Uncategorized

Tiap Makhluk yang DiciptakanNYA Pasti Ada Rezekinya, kan?

Ga tau deh, bisa bilang apa lagi. Kalo baca di sini, teh Anik menderita paranoid berat, ketakutan akan masa depan anaknya yang tidak dapat terpenuhi. Karena sekarang, dia yang lulusan plano ITB dengan IPK tinggi (mungkin) merasa malu karena kehidupannya tidak selayak atau semakmur teman2nya. Apalagi bersuamikan alumni ITB juga. Makanya, dia milih buat menghabisi nyawa ketiga anaknya, sehingga dia dijerat pidana mati, yang saya baca dari sini.

Yang saya tahu, Allah SWT tidak pernah membiarkan makhluk yang diciptakanNYA tanpa diberi rezeki. Seekor nyamuk pun ada rezekinya. Apalagi kita, manusia yang dikasih otak dan perasaan. Dikasih kesempurnaan. Dikasih kesempatan buat menjemput rezeki yang sudah disediakan Allah.

Anak juga rezeki. Membunuh anak sendiri = mengkufuri nikmat rezeki yang diberikanNYA.

Kita doakan saja, semoga semakin jelas kasusnya. Yang pasti, teh Anik harus menerima resiko hukuman atas perbuatannya. Boleh jadi, dia merasa lelah, karena “merasa-banyak-yang-diharapkannya-tidak-tercapai”. Entahlah. Wallaahu ‘alam. Saya cuma bisa berdoa, semoga semuanya segera menjadi jelas.

Saya jadi berpikir. Betapa seringnya saya mengeluh, tapi mungkin tidak pernah bersyukur. Astaghfirullaahal’adzhiim. Padahal, nikmat yang diberikan Allah SWT begitu banyak, begitu luas.

Musibah tragis yang menimpa keluarga kang Iman Abdullah, memberi saya banyak hikmah dan pelajaran. Terutama, jika saya lupa bersyukur. Saya harus berhenti mengeluh, apalagi berharap pada selainNYA. Karena, saya sangat percaya pada janji Allah SWT: tiap makhluk itu ada ketetapan rezekinya. Insya Allah tidak akan tertukar.

Advertisements

12 thoughts on “Tiap Makhluk yang DiciptakanNYA Pasti Ada Rezekinya, kan?

  1. ariowicak said: yang pasti jangan sampe berputus asa dari nikmat Allah…

    iya, mungkin di situ letak beratnya…sebagai manusia yang makhluk sempurna, pasti banyak “pengen”nya dan jadinya lebih sering mengeluh daripada bersyukur… astaghfirullaahal’adzhiim…..

  2. ada sedikit cerita tentang rejeki anak, memang Allah menciptakan manusia itu dengan rejekinya masing2 tapi rasanya jangan dibalikkan kata tsb. Sehingga kadang ortu kurang juga menyadari bahwa Allah juga memberikan otak pada manusia untuk berfikir apakah dengan mempunyai banyak anak akan membuat anak tuh lebih baik kehidupannya ? Jangan setelah punya anak banyak lalu bilang ah kan ntar juga ada rejekinya… memang betul adarejekinya tapi tetap aja rejeki itu banyak pintunya tergantung kita pilih pintu yang mana.Kalau memang kondisi ekonomi belum menunjang kenapa pula harus punya momongan yang berentet ? Kan kasihan anak2nya, memang ada rejekinya tapi ya pemilihan pintu rejeki buat anak yang banyak dengan anak yang sedikit kan jelas2 beda kan ?Allah memberikan kita akal untuk kita, kita selalu diberikan pilihan, maksudnya ya itu tadi memilih pintu yang mana yang layak bagi anak2 yang akan kita lahirkan.Ada yang terfikir oleh saya tentang kasus ini, mohon maaf kalau jadi mengundang pro dan kontra, saya sebagai pihak yang gak kenal dua2nya dan hanya membaca dan memikirkan kasus ini, rasanya gak cuman si istri aja yang harus ditanyai, juga si suami….bagaimana suaminya bisa gak tau kalau istrinya punya masalah ? Suami adalah pemimpin rumah tangga harusnya juga bisa mengerti keadaan istrinya atau paling gak, ada komunikasi antara keduanya pada saat2 sulit sang istri dengan dua anak balita dan satu bayi…Harusnya ada gejala2 yang kelihatan, atau malah memang si istri pandai memendam perasaannya ? Sejauh mana suami mengenal istrinya kok sampai frustrasi yang berakhir ke kesadisan itu sama sekali gak bisa dikenal suaminya ? kadang saya melihat pasangan pasutri itu saling menganggap everything is fine and under control tapi tetap saja berakhir ke perceraian, bukan karena apa, hanya yang biasa dianggap “gak ada apa2”, atau sudah seharusnya gitu ( istri ya jadi ibu, ayahnya cari duit), itu kadang malah menyimpan segudang masalah yang kalau tidak dibicarakan, makin membuat masing2 individu menjadi asing antara satu terhadap yang lain. Apalagi sejalan dengan waktu umur perkawinan, yang seperti ini harus tetap dijaga komunikasinya. Ya itu tadi, agar saling tau apa masalahnya dan apa yang harus diselesaikan masalahnya.Maaf lagi selain kepanjangan juga kalau gak setuju, mohon maaf, ini pemikiran saya aja. Apalagi kalau si ibu dihukum mati, apakah persoalan akan selesai sampai disitu ? bagaimana dampak pada suaminya ? udah anaknya meninggal semua, istrinya dihukum mati pula. Prihatin sekali lihat kasus ini.

  3. Saya kok malah berpikir ini kasus sangat janggal, entah dimana kejanggalannya. Tapi mulai dari awal kematian anak, tanpa bukti yang jelas polisi sudah langsung menunjuk Ny. AKS sebagai tersangka. Alasannya karena pengakuan Ny. AKS sendiri.Bukti2 pun tidak kuat, karena dari awal polisi sudah bilang kalau anaknya di cekik, tapi setelah di otopsi tidak ditemukan bukti kekerasan fisik dicekik. Lantas dibuat lagi dugaan baru kalau anak2 itu dibekap bantal. Tim dokter pun setali tiga uang. Dokter yang seharusnya bertugas sesuai dengan kode etiknya ini ikut2 buat berita makin panas.Ada baiknya kasus ini jangan cuma jadi konsumsi publik tapi tanpa edukasi buat masyarakat, kasihan masyarakat sudah setiap hari disuguhi sinetron yang nggak jelas (apa memang kasus ini mau dibikin seri sinetron?) Ayo lah, kalau memang ini memang kasus pembunuhan dan ada masalah kejiwaan, duduk bareng lah tim ahli yang memang profesional menanganinya. Dokter, kerahasiaan pasien mutlak perlu di jaga, Psikolog/Psikiater kalo mau ngomong tes dulu Ny. AKS kan memang bidang mereka untuk mengetes klien baru buat keputusan kondisi klien, Polisi -dan memang saya lihat ini awal pangkal kejadiannya- mana azas praduga tak bersalah? sedang bukti-bukti juga belum jelas. Apa cukup cuma dari pengakuan sedangkan barang bukti & saksi belum jelas sudah buat pernyataan?wartawan buat berita jangan cuma jadi obrolan warung kopi atau ibu2 arisan aja, tapi kalo bisa setelah baca berita yang dia tulis ada pelajaran & hikmah yang bisa diambil.Kalau ibu Estherlita mempertimbangkan faktor suami, saya malah mempertimbangkan psikologis Ny. AKS, kalau iya dia Schizophrenia -berat lagi katanya, udah di tes apa blum tuh- kalo nggak?Ayo dong plis, kita saling mencerdaskan…

  4. estherlita said: atau malah memang si istri pandai memendam perasaannya ?

    kalo sampai ada kejadian seperti itu, berarti si istri memang pandai memendam perasaannya, tapi ga tersalurkan dengan cara yang benar, alias terlalu ditumpuk, bukan berusaha mencari solusinya. Ironisnya, ini memang terjadi pada keluarga aktivis masjid yang sangat dihormati, sehingga seolah memberi contoh dan kesan yang sangat buruk terhadap masyarakat awam.Menurut saya, Tante, memang betul, rezeki itu ada pintu masing2. That’s why, manusia dikasih kesempurnaan untuk menjemput rezeki tersebut. Allah menyediakan rezeki, tapi juga menyediakan sarana dan kesempatan untuk menjemputnya (apapun caranya). Manusia dikasih kesempurnaan buat memperhitungkan dan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kelak, bahkan Allah SWT pun telah memberikan pedoman hidup. Kurang apa lagi?Di sini, ada kemungkinan besar, tekanan batin manusiawi yang besar (dimana rumput-tetangga-selalu-tampak-lebih-hijau) bisa ikut mempengaruhi faktor psikis seseorang yang kebetulan merasa “sendiri” atau merasa “sangat-kekurangan”. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kejadian ini, lebih dari sekedar merasa marah terhadap si ibu atau merasa kasihan terhadap si bapak atau si anak. Ada sangat banyak sekali hikmah yang bisa kita petik dari sini. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi.

  5. muhamadikhsan said: Ayo dong plis, kita saling mencerdaskan…

    kabarnya sih, dari hasil autopsi memang ada bukti2 penganiayaan…trus, kalo soal schizophrenia atau depresi berat, dll, masih dalam pengujian. makanya, kita sama2 berdoa, semoga semuanya semakin jelas. Sebab, cuma Allah SWT yang betul2 tahu kejadiannya, kan?

  6. Semua makhluk memang sudah diberi jatah rejeki tertentu, tapi kalau untuk manusia, dia punya hak extra untuk menambah rejeki yang sudah dijatahkan kepadanya.Ingat tulisannya Pak Aam (atau siapa, gitu, pokoknya di bulletin Sakinah), memang ada dua macam rizki buat manusia.Yang satu yang sudah dijatah, satu lagi harus diusahakan. (lupa istilah-istilahnya).So, kadang-kadang orang terlalu pasrah dengan yang pertama, hingga lupa/enggan mengusahakan yang kedua.Btw, memang gaji karyawan YPM kecil, sih. Harusnya si suami sadar, kalau gajinya kecil, mbok ya istrinya diijinin kerja, apa aja kek. Kerja part-time-an di rumah juga banyak kan? (dari Abu Syauqi, katanya suaminya MELARANG si istri kerja).Cuma jadi bertanya-tanya juga, ya.. Di mana kepedulian YPM terhadap kehidupan rumah tangga karyawan-karyawannya, sampai ada yang sibuk cari pinjaman buat beli obat. Kan banyak tuh, orang YPM yang kaya..

  7. alifayogananda said: Cuma jadi bertanya-tanya juga, ya.. Di mana kepedulian YPM terhadap kehidupan rumah tangga karyawan-karyawannya, sampai ada yang sibuk cari pinjaman buat beli obat. Kan banyak tuh, orang YPM yang kaya..

    sama! aku juga jadi bertanya2 soal itu….secara tidak langsung, sebenernya YPM terlibat, lho… soalnya, “kesejahteraan keluarga karyawannya” tampak tidak ikut diperhatikan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s