Uncategorized

Jadi Ibu di Hari Ibu (bagian 3 – Tamat) hihihihi…. kesannya trilogi ^_^

sebelumnya bisa dilihat di bagian pertama lalu di bagian kedua

22.00
hape saya berbunyi. nomornya saya ga kenal. cewek. tapi orang tersebut mau bicara dengan fahmi.
berhubung saya lelah sekali, saya ga ambil pusing.
lalu, fahmi berdiri, bermaksud keluar.
“mau ke mana?”
“ke bawah, ke ruang bayi.”
“ada apa?”
“ga tau, disuruh ke sana.”
saya jadi mikir… jangan2 ini ada hubungannya dengan kenapa dia tidak pernah diantar ke kamar saya setelah 2 kali waktu menyusui berlalu.

23.00
fahmi balik ke ruangan saya.
“kenapa? anak kita kenapa?”
“….”
“kenapa?”
“….”
“kenapa???? jawab atuuuuuuuuuuuh!!!!”
“…dia harus diinfus…”
“kenapa dia harus diinfus???”
“karena dia ga mau dikasih susu…”
“ya kenapa juga dia ga dianterin ke sini? bayi2 lain pada dibawa ke ibunya, kok, anak kita nggak?”
aku ngelihat fahmi speechless. duh, ada apa, sih?!

“anak kita bukan di ruang bayi biasa. dia ada di perina. karena ada cairan di paru2 dan di lambungnya.
tadi itu dia puasa 12 jam. nah, setelah 12 jam, ternyata dia ga mau dikasih susu…”
“maksudnya di perina?”
“kayak icu gitu…”
what?!!!
“kenapa bisa ada cairan di paru2 ama di lambungnya?”
“dokternya bilang, karena dia ga melalui persalinan normal, jadi adaptasinya ga sedikit2.”
ah, aku ga ngerti ama penjelasan ama fahmi. soalnya, bayi temenku yang dilahirkan secara c-sectio juga ga kenapa2.
baik2 aja. pasti ada yang aneh.
“udah, kamu bobok aja… kamu jangan banyak pikiran biar cepet sembuh. kasian anak kita kalo kamunya banyak pikiran…”

huhuhuhuhuhu…. kenapa sih, bayiku?????


minggu pagi, 08.00
ibu sama emak datang. bawa apel berikut piring dan pisau… hihihihi….
“bu, ari2nya udah terima? masih bagus, ga?” tanya saya.
soalnya, fahmi baru bawa ari2 hari sabtu. hari jumat ga ada yang inget buat bawa ari2 pulang.
“bagus, kok, mbak. ga bau. tapi….”
“kenapa, bu?”
“sisa tali pusernya kok pendek banget, ya? kira2 segini deh…”
ibu menggerakkan dua jari telunjuknya untuk menunjukkan ukuran sisa tali puser yang ada di ari2. kira2 10 cm.
“pendek amat?”
“mungkin itu, mbak, alasan kamu harus dicaesar. terb
elit tali puser, pendek lagi tali pusernya…jadi dia ga bisa masuk ke panggul”

air mata saya kembali berlinang. saya membayangkan usaha bayi saya untuk berjuang mencapai rongga panggul. pastinya susah karena dia terbelit tali puser yang pendek.
dan itu juga menjawab keheranan saya, kenapa saya bukannya merasa mulas pada saat kontraksi, ya?
tapi, saya ingat, bahwa merasakan sesak nafas yang teramat sangat ketika perut mengeras. Apa itu kontraksi?
dan mungkin itu juga alasannya kenapa bayi saya menginap di perina…

minggu malem.
mulai belajar jalan. waddaaawwwwww… sakit banget, yaaa???
dari tempat tidur menuju kamar mandi aja butuh waktu setengah jam! padahal jaraknya cuma 4 meter!
berdiri duduk. jalan duduk. gitu terus. untung fahmi hampir 24 jam nemenin di RS, jadi ya dituntun fahmi.
alhamdulillaah, fahmi sabar banget ngadepin saya yang kayak gitu, juga anak yang lagi dirawat di perina.
dengan tabah dia motretin dan shoot beberapa adegan perilaku anak saya di ruang perina, khusus untuk diperlihatkan pada saya.

senin, 25 desember 2006
keluarga di garut menjemput saya di rumah sakit. saya berharap bisa ketemu bayi saya dan membawanya pulang.
tapi, waktu saya sudah sampai di perina, susternya bilang kalo ilman bilirubinnya 10.4 di batas kuning, jadi daripada kuning mendingan diterapi sinar aja.
so, saya dan keluarga dari garut juga dengan bapak ibu pulang tanpa ilman.
saya belajar menyusui secara langsung, setelah sebelumnya, asi yang didapat ilman adalah hasil pompaan.
tapi, ilman baru aja mimik… jadi dia merem aja, tidur. duh, saya merasa sangat frustasi….
malam itu, saya merasa gundah. rasanya, sakit bekas operasi sedemikian terasanya. tiba2 saya menangis, ga tau kenapa.
mungkin, harusnya saya sudah merasakan keberadaan ilman di rumah, tapi ilman masih di rumah sakit….

selasa, 26 desember 2006
fahmi telpon dari rs, katanya bilirubin ilman sudah 4,32. berarti ilman sudah boleh pulang! horeeee!!!
saya nunggu ilman di rumah. yang jemput ilman, fahmi, ibu dan bapak.
waktu denger suara taksi berhenti di depan rumah, jantung saya berdebar2 keras sekali.
horeeeeeeeeeeee!!! saya bisa sepuasnya memeluk dan menciumi anak saya sendiri!!!!
itulah pertama kalinya saya bener2 merasa jadi ibu…..

tamat


tapi cerita ga selesai sampai di sini…. hehehe

Advertisements

8 thoughts on “Jadi Ibu di Hari Ibu (bagian 3 – Tamat) hihihihi…. kesannya trilogi ^_^

  1. p3n1 said: so, saya dan keluarga dari garut juga dengan bapak ibu pulang tanpa ilman.saya belajar menyusui secara langsung, setelah sebelumnya, asi yang didapat ilman adalah hasil pompaan.tapi, ilman baru aja mimik… jadi dia merem aja, tidur. duh, saya merasa sangat frustasi….

    Yaa..ah… “menghela nafas lega” akhirnya trilogi di tamatkan. Next, mesti cerita baru.btw, aku kok gak mudeng maksud kata-kata diatas itu ya…?

  2. oomdiet said: btw, aku kok gak mudeng maksud kata-kata diatas itu ya…?

    waktu mau pulang dari RS, keluarga dari garut dateng buat jemput kamisebelum pulang dari RS, peni sempet belajar nyusuin ilmantapi dia udah mimik duluan, jadi dia ga mau mimik lagiya frustasi lah, peni jadi kalah sama susu formula :((

  3. mbakari said: Sempat bikin diary juga, Peni? Atau seingatnya aja?

    iya, peni sempet nulis diarywaktu di RS, pas lagi ga ada yang nengoknulisnya di buku, soalnya kalo pake notebook, susah kalo pas baterainya habis

  4. mmlubis said: diary-nya juga mengendap selama tiga bulan ya? hebat T’ Peni, hehehe

    iya, mengendap selama itutapi tinggal copy paste aja bari sedikit diedit…hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s