Uncategorized

Ketika Bapak Jatuh

Hari Sabtu lalu (13 September 2008), bapak terjatuh dari tangga bambu, yang dalam bahasa Sunda istilahnya taraje, ketika sedang mencat plafon teras rumah kami.

Ketika kejadian, bapak sedang seorang diri di lantai bawah. Sementara saya dan ilman sedang ada di kamar kami, ibu di dapur, Jodi di kamarnya, Astri dan Ica sedang di kamar Ica yang kesemuanya berada di lantai atas.

Padahal, lima menit sebelumnya, saya dan ilman masih berada di sekitar bapak di bawah. Saya menemani ilman yang sedang main sama empus. Tapi, karena dia makin menjahili para empus itu, saya kuatir ntar ilman dicakar, walau sebetulnya, sejail apapun ilman pada para empus, mereka nggak pernah mencakar ilman secuil pun, saya langsung ajak Ilman ke atas, itupun pake meronta.

Lima menit saya dan Ilman ada di kamar, tiba-tiba kami mendengar suara BRUK yang sangat keras. Dalam bayangan saya, pasti bapak jatuh. Dalam keadaan panik, saya berteriak menyuruh Jodi yang sudah spontan keluar kamar untuk turun. Jodi lari ke bawah dan dia langsung berteriak,”Bu!! Bapak jatuh!!!”
Saya teriak balik, karena Ilman masih ute-ute (telanjang maksudnya – sedang saya gantikan pakaiannya),”Ade, tolongin Bapak, dong!”
Jodi malah teriak balik,”Takuuuttt!!!”

Ibu sudah di bawah dan berteriak juga. Astri dan Ica yang tampaknya tidur, langsung lari ke bawah. Selesai memakaikan Ilman baju, saya langsung gendong Ilman dan lari ke bawah, tetap Ilman pake meronta dulu. Saya mendapati bapak sudah digotong ibu, Astri dan Ica bertiga (ga tau dari mana mereka bisa dapet tenaga sebesar itu) dan bapak didudukkan dulu di kursi lipat. Ketika saya sampai lantai bawah, Astri sedang melap luka di kepala bapak. Tampaknya sobek, karena darah lumayan banyak. Lutut saya lemas seketika, padahal Ilman masih meronta. Sedapatnya, saya ambil karpet gulung dan meminta bapak berbaring. Kebetulan ada bude Iwis datang, jadi dia bisa minta pembokatnya untuk ambil salep buat luka seperti itu.

Saya raba tubuh bapak, dingiiiin sekali. Mungkin bapak masih shock.
Saat kejadian, mister kakang sedang ngantor (kepaksa lembur di hari Sabtu, sebab ada pengiriman barang). Karena panik, saya langsung telpon dia untuk segera pulang. Walau saya tahu, dia lagi hectic di kantornya, saya ga peduli. Seluruh badan kami gemetar. Kami ga berani membayangkan what next.

Nggak lama, bapak bergerak dan bilang kepalanya sakit. Sepertinya bapak jatuh terjun bebas, tubuhnya menimpa ember sampai betul-betul hancur dan tersiram air dari ember. Walau degdegan, kami lega, bapak sudah sadar, bahkan sudah bisa cerita bagaimana beliau bisa jatuh. Tapi, pas kejadian, beliau ga tau karena semuanya gelap.

Saya memaksa bapak buat periksa ke dokter, tapi bapak keukeuh bilang, “nggak apa-apa” yang kemudian dibuktikan setelah sekitar 2 jam dari kejadian, bapak jalan keluar…

Sudah 7 hari berlalu, perkembangan bapak sudah pesat. Bahkan, hari Rabu, saya mendapati bapak sudah mencat plafon teras, di tempat jatuhnya kemarin. Alhamdulillaah… segala puji hanya bagi Allah…

Ada banyak hal yang saya dapat ambil hikmahnya dalam kejadian ini:
1. Bahwa Allah sangat mudah membolak-balikkan keadaan, 1 menit sebelum kejadian, kami masih tertawa-tawa melihat kelakuan kocak Ilman
2. Penting banget buat kita untuk memahami P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)
3. Sudah waktunya kita harus selalu mengingat Allah. Mungkin ini peringatan buat kami, bahwa kapan aja Allah bisa mengambil nyawa kita. Bayangkan, jika Allah mengambil nyawa kita dalam kedaan kita berbuat maksiat.
4. Menyadarkan saya untuk lebih banyak berbakti dan menghindari menyakiti hati bapak ibu
dan masih banyak lagi yang masih dalam perenungan saya

sudah seminggu berlalu, tapi badan saya masih gemetar setiap mengingat kejadian itu. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita semua….


Advertisements

22 thoughts on “Ketika Bapak Jatuh

  1. lovusa said: k, ada baiknya diperiksakan aja. ngecek keseluruhan dan biar lebih yakin tentang kondisi bapak.semoga ngga ada apa-apa dan ngga terulang lagi ya …..

    aamiin.. ma kasih, gita…aku dah maksa-maksa Bapak, hasilnya masih bilang,”nggak apa-apa” terus…k gita dah orang ke sekian yang nyuruh aku bawa bapak ke dokter…. dan reaksi bapak masih gitu terus hiks….

  2. linalathifa said: fiuh.. meni tegang. setuju ma k gita, coba dicek dulu k, bisi ada yg ga kliatan. smg baik2 aja yaa…

    iyah… tapi ya gitu, deh… kami masih harus bekerja keras buat membujuk bapak…

  3. ezrakarundeng said: Iya say, periksain dulu deh semuanya.Kalo orangtua kan suka gitu ya bilangnya nggak apa2 terus. Semogabeneran nggak ada apa-apa ya.

    aamiin… ma kasih doanya, bu… mmmuuaahh!!!besok aku usahain bapak bisa periksa ke dokter…ma kasih buat dukungannya, yaaa….

  4. dwakkary said: insya allah Bapak selalu ada dalam lindungan_nya. amin. Iya Pen setuju sama temen-temen di atas, mendingan tetep Bapak diperiksa. semoga baik-baik aja yah

    aamiin… ma kasih buat doanya…hmm, iya, doain lagi, ya, semoga bapak mau diajak ke dokter…

  5. Alhamdulillah, bapak sudah kembali sehat.Kunaon atuh sudah seminggu baru share? Meureun Peninya juga masih gemeteran ya?.Mau nambah komentarnya Peni, pengetahuan P3K itu sangat-sangat-sangat perlu. Ya gak harus sampai semahir para perawat. Kalo ilmu P3K masih cetek banget (kayak oomdiet, kira-kira) yang penting mah jangan panik. Kalo panik, otak kita gak jalan. Otak gak jalan, kita jadi bingung mau ngapain. Saran oomdiet, coba sambil bercanda pijit-pijit sedikit beberapa daerah sendi. Kalau ada yang slek, misalnya, pasti bapak bereaksi. Nah, kalo sudah ketahuan begitu, itu jatah tukang urut yang kalo bisa tukang urut langganan keluarga. Suka urut gak sih?Teriring salam buat bapak dan keluarga. Semoga Allah selalu memberikan perlindungan dan kehidupan yang barokah. Amin.

  6. Syukurlah karena bapaknya ga apa2, tapi apa ga sebaiknya tetap diperiksakan ke dokter? Bersyukur ya bisa dekat dengan keluarga, beda dengan aku yang sangat jauh dengan ortuku…

  7. oomdiet said: Kunaon atuh sudah seminggu baru share? Meureun Peninya juga masih gemeteran ya?.Mau nambah komentarnya Peni, pengetahuan P3K itu sangat-sangat-sangat perlu. Ya gak harus sampai semahir para perawat. Kalo ilmu P3K masih cetek banget (kayak oomdiet, kira-kira) yang penting mah jangan panik. Kalo panik, otak kita gak jalan. Otak gak jalan, kita jadi bingung mau ngapain.

    iyah, masih ngadegdeg kalo mengingat itupas nulis ceritanya aja, lutut lemes lagi…betul, pak diet, kerasa banget pas kejadian, yang ada semua pada paniktapi untung astri lumayan cekatan dan kebetulan banget bude Iwis dan pembantunya dateng, jadi ada tenaga tambahan

  8. irmabuana said: Syukurlah karena bapaknya ga apa2, tapi apa ga sebaiknya tetap diperiksakan ke dokter?Bersyukur ya bisa dekat dengan keluarga, beda dengan aku yang sangat jauh dengan ortuku…

    masih susah dibujuk buat ke dokter, deh, bapak… hikss…waa.. iya, ya… irma di europe sono…lebaran ga mudik, dong?

  9. mbakari said: Bapak udah sembuh ya, Peni? Syukurlah. Moga2 dijauhkan dari bahaya, dan tetap sehat. Salam untuk Bapak, Ibu, Astri dan adik-adik semuanya. Peluk Ilman juga!

    alhamdulillaah, sudah sehat, Bulik…sudah beraktivitas ngecat lagi dan gendong ilmanaamiin,,, matur nuwun buat doanya…mudah-mudahan, november kita bisa ketemu, yaaa…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s