Uncategorized

Jadi Ibu di Hari Ibu (bagian 2)

21 Desember 2006
18.00
usai periksa kehamilan terakhir, saya dan kakang beranjak pulang. Tapi, begitu saya dan kakang sudah sampai di depan pintu RS Hermina, tiba2 seorang resepsionis memanggil saya, katanya saya harus tes darah. Jadilah, saya dan kakang balik lagi dan saya masuk ke laboratorium buat diambil darah. Kakang nunggu di ruang tunggu.
18.15
setelah diambil darah, saya dan kakang pulang pakai angkot. Hujan deras mengiringi perjalanan kami.

20.00
rasanya tambah resah, tambah degdegan. “Eksekusi” berjalan beberapa jam lagi. Tapi, beberapa jam lagi itu pula saya akan segera menjadi seorang ibu. Senang, cemas, campur jadi satu, sampai jadi malas makan. Tapi, semua orang di rumah nyuruh saya makan, sebab mulai jam 24.00 nanti, saya harus sudah puasa. Akhirnya saya makan beberapa sendok saja, setelah itu saya dan kakang shalat isya berjamaah untuk terakhir kalinya (karena sesudah itu saya pasti nifas alias terlarang buat shalat apalagi shalat berjamaah).

20.30
harusnya saya sudah sampai di RS untuk persiapan, tapi justru saya dan kakang baru berangkat.

20.50
sesampainya di RS, saya dan kakang menuju resepsionis untuk registrasi ulang. Sebetulnya saya sudah registrasi booking tempat 3 minggu sebelumnya, tapi untuk melahirkan spontan, maka saya harus melakukan registrasi ulang karena saya jadinya melahirkan secara sectio.
Oya, berhubung minggu itu banyak sekali yang melahirkan, sedianya saya yang memang daftar untuk kelas 3, jadi untuk sementara menghuni kelas 2 dulu. Begitulah istimewanya di Hermina, bisa naik kelas kalo kelas yang sudah kita book penuh.
Setelah urusan administrasi beres, saya dan kakang diantar sang resepsionis menuju ruang melahirkan. Di situ ada dua ruang persalinan normal, ruang pulih sadar, dan dua ruang operasi.

21.15
Sebelum dan sesudah operasi, saya harus masuk ruang pulih sadar dulu. Nah, maka ruangan pertama saya saat itu adalah: ruang pulih sadar. Saya disambut oleh bidan Rondang. Bidan Rondang bilang, setelah dilakukan pemeriksaan, saya akan diantar menuju ruang rawat.
Saya mulai berbaring. Saya bingung banget. Kakang memang nemenin sih. Tapi, saya bisa baca jelas ketegangan di wajahnya. Saya bekal komik Miiko yang banyak, buat ngusir 4S yang saya derita.
Gak lama, orang dari laboratorium datang untuk mengambil darah. Lagi?! Iya, katanya ini untuk apa, gitu. Waduh, hari ini dua tangan saya ditusuk jarum dan diambil darah, hanya dalam waktu kurang dari 4 jam.
Bidan Rondang datang lagi. Kali ini dia membawa alat pengukur tensi, CTG, termometer. Suhu tubuh saya normal, begitu pula tekanan darah saya. Selama 30 menit alat CTG dipasang di perut saya. Katanya, setiap bayi bergerak, saya harus memijit tombol. Itu adalah 30 menit terlama pertama yang saya rasakan. Suara detak jantung bayi itu betul2 membuat saya gelisah. Saya jadi teringat pengalaman ibu sambung saya 18 tahun lalu, katanya setelah mendengar detak jantung bayi yang cukup keras selama beberapa lama, lalu dia melemah dan melemah dan akhirnya tidak ada lagi. Teman senam hamil saya juga cerita, sebelum melahirkan, detak jantung bayinya melemah, makanya langsung dioperasi. waktu itu dia sudah siap untuk melahirkan secara normal. Jujur, saya takut mengalami itu. Saya takut mendengar detak jantung bayi saya jika tiba2 melemah. 30 menit terlama pertama yang saya alami itu saya lalui dengan dzikir dan pasrah padaNYA.

22.00
Usai melalui “siksaan” itu, bidan Rondang masuk dan mengukur tensi dan suhu tubuh saya lagi, setelah melepaskan alat2 CTG itu.
Dia lalu memperkenalkan saya pada suster Benti, yang saat itu memang jaga malam dan menggantikan tugas bidan Rondang malam itu,
karena Bidan Rondang sudah harus pulang, sebab esok pagi, dia akan bertugas lagi.
Ajie datang buat menemani kakang, sebelumnya dia sempat menengok saya dulu dan kami ngobrol2 lumayan seru, sampai akhirnya kakang menyetop obrolan kami
dan menyuruh saya untuk tidur. Saya harus cukup tidur. Mereka berdua keluar dari ruang pulih sadar. Saya sendirian lagi.

22.30
Suster Benti masuk dan membawa print out hasil CTG.
“Bu, ibu puasa mulai jam sebelas nanti, ya. Oya, ibu mau saya pesenin apa? Mau roti? ibu tadi sudah makan, kan? masih lapar?”
“oke, deh, roti.”
Suster Benti beranjak, tak lama balik lagi sambil membawa print out hasil CTG lagi. kali ini beserta alat infus.
“Bu, sekarang diinfus, ya…”
“Lho, katanya nanti pagi, sebelum operasi?” saya merinding, belum pernah diinfus, sih.
“Begini, bu, dari hasil CTG ini, ibu sudah kontraksi teratur. Sudah tiap 5 menit. ibu sudah mulai mules2, kan?
Nah, karena ibu besok mau operasi, dikhawatirkan kalo kontraksi ini dibiarkan nanti akan semakin sering.
masa mau operasi harus mules2? kan kasihan ibu…. Tadi saya sudah telpon dokter untuk laporin hasil CTG ini, katanya diinfus aja
buat meredakan kontraksi.”
Kontraksi rutin? Tiap 5 menit? Saya ga mules2.
“Saya ga mules, lho!”
“Wah, ibu kuat juga, ya. Padahal, lihat nih, kontraksinya lumayan tinggi dan rutin, lho!” suster Benti menunjukkan hasil print out CTG
Sebentar… katanya saya sudah kontraksi tiap 5 menit, tapi saya ga mules. Tadi sore, dokter tina juga bilang kalo saya sedang kontraksi. Kok saya ga mules2 kayak mau BAB gitu, sih?
Aneh… apa rasa sakit sedang dicabut dari permukaan kulit saya?
Akhirnya saya diinfus juga. Sebelumnya saya dipinjemin baju buat melahirkan dari RS. Batik hijau.

23.00
Saya mulai memejamkan mata. Udara dingin yang mengalir dari AC menambah stres. Di ruangan sebesar itu, saya sendirian, meskipun ada beberapa tempat tidur di situ.

24.00
Mata saya terbuka. Kebetulan suster Benti masuk untuk mengukur suhu tubuh dan tekanan darah saya lagi.
“Jam berapa, sus?”
“Jam 12, bu. Ibu mau kerai yang ini dibuka supaya ibu bisa lihat jam dengan mudah?”
saya mengangguk.
“Saya tinggal dulu, ya, bu.”
Saya kembali memejamkan mata.

01.00
Mata saya terbuka lagi. Ya Allah, 5 jam lagi….
sendirian. saya berusaha keras memejamkan mata.

02.00
Kenapa saya terbangun persis tiap satu jam sekali? Apa saya gelisah? Kali ini saya mendengar suara detak jantung bayi
yang sedang diperiksa via CTG di ruang lain. RUang pulih sadar memang berdekatan dengan ruang bersalin 1 dan 2.
Saya berusaha mengusir perasaan takut sambil membelai perut saya yang sedang aktif.
“Sebentar lagi, bunda akan ketemu kamu, nak…” gumam saya. Saya lalu tertidur kembali.

03.00
HIks, lagi-lagi saya terbangun. Kepala saya mulai terasa pusing. Saya kembali berusaha keras memejamkan mata dan terlelap.
Tapi, ada suster lain yang saya belum kenal, masuk. Dia mengukur tekanan darah dan suhu tubuh saya (lagi)

04.00
Yah, bangun lagi… eksekusi tinggal 2 jam lagi, niiiihhhh…
saya memutuskan untuk tidak tidur lagi. mulai baca2 al ma’tsurat dan komik juga. hehehe, lumayan buat ngusir ketegangan.

04.30
Suster Benti masuk dan bawa2 peral
atan gitu, deh. katanya dia mau bersihin badan saya.

tapi, sebelumnya dia pasang alat CTG di perut saya. Nah, inilah 30 menit terlama kedua saya.
Mendengarkan detak jantung bayi…..

05.00
Selesai dilepas alat CTG dan diperiksa hasilnya, saya mulai dibersihkan. Saya juga dikasih kesempatan buat shalat shubuh

05.25
Saya mulai pake baju operasi dan didorong keluar ruang pulih sadar. Ibu sudah datang ternyata. Berulang-ulang dia menciumi saya dan membelai kepala saya.
Tampak di wajahnya rasa cemas yang menggelayutinya. “Dzikir terus, ya, Mbak,” pesannya. Jadi tambah takut.
Ibu dan Fahmi mengikuti saya sampai ruang operasi, tapi terus diusir sama susternya. Jadi sedih. Padahal, saya butuh mereka buat menemani saya.
Saya tahu, operasi yang akan saya jalani sebentar lagi tidak membuat saya pingsan, karena biusnya bius lokal.

05.30
Ruang operasi itu kecil, banyak alat gede2. Pantesan aja, suami ga boleh ikutan nunggu di dalam ruang operasi. Tanpa ada dia aja, ruang operasi udah penuh.
Saya dipindah ke meja operasi yang emang cukup buat badan saya. Dua tangan saya diletakkan di alas dan dijepit. Kalo ga salah, dua-duanya buat alat pacu jantung deh.
Bidan Rondang sudah di dalam menyambut saya. Dia lalu membereskan alat2 operasi. berhubung kacamata ga saya pake, jadi ga kelihatan benda2 itu. Tapi pastinya ada gunting, pisau, dll, deh.
Saya juga mendengar ada seorang dokter cowok masuk. Ha? Dokter cowok???
“Pagi, Bu… Sudah siap?”
“Takuuuuuuutttt, dok…,” sahut saya.
“Tenang aja, Bu, banyak berdoa aja.”
Ga lama, ada suster endut yang kemudian diperkenalkan pada saya bernama suster Ririn masuk.
“Bu, nanti di punggung akan dimasukkin jarum sebesar rambut, ya…”
“Sakit, ga?”
“Ah, sakit sedikiiiiittt….”
Sebetulnya saya sudah pasrah dengan semua rasa sakit. Dari semalam sudah berapa jarum yang menyakiti tubuh saya. Apalagi saat itu, jarum infusan lumayan bikin tangan kemeng (linu).
Gak lama…
“Bu, ayo duduk… kakinya bersila, ya, Bu…”
Saya bangkit untuk duduk bersila di meja operasi.
“Bungkuk, Bu…”
Saya nggak ngerti harus membungkuk sebungkuk apa, tapi terus dikasih bantal.
“Peluk bantal ini aja, Bu…”
“sini, Bu, saya peluk, deh….” tiba2 suster Ririn yang endut itu memeluk saya.
Tepat saat dia memeluk saya, saya merasa punggung saya seperti digigit semut. Celekit-celekit.
“Tahan, ya, sayang, yaaa… sakit sedikit, kaaannn???” tanya suster Ririn.
Gak lama kemudian, saya merasa kaki saya kesemutan…
“Dokter, kaki saya kok kesemutan?” tanya saya.
“Gapapa, Bu, itu biusnya udah mulai bekerja. Ibu akan merasakan seperti itu sampai 3-4 jam mendatang…”
What?! Kesemutan 4 jam????
Lalu saya dibaringkan lagi. Kain penutup tubuh saya di bagian depan dibuka. Lampu operasi begitu dekat sekali dengan saya.
Andai mata saya tidak rabun, saya pasti bisa lihat jelas badan saya yang polos itu lewat lampu operasi.
Oh, My God….., tujuan saya cari dokter kandungan cewek kan bi
ar ga dilihat lelaki… ternyata, ujung2nya pas melahirkan malah ada dokter cowoknya juga….

Melihat saya menatap lampu operasi, sebuah tiang yang ada di samping meja operasi ditarik ke depan saya, lalu kain penutup badan saya digantung di situ.
Jadi, saya betul2 tidak bisa melihat proses operasi itu.

06.00
Saya mendengar suara dokter tina berkata,”jadi kita operasi, ya, bu..”
“Oh, dokter tina dah dateng, ya?” timpal saya.
“Nih, saya setor muka dulu, deh” saya melihat sosok dokter tina dengan pakaian operasi.
Ga lama, saya mendengar mereka ngobrol gitu deh.
Dokter Tatat di sebelah kepala kiri kepala saya berkata bahwa operasi sudah dimulai.
“Masih takut, Bu? Berdoa aja… dzikir atuh… eh, ibu muslim, kan?”
kok dia nanya begitu? udah jelas2 saya…
masya Allah… saya kan lagi dioperasi, pastinya ga tertutup apa2 atuh
jadi ga ketauan saya muslimah atau nggak… hiks…..
Dia menyentuh tangan saya yang sedang diinfus.
“Dok, itu linu, euy…”
“Kalo linu sekarang linu terus, lho…” terus dia menggoyang2 bagian tangan saya yang diinfus itu sehingga rasanya sangaat linu.
Tapi ga lama kemudian, rasa linu itu hilang. Jadi ga berasa apa2 malah… hehehehe….
selama operasi, suster ririn itu dikerjain ama dokter2 itu, deh… jadinya, selama operasi saya ketawa ketiwi…

06.18
saya mendengar suara tangis bayi di ruang itu. subhanallaah… is it my baby???
“bu, bayinya udah lahir…”, suara dokter tatat memecah rasa takjub saya.
“iya, dok, saya udah denger…”
“Pake kalung lagi…” lanjutnya.
“Wah, bu, gagah niiiih,” suara dokter tina membuat saya makin terharu…
air mata saya mengalir. bibir saya tak henti2nya mengucap hamdalah….
mulai detik ini, saya sudah jadi ibu……
bayi saya sudah bersih, diantarkan ke saya untuk saya cium. saya ga bisa lihat jelas wajahnya…
tapi saya merasakan banget hangat badannya….

06.30
saya didorong keluar dari ruang operasi dan dibawa kembali ke ruang pulih sadar. saya melihat wajah2 orang tersayang.
fahmi, ibu, bapak, emak juga dini (keponakan). ibu memeluk saya dan menciumi saya.
“selamat, ya, mbak… sekarang udah jadi ibu….”
berhubung saya udah disuntik tidur, saya jadi cuma mesem2 aja….
ga bisa ngerespon. apalagi semalem tidurnya ga bener. jadi saya teleeeerrrr banget….
di ruang pulih sadar, saya dibersihin, digantiin baju dan dipakein kerudung. lalu saya dibawa ke ruang rawat inap.

10.00
waktu saya dibawa ke ruang rawat, yang ngantar saya banyak. ada bu atin dan ade dilla, tetangga baik kami.
tapi, saya sedih banget, ternyata, ketika saya sudah di ruangan, semua yang ngantar saya diusir satpam. katanya karena sekarang lagi jam menyusui.
berhubung hari itu hari jumat, bapak akhirnya pulang duluan.

11.30
ibu masuk ke ruangan saya dan bilang kalo semuanya udah pulang, kecuali ibu dan emak. fahmi akan balik lagi setelah shalat jumat.
saya merasa lapaaaarrrrr sekali. kebetulan di meja sudah terhidang bubur sumsum. untuk pertama kalinya lagi, saya makan disuapin ibu.
terakhir disuapin ibu kapan, ya? lupa!

14.00
seorang office girl membangunkan saya dan menyodorkan tart black forest mini.
“Selamat hari ibu…,” katanya…
hehehe, biasanya saya yang ngucapin ke ibu, sekarang saya yang dapet ucapan ini…
makasih banget, ya Allah…

temen2 mulai curi2 nengok dari jam 15.00
temen2 kantor fahmi, temen2ku di pas, rekanan kantor fahmi… banyak deh…

18.00
bayi2 dianterin ke kamar untuk disusuin… but where’s my baby? kok dia ga dianterin ke saya?

bersambung ke bagian 3

maksudnya biar ga kepanjangan bacanyah… hehehehe

Advertisements

2 thoughts on “Jadi Ibu di Hari Ibu (bagian 2)

  1. estherlita said: wah asyik serasa baca diary…sambil kadang mataku berair juga…subhanallah. jadi inget ngelahirin Bamby juga sectio…

    kalo Bamby lahir normal mah gile ajeeee4,5 kilo!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s