia tidak mau mengurus pernikahan anaknya. “Sana, urus sama kalian!!” begitu marahnya Tante Dorce. Bahkan, ketika si cucu lahir, Tante Dorce memang sempat menungguinya, tapi sama sekali ga mau bawa itu cucu ke rumahnya. Selama hampir satu tahun, Mel tinggal di rumah mertua dan berani muncul ke rumah Tante Dorce malam sekali sambil bawa anaknya.

Kini, anak itu sudah berumur 1,5 tahun dan sudah kelihatan cantik. Sekarang, malah Tante Dorce rebutan sama besannya buat ngurusin cucu. Wew!!!

Dampaknya buat saya, sejak tahu saya sedang hamil muda, Tante Dorce selalu bilang gini tiap ketemu,”pasti rasanya pengen cepat2 keluar dan cepat2 besar, ya….”

Wew!!!

Untunglah, bapak seorang yang bijak. Bapak cuma bilang, “semua ada prosesnya. Sebelum anak lahir ada proses kehamilan selama 9 bulan dulu. Lahir juga ga langsung besar. Ada bayi merah dulu. Semuanya ada proses, Bu….”

Ya iyalah, sekarang dia bisa bilang kayak gitu. Cucunya cantik dan lucu. Coba dulu? Waktu tau anaknya hamil udah tinggal sebulan lagi melahirkan, betapa marahnya dia dan ketika si cucu sudah lahir ia berusaha menjauhkan cucunya dari pandangan tetangga2. Mana ngerasain dia ngurusin anaknya yang sedang hamil, karena waktu itu Mel konon sedang berada di Purwakarta. Mana ngerasain dia ngurusin Jeli dari masih merah? Toh, semua itu dulu dilakukan oleh sang besan????

Saya bersyukur, karena didikan bapak dan ibu yang sangat keras – terutama dalam hal pertemanan dengan lawan jenis – j
uga doa mereka tentu saja, saya mendapat suami shalih, alhamdulillaah. Bahkan, Tante Dorce sempat iri sama ibu, karena punya menantu dengan “cara baik2”.

Yah, buat jadi pelajaran aja. Semua ada proses. Sebelum hamil, harus ada menikah dulu, baru boleh bikin anak. Mana boleh masih belum berstatus halal udah bikin anak? Ya, kan? Sebelum jadi anak umur setahun, ada proses kehamilan dulu selama 9 bulan dan proses kelahiran menjadi bayi yang masih sangat lemah dan merah.

Jadi, saya tidak minta anak saya yang sedang bersemayam di rahim saya ini untuk cepat2 keluar. Toh, semua ada prosesnya. Saya cuma berharap padaNYA, janin saya sempurna, kuat, dan sehat, lahir dengan selamat sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Saya tahu, saya memang harus mengalami mual2 seperti layaknya ibu2 yang sedang hamil muda. Saya malah bersyukur bahwa saya menjadi bagian dari proses itu. Ternyata, semua memang ada prosesnya……

Advertisements

12 thoughts on “Semua Ada Prosesnya

  1. p3n1 said: Jadi, saya tidak minta anak saya yang sedang bersemayam di rahim saya ini untuk cepat2 keluar. Toh, semua ada prosesnya.

    tapi jangan kelamaan juga teh peni, nke kaya’ samson betawi yang dikandung ibunya selama setahun. hikhikhik … tapi nggak apa-apa ketang, kan sakti, kecuali kalo bulu keleknya dicabut hahahahahaha

  2. ah, umay, apanan ada terusannya,,,,semoga lahir sesuai waktunyah…amit2 ah, jadi samson betawi mah…eh, dirimu masih ingat pilm itu, nyaaaa?

  3. p3n1 said: mit2 ah, jadi samson betawi mah…eh, dirimu masih ingat pilm itu, nyaaaa?

    masiiiiih … dan sampe sekarang masih suka pengen paha ayam goreng karena di filem eta teh, si samson makannyah meni keliatan enak, pake paha ayam goreng, hikhikhikhik

  4. mmlubis said: masiiiiih … dan sampe sekarang masih suka pengen paha ayam goreng karena di filem eta teh, si samson makannyah meni keliatan enak, pake paha ayam goreng, hikhikhikhik

    wew….dirimu, yaa…kalow tergila-gila sama cara mamamnya samson betawi mah atuh, repoto pisannnn hahaha, sa mejaeun oge kurang keneh…. :p

  5. hiks…kok aku bacanya terharu ya…mmm…mungkin terharu karena turut bersyukur…bntar lagi bakalan ada yg manggil aku tante …. :p calon ponakan dari sahabat…I’m so very happy for you sista! may Allah be with you and your family….always…aamiinn

  6. dimyati said: hehehe amiin semoga sehat ya selamaaat barakallah semoga Allah menjaga kalian sehingga pertemuan itu akan tiba :)) luv yu

    aamiin….. nuhun doana…semoga dirimu cepat2 jadi isi, yaaaa

  7. nurmauliddiyani said: hiks…kok aku bacanya terharu ya…mmm…mungkin terharu karena turut bersyukur…bntar lagi bakalan ada yg manggil aku tante …. :pcalon ponakan dari sahabat…I’m so very happy for you sista! may Allah be with you and your family….always…aamiinn

    aku juga terharu baca reply anmu, di….hiks….ya.. mohon doanya aja, yaaa…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s