Uncategorized

Children Learn What They Live (ngutip judul tulisan Dorothy Law Nolte, Ph.D.)

Suatu hari, seorang teman mengeluhkan tentang anak perempuannya yang berusia tiga tahun, selanjutnya kita sebut Fira, dicolek-colek teman laki-laki di atas usianya. Let’s say, anak laki-laki ini usia SD, kelas 1, sebut saja namanya Ipul.

note: namanya sengaja saya ganti, untuk menghormati masing-masing orangtua dari anak tersebut. Mohon maaf apabila ada yang nama anaknya terpakai. Hihihi….

Teman saya bilang, dia pikir, si Ipul nggak sengaja nepuk paha Fira. Tapi, ketika diawasi, Ipul kemudian menepuk pinggang Fira. Teman saya belum bereaksi, karena dia masih berpikir, Ipul bermaksud mengajak ngobrol Fira.

Yang membuat teman saya kemudian berpikir bahwa Ipul sengaja, adalah ketika kedua tangan Ipul memegang kepala Fira dan menyentuh dahinya dengan dahi Ipul sendiri. Di situ, teman saya lalu beraksi dan memanggil nama Ipul.
“Ipul! Nggak boleh pegang-pegang Fira!”

Untuk selanjutnya, Fira diwanti-wanti teman saya untuk bereaksi jika siapapun, anak laki-laki, berusaha pegang-pegang dia. Ya, saya paham dan mengerti maksud teman saya. Anak-anak memang belum mengerti.

Tapi, saya tahu, Ipul sedang memasuki fase eksplorasi seksual. Tambahan lagi, Ipul adalah produk sinetron, di mana sang ibu, kerap menonton sinetron (yang bikin geuleuh, yah, sinetronnya tuh sinetron sejenis siluman dan ada adegan-adegan mesum gitu, deh), bersama anaknya. Yang bikin sebal lagi, ibu Ipul ini kadang berdiskusi kecil tentang sinetron ini! Wew! Dan satu hal lagi, Ipul tumbuh besar di dalam lingkungan yang terdiri dari orang-orang dewasa yang sayangnya sikap satu sama lain tidak pernah memperhatikan kaidah-kaidah muhrim non muhrim. Main peluk, main towel-towel atau ngomong jorok, tanpa memperhatikan bahwa di sekitar mereka ada anak kecil. Ya si Ipul itu!

Dalam kasus Ipul ini, saat dia memang sedang dalam fase eksplorasi seksual, dia mendapat stimulasi dari lingkungannya yang bebas-bebas aja. Jangan lupa, anak adalah peniru ulung. Dia akan mudah menyerap apa yang dilakukan orang dewasa dan menirunya. Itu sebabnya, kenapa bertebaran anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual atau kekerasan fisik. Sebab, dia mencerna dengan baik input dari yang dilihat dan didengarnya.

Itu sebabnya, saya suka sebal, jika sedang mentoring adik-adik PAS di Taman Ganesha, adaaaa saja, pasangan-pasangan belum menikah yang asyik pacaran di situ. Bukan sirik, karena itu bukan tempat yang tepat buat pacaran! Dan saya sebal, jika ada orang dewasa yang ngomong jorok, porno, ketika ada anak-anak di sekitarnya. Sebab, anak akan belajar dari contoh itu.

Contoh lain, Jelita, anak tetangga saya yang usianya 3 tahun juga, dia selalu marah dan membentak orang lain yang berusaha ramah pada Ilman, putra saya (1.5 tahun). “Jangan pegang!” bentaknya. Dia jarang sekali bisa bersikap ramah, karena dia memang sering dimarahi omanya. Walaupun sang oma sering memanggilnya dengan panggilan “cantik” atau apalah. Karena dia sering mendapat perlakuan kasar, dia juga jadi kasar. Saya paling takut kalo dia memperlakukan Ilman begitu, karena selain Ilman akan tersakiti, Ilman juga akan belajar perlakuan kasar darinya.

Sejak saya bersentuhan dengan dunia anak-anak, saya lalu berkomitmen untuk anak-anak. Ya, saya selalu jatuh cinta dengan dunia anak-anak, dengan segala kepolosan mereka.

Saya belajar juga, bahwa anak-anak BUKAN miniatur orang dewasa, walau anak-anak juga bukan raja.

Tulisan di angkot yang pernah ditulis Nyi Romlah di sini, TONG 1000 LIGIR CAN 1000 DAK, walau tampak iseng, sebetulnya merupakan pesan atas kehati-hatian dalam bertingkah laku di depan anak-anak.

Rasulullaah SAW juga mencintai anak-anak. Ketika beliau shalat, cucu-cucunya naik ke punggungnya untuk main kuda-kudaan, beliau memperpanjang sujudnya. Selain untuk memberi kesempatan kepada cucu-cucunya menikmati naik kuda-kudaan, beliau juga bisa memperpanjang doa dalam sujud. Atau Rasulullaah SAW pernah menggendong bayi yang kemudian pipis di pakaiannya dan si bayi itu direbut oleh ibunya karena malu bayinya pipis di pakaian Rasulullaah SAW, beliau malah mengatakan,”noda kencing bisa dibersihkan dengan air, tapi noda di hati anak, sulit dibersihkan.” (tolong perbaiki kalimat ini, saya lupa kalimat lengkapnya).

Intinya, Rasulullaah SAW juga mencontohkan kita untuk menghargai anak-anak. Memberi teladan pada anak-anak. Tidak hanya anak kita sendiri, tapi juga pada anak yang bukan anak kita.

Anak-anak akan belajar kurang ajar jika kita memperlakukan mereka kurang ajar. Anak-anak akan belajar tidak menghargai orang lain, jika ia tidak pernah dihargai. Penghargaan sekecil apapun, penting buat kita, apalagi buat anak-anak. Walau mereka bukan miniatur orang dewasa, kelak mereka akan menjadi orang dewasa dan menggantikan peran kita.

Ayo, mulai sekarang kita belajar memberi teladan buat anak-anak! Hati-hati dalam memaksakan kehendak kita pada anak-anak. Jangan pernah menerapkan pada anak-anak yang membantu kita bekerja bahwa mereka bekerja pada kita. Sekalipun mereka dibayar oleh kita. Mereka sedang belajar, bukan bekerja.

Jangan samakan anak-anak dengan kita, karena anak berbeda dengan kita…

note: puisi diambil dari sini
dan desain artistiknya dibuat oleh p3n1

Advertisements

14 thoughts on “Children Learn What They Live (ngutip judul tulisan Dorothy Law Nolte, Ph.D.)

  1. Yup, mari berbuat baik pada anak-anak, karena mereka adalah masa depan kita, cieeehhhh…. Semoga anak-anak kita pun selamat dari segala ancaman dan marabahaya, apakah penculikan, pelecehan seksual, narkoba, tontonan porno, maupun bullying di sekolah, dan lain-lain. Aduh ngeri amat jadi orang tua jaman sekarang

  2. nikhanz said: sepakat sekali. anak adalah amanah Allah yang nanti akan diminta pertanggung jawaban kelak di yaumil hisab

    iya…. berat juga emang… tapi ya itu, mereka kan bakalan jadi pengganti kita kelak!

  3. p3n1 said: Tulisan di angkot yang pernah ditulis Nyi Romlah di sini, TONG 1000 LIGIR CAN 1000 DAK, walau tampak iseng, sebetulnya merupakan pesan atas kehati-hatian dalam bertingkah laku di depan anak-anak.

    berarti sopir atau kenek yang nulis ini keren ya, menampilkan pesan “mendidik”, tapi membuat senyum dikulum, hihiiii

  4. mmlubis said: berarti sopir atau kenek yang nulis ini keren ya, menampilkan pesan “mendidik”, tapi membuat senyum dikulum, hihiiii

    yap yap yap! pesan itu betul-betul mendidik walau tampak iseng… dan membuat kita senyam senyum

  5. fitrasoka said: Jaman entar mah urusan anak-anak kita, huihihihihihi

    waduuuh… itu pan menyangkut masa depan cucu kita juga…*apa, sih? hihihi*

  6. evfar said: wah ternyata harus banyak belajar ya untuk memberi teladan pada anak.. meski kita pernah jadi anak-anak…:)

    semoga waktu kita masih anak-anak nggak sempet jadi anak yang ‘kokolot begog’.. hahaha… haduh, bahasanya!tapi, emang, kok, meski kita pernah jadi anak-anak, kadang kita lupa, bahwa kita pun dulu peniru ulung… hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s