Uncategorized

Jangan Pernah Bilang “I don’t Like Monday”

Quote of the day: “Ucapanmu kerap memengaruhi ‘nasib’mu hari ini!” Hahahahahaha….

Siapa sih, yang suka Senin? Hahahahaha…
Buat saya, hari Senin berarti kembali ke rutinitas harian 8-7, Senin sampe Jumat, dengan segala “keindahannya” dan harus melepas kenikmatan 24 jam bersama Ilman.
Tapi, ini kan pilihan. Saya sendiri yang memilih buat masuk ke jurang rutinitas harian 8-7. Jadi, inilah resikonya. Kehilangan kenikmatan 24 jam bersama Ilman.

Setiap pilihan emang selalu ada resikonya. Tapi, saya harap, semua resiko yang saya ambil ini, memang ada nilainya. Bukan sekadar nilai materi yang sepadan, melainkan nilai yang bisa saya pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. That’s the most important.

Senin minggu lalu, saya menghadapi “I don’t like Monday” fever. Saya ga punya rencana apa-apa. Malas menjalani hari. Tidak bersemangat. Nggak tahu mesti ngapain. Perasaan yang menyelimuti saya hanyalah: kesal, tidak berdaya, tidak tahu mau ngapain.
Saking bingungnya menghadapi diri saya ini, saya lalu sms papa ilman dengan kalimat: “Papa, bunda kenapa, ya?”

Cukup lama sms itu tak berbalas. Saya pikir, ya, sudahlah. Mungkin saya harus bisa mengatasi ini sendiri. Saya berusaha “menyenangkan” diri saya sendiri, dengan memasang status “I don’t like Monday” di YM.
Lalu, saya mencoba mengalihkan mood saya dengan browsing-browsing font yang lucu-lucu, artikel lucu-lucu, game lucu-lucu. Sayangnya, it didn’t work. Mood saya tetap tidak membaik.

Di tengah keasyikan saya mencari hiburan tersebut, tiba-tiba, ponsel saya berbunyi dengan suara tertawa Ilman sewaktu dia baru berusia empat bulan. Artinya, papa ilman yang menelepon.
“Ya, Pa?” sahut saya.
“Bunda teh kenapa?” tanyanya.
Euuuuu…. orang saya nanya ke dia, malah dibales nanya. Gimana, sih?
“Ya, Bunda juga ga tau, makanya tanya ke Papa…”
“Yey, kan, Bunda yang ngerasain… Emangnya Bunda kenapa? Apa yang Bunda rasain?”
“YM papa nyala, ga? Lagi meeting, ga?” —> Perlu ditanyakan, karena saya terbiasa lebih mudah mengekspresikan perasaan saya lewat tulisan, ketimbang dengan suara. Lebih secure, karena ga ada yang curi dengar. Dan saya harus tau, papa ilman lagi meeting apa nggak. Hehehehe. biar ga kejebak kayak cerita di sini.
“YM papa nyala, kok. Nggak lagi meeting juga.”
“Oke, kalo gitu ntar bunda tulis di YM aja, deh!”

Tumpah ruahlah keluh kesah saya di YM padanya. Ujungnya, dia mengajak saya makan siang bareng.
Wew… sebenernya bukan ini, sih, yang saya inginkan. Karena, sudah pasti, kami akan saling diam. Tapi, saya ingin menghargai usahanya menghibur saya.
Sudah pasti, kami pasti bingung mau makan di mana. Lagipula, mood rusak ini, bener-bener memengaruhi selera makan, bok! Setelah papa ilman datang, akhirnya saya memutuskan untuk menuruti keinginannya: makan timbel di Istiqomah.

Setelah saya dan mister kakang mendapatkan nasi dan lauk kami masing-masing, kami pun mencari tempat.
Dan di sinilah “kesialan” yang memengaruhi mood saya menjadi semakin memburuk:
1. Di hadapan kami, duduklah sepasang gay yang sedang ngobrol mesra dan menurut saya sangat menyebalkan. Mood baik saya yang tersisa 30% langsung drop menjadi 15%. Kalo di game dinner dash mah, bar hati sudah tinggal 2 dari 5.
Untunglah mereka sudah selesai makan, sehingga mereka tidak lama lagi berada di hadapan saya.
2. Setelah si pasangan ini pergi, saya merasa ada yang memandang ke arah kami. Waktu saya melihat ke arah di mana saya merasa dipandangi, ya, ternyata ada seorang waria sedang memandangi kami. Apa suami saya yang ganteng itu menarik perhatiannya? Sialan! Saya lalu memandangi mister kakang yang masih asyik makan. Oke, berarti dia ga terpengaruh! Yes! Suami saya normal, kok! Hahahahahahaha!
Tapi, terus terang, dengan dipandangi si waria saya ini, mood baik saya yang tadi sudah drop jadi 15%, semakin drop ke angka 5%! Ya, kalo di game dinner dash, bar hati saya menjadi 1.
3. Rasa nasi merah yang saya makan semakin anyep dan saya nyaris muntah! Pasti ini karena bar hati saya tinggal satu. Hujan deras tiba-tiba turun! Tempias air hujan dari kanan kiri tenda, ditambah atap tenda yang ternyata bocor sehingga air mengucur ke meja tempat saya makan, menambah penderitaan saya. Bagooooossss!!! Sekarang mood baik saya menjadi 0, seiring dengan bar hati yang juga menjadi kosong!

Kalo di game dinner dash, pengunjung dengan hati 0, langsung kabur dan ga mau bayar. Sialnya, saya nggak bisa begitu. Terjebak hujan deras dan untungnya, saya masih punya rasa malu kalo nggak mau bayar mah. Dan saya kan baik hati Lagian, sebetulnya, dari awal, ini ga ada hubungan dengan pelayanan si teteh timbel. Walau emang, tenda bocor ini kemudian ikut berperan dalam hilangnya mood saya.

Makan siang itu ga saya habiskan, pada akhirnya. Sudah terlanjur mual dan malas melanjutkannya. Maafin saya, ya Allah…

Akhirnya, kami pun menanti hujan sampai betul-betul reda, karena kami tidak mau hujan-hujanan, karena kami sama-sama belum fit bener. Hujan reda, balik ke kantor, kakang juga. Dan mood tetap di 0.

Saya memutuskan untuk pulang cepat, karena saya sudah tidak berkonsentrasi lagi. Pulang cepat di sini, maksudnya sebelum maghrib

Petualangan bad mood itu berakhir di rumah. Memeluk Ilman yang begitu warm dan menyenangkan….

Saya lalu memutuskan untuk tidak membenci hari apapun juga dan mencoba menjalani hari apapun dengan ceria…..

Advertisements

22 thoughts on “Jangan Pernah Bilang “I don’t Like Monday”

  1. dwakkary said: coba dijalani dengan ikhlas, susah memang… tapi kan bisa berasa lebih enteng

    setuju! iya, saya merasa susah payah… tapi, ya, itu, kalo udah menyatakan bete duluan, malah nemu yang aneh-aneh, dehhh

  2. perca said: aku sih selalu bilang “i like monday”, karena kan senin hari liburku hehehe

    wah… sungguh menyenangkan, yia-yia….lalu, bagaimana dengan hari lainnya?

  3. kalau di Ad bukan I hate Monday tapi I hate Sunday… hehehehya pas kita niatkan I hte lalu diamin kan oleh malaikat ya bakalan bad mood deh…sebetulnya kalau kita riang bir ada gay atau waria atau hujan kan tetep enteng ajah…emang mood kadang bikin kita gak keruan tapi juga sulit dikendalikan..manusiawi seh sebetulnya asal jangan kelamaan ajah. Bisa ngerusak suasana soale.

  4. estherlita said: emang mood kadang bikin kita gak keruan tapi juga sulit dikendalikan..manusiawi seh sebetulnya asal jangan kelamaan ajah. Bisa ngerusak suasana soale.

    iya, Tante! betul! sama halnya ketika Multply ini diblok sama ISP di siniwaaa… kesal sekali…

  5. akuhanif said: haduh moodnya disamain ama diner dash hahahahahaha *aku mentok di resto kedua level 10 euy, kebanyakan pengunjung yang kabur hahahahaha*

    dinner dash yang mana, nih, bu?kalo aku dinner dash 1 dan 2 tamattapi, dinner dash Flo on The Go mentok di resto ke lima level 4 sementara yang edisi Safari itu, belum pindah resto, masih stuck di level 6

  6. iwanaries said: hahahaha…. lutju… lutju….

    tapi aku masih terkenang akan kisahmu waktu tanganmu digandeng seorang cowok sepulang nonton, loh!

  7. p3n1 said: tapi aku masih terkenang akan kisahmu waktu tanganmu digandeng seorang cowok sepulang nonton, loh!

    beda doooongg…itu karena aku jalan di deket ceweknya, dan tanganku yang melenggang santai dipikir tangan ceweknya. lagian emang tempatnya masih gelap kok.itu pun ngga sampe digandeng lagi…:P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s