Uncategorized

Emang, cuman istri atau anak doang yang bisa durhaka? Hah? Hah?

Susah buat cari kalimat yang lebih menyejukkan ketimbang yang di atas.
Udah kadung kesal, keuheul, gendok dan sebagainya.

Ceritanya, begini. Seorang temen baik dekat saya (XY, sebut saja dia begitu) sedang menghadapi sebuah masalah. Masalahnya ga bisa dibilang sepele, sih, secara, istrinya (XX, mendingan kita sebut begitu juga) meminta untuk mengakhiri hubungan mereka sebagai suami dan istri. Dan XX memilih buat membesarkan si kecil sendiri tanpa XY. Mau jadi single parent mungkin, yah…

Kalo dirunut, ceritanya ribet dan ga akan saya ungkapkan di sini. Selain saya kuatir ada miss komunikasi, miss pengertian dan miss miss lainnya, saya juga rada keberatan mengangkat permasalahan orang lain di dalam jurnal saya sendiri.


Tapi, yang ingin saya ceritakan di sini adalah inti dari salah satu penyebab yang bikin XX ini minta pisah (mungkin) yaitu dia sudah kadung mendapat cap “istri durhaka” dari XY. Halus atau kasar. Langsung atau nggak. Tapi, dari yang saya baca, XX ini sangat memahami, bahwa suaminya sudah menganugerahinya gelar “istri durhaka”. Soalnya, XX ini sedemikian sakit hatinya, begitu pula orangtuanya terhadap XY. Sehingga mengeluarkan jurus-jurus kalo mau ketemu anak mereka, XY ini mesti menempuh berbagai macam birokrasi yang sungguh menyedihkan menurut saya.

Tapi, saya bisa ngerti, kenapa XX bisa semarah itu. Bukan tugas XY sebagai suami untuk menganugerahi gelar “durhaka” pada istri atau anaknya. Bukan. Tugas dia sebagai suami adalah membimbing istrinya menuju kebaikan. Soal durhaka atau nggak, itu biar Allah saja yang menilai.

Saya berusaha kasih tau sama XY, bahwa sikap dia kurang tepat. Eh, si XY malah bales, coba kamu tanya sama suami kamu, kalo dia dapet istri dengan kelakuan yang sama. Bla..bla..bla… Saya tetap pada pendirian saya, bahwa suami atau orangtua ga boleh mencap istri atau anak mereka durhaka. Ga boleh.

Malamnya, saya langsung tanya sama pa-il (gelar yang diberikan om kucluk kepada papanya ilman, yang artinya papa-ilman-> dibahas?
).
“Papa, boleh, ga, sih, suami ngasih stempel ‘durhaka’ ke istri?”
Pa-il langsung jawab,”ya, nggak boleh atuh! Emangnya suami ga bisa durhaka? Itu bukan tugas suami buat kasih stempel begituan. Tugas suami mah ngebimbing istrinya.”
Pa-il emang ga nerusin kalimatnya. Tapi, dari nada cara dia berbicara, saya tau, dia marah banget kalo sampai ada suami yang begitu. Untung saja, saya ga cerita siapa yang jadi objek cerita.

Trus, saya bertanya juga sama pakdenya ilman. Pakde bilang, iya, ga berhak suami ngasih stempel begitu ke istrinya. Karena, salah bisa ada di pihak mana saja. Bahkan, blio pun kasih contoh, Siti Asiyah yang membangkang dari suaminya, Fir’aun. Apakah itu bisa dikatakan sebagai “durhaka”? Nggak, kan? Karena Asiyah membangkang untuk menuju kebenaran.

Bukan tugas kita untuk kasih stempel durhaka pada anak atau istri. Sebagai suami, boleh jadi kalian para cowoks, juga bisa durhaka sama istri kalian, kalo kalian nggak bisa bimbing istri kalian biar bisa jadi bener. Secara, yah, istri tuh amanah. Bukan mainan yang bisa distempel seenak udel.

Tugas kalian adalah membenahi pasukan kalian (keluarga) jika ada yang keluar jalur. Membimbing pasukan kalian untuk berjuang bersama-sama menempuh bahtera kalian. Jika istri kalian ga bisa dibimbing, bersabarlah. Tetap bimbing istri kalian semampu kalian. Bukan tugas kalian yang kasih stempel durhaka. Saya percaya, istri kalian juga ga bodoh dan mereka tahu, bagaimana istri durhaka itu. Seharusnya, kalian bisa membuat istri kalian sadar sendiri kalo mereka telah berbuat durhaka. Intinya, ga mesti istri yang durhaka, suami juga bisa dan sangat mungkin. Suami juga manusia. Tempatnya salah dan lupa juga.

Sebagai orangtua, kita juga ga boleh mencap anak kita durhaka, apapun kenakalan mereka. Tugas kita memperbaiki akhlaq mereka, karena mereka adalah amanah, titipan buat kita sebagai orangtua. Selama kita hidup, itulah tugas kita. Dan bukan tugas kita kasih cap durhaka sama anak. Karena, kita juga bisa saja menjadi orangtua durhaka yang tidak bisa memenuhi kewajiban kita dalam memenuhi hak-hak anak-anak kita.

Khusus buat XY: pernikahan kalian baru seumur jagung, tega bener udah berani-beraninya kasih stempel ke istri sebagai istri durhaka. Coba, deh, kalo kamu rada-rada bijaksana atau memang bisa bimbing istrimu, tentu hal seperti ini ga perlu terjadi. Banyak intropeksi dan istighfar, yah, bro!!!

thanks to pa-il yang sudah banyak dukung istri tercintamu!

Advertisements

26 thoughts on “Emang, cuman istri atau anak doang yang bisa durhaka? Hah? Hah?

  1. p3n1 said: saya kuatir ada miss komunikasi, miss pengertian dan miss miss lainnya

    ada… ada miss penerjemah di sini, hihihihii…ah, teh peni.. ga cuman suami yang mengecap istri kok. semua orang punya kebiasaan buat menghakimi dan memberi cap pada orang lain. padahal kan, tahu apa kamu? hah? hah?

  2. roelworks said: Iya,lah dijawab nggak kalo di jawab iya bisa terjadi pertumpahan darah …*kabur*

    *tarik leher bang Roel pake payungnya Profesor Kalkulus*

  3. hegghhhghhghhhh …setuju tidak boleh ngecap …tapi point-point untuk memenuhi kriteria durhaka sudah jelas bukan, itupun selalu diawali dengan…asal tidak bertentangan dengan ajaran/perintah Allah SwT. Mungkin masalahnya cuman komunikasi

  4. antie said: ada… ada miss penerjemah di sini, hihihihii…ah, teh peni.. ga cuman suami yang mengecap istri kok. semua orang punya kebiasaan buat menghakimi dan memberi cap pada orang lain. padahal kan, tahu apa kamu? hah? hah?

    hai, miss penerjemah iya, kau benar… kebiasaan semua orang bawa stempel…

  5. sepakat. kalo emang kesel sama kelakuan istri, harusnya introspeksi. lagian kan suami nantinya ikut menanggung kesalahan anak dan istri, karena tugas suami adalah membimbing mereka. hmm … kalo memang bener ada, saya termasuk suami durhaka itu kali ya.tapi saya kurang sepakat dengan penamaan XX dan XY, sepertinya kebalik deh. harusnya laki-lakinya XX dan perempuan XY. tapi ga tau juga sih, saya udah ga inget pelajaran tentang kromosom :p

  6. 13thproduction said: kok gambarnya gak keluar…………..emang susah jadi manusia………….he he he he he he

    iyah, aneh, ga bisa keluar… yo wis lah, tak hapus saja… tapi, jadi kucing juga ga enak, lho, tref…

  7. roelworks said: setuju tidak boleh ngecap …tapi point-point untuk memenuhi kriteria durhaka sudah jelas bukan, itupun selalu diawali dengan…asal tidak bertentangan dengan ajaran/perintah Allah SwT. Mungkin masalahnya cuman komunikasi

    untuk kasus XX dan XY ini: mereka tau tentang kriteria durhaka, bangjadi, XX ini juga sudah tau apa itu durhaka ke suamicuma, mungkin masalahnya ada di miss komunikasi ituu*melepaskan tongkat Profesor Kalkulus dari leher bang Roel*

  8. sireno said: tapi saya kurang sepakat dengan penamaan XX dan XY, sepertinya kebalik deh. harusnya laki-lakinya XX dan perempuan XY. tapi ga tau juga sih, saya udah ga inget pelajaran tentang kromosom :p

    nggak, kok, benerpanan saya pas SMA di kelas biologi jadi tiap hari ngagugulung kromosom XX dan XYhanya itu yang masih menyisa jadi anak biologi teh

  9. kenapa mesti ada cap-cap seperti itu? Coba ingat2 saat cinta masih membara. Saat deg-degannya, debar-debarnya……oh..ternyata cinta bisa juga menguap 😦 *meracau*

  10. mamahanna said: ini mah kaya kasusnya Dhani Ahmad ama Maia dunk….GRRRRRRRR

    apa lagi jadi tren, yah?soalnya, setau saya, si XX ama si XY ini berseteru udah lama, sebelum kasus dua selebritis mencuat…

  11. perca said: kenapa mesti ada cap-cap seperti itu? Coba ingat2 saat cinta masih membara. Saat deg-degannya, debar-debarnya……oh..ternyata cinta bisa juga menguap 😦 *meracau*

    ya, cinta bisa saja menguap seandainya tidak diberi lotion anti penguapan *meracau juga*

  12. mmlubis said: **sudah, saya mah komentar itu aja T’ Peni, lagi gatal-gatal sekujur tubuh soalnya hihi**

    kau baik2 saja??? wah, padahal saya udah mau kirim tugas buatmu, looohhh!!!!

  13. p3n1 said: kau baik2 saja??? wah, padahal saya udah mau kirim tugas buatmu, looohhh!!!!

    udah lebih mendingan t’ peni, tapi kaya’nya malah kena tampek (? saya juga binun). ararateul sekujur tubuh udah 2 hari, panas, minum ctm & claritin berapa kali juga masih nteu mempan. dulu t’ peni gejalanya begini juga nggak?

  14. mmlubis said: udah lebih mendingan t’ peni, tapi kaya’nya malah kena tampek (? saya juga binun). ararateul sekujur tubuh udah 2 hari, panas, minum ctm & claritin berapa kali juga masih nteu mempan. dulu t’ peni gejalanya begini juga nggak?

    nggak, nggak begitutanpa ararateul…demam tinggi sampe 39.8 C, trus ada totol2 merah kayak di totol2 pake spidol merah di sekitar wajah dan leher, kemudian merah semuanya, kayak cepot udah gitu nambah totol2 di sekitar tangan dan lainnya

  15. revinaoctavianitadr said: aduh … aduh … siapa to yang dimaksud, Pen? Kok ya ada yang tega2nya bersikap begitu ke istri? Idih banget, deh! Dan nggak banget laaah …

    temen saya, Mbak…makanya saya jadi ikutan pusing….

  16. memang bukan hak suami memberi gelar durhaka kepada istri. tapi apabila segala upaya telah dikerahkan untuk membimbing sang istri tetapi sang istri tetap membangkang dan malah menuntut cerai karena tidak mau menegakan syariat agama, apakah itu tidak bisa dikategorikan istri durhaka. misal jika suami menyuruh sembahyang atau melakukan hal2 kabaikan dan ibadah rumah tangga, akan tetapi karena ego sang istri tidak mau menjalannkannya apakah benar juga tindakan sang istri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s