Uncategorized

Proklamasi Cinta #1

Ini sebuah kisah kasih di sekolah. Di mana tokoh utamanya adalah seorang cewek berusia 16 menuju 17 tahun, yang 14 tahun lalu itu kelas 2 SMA. Untuk selanjutnya, cewek ini kita namai cewek #1.

Alkisah, sejak kelas 1 SMA, cewek #1 selalu jadi objek penderita ketika ia melewati kelas seorang cowok -yang kemudian kita namai dengan cowok #1- yang seangkatan dengannya.
Setiap cewek #1 lewat kelasnya, pasti disorakin. Dan cowok #1, cuma bisa salah tingkah tiap cewek #1 berjalan melewati kelasnya. Padahal, nggak pernah ada firasat apalagi rasa suka yang tertanam di antara keduanya. Bahkan, entah skenario apa yang sedang disiapkan Tuhan, keduanya ber’jodoh’ di kelas bio dua. Maksudnya, mereka sama-sama ditampung di kelas bio dua.

Gosip tentang mereka di kelas 1 yang tadinya sudah akan di’putih’kan cewek #1, malah makin meledak. Karena ada oknum tidak bertanggung jawab lain kelas yang malah menyebarkan gosip tak benar ini. Dan begitulah, kemudian nasib bukan sepasang anak manusia yang sebetulnya nggak pernah saling suka ini kemudian selalu jadi subjek bahasan di kelas, manakala guru perlu subjek dalam menjelaskan sesuatu.
Terutama untuk mata pelajaran reproduksi, yang kalo di kelas biologi, pertemuannya lebih banyak dibanding anak fisika apalagi sosial. *sigh*
Dan bukan sepasang anak manusia ini di’jodoh’kan teman-teman sekelas mereka dengan mengatur bangku supaya kedua anak ini tetap berdekatan.

Hingga tiba hari itu.

Seorang cewek lain, sebut saja cewek #2, mengajak cewek #1 untuk berbicara serius.

cewek #2: “neng, gue mau cerita. semalem, cowok#1 nelpon gue. dia curhat.”

cewek #1: …… (dalam hati sih bilang, “trus hubungannya apa sama gue?”)
cewek #2: “dia tanya gue, dia pengen nembak kamu.”
cewek #1: ….. (dalam hati, kok, curhatnya sama dia siy? @#$^&%!!!!)
cewek #2: “dia minta gue yang bilang sama kamu. kamu mau, nggak pacaran sama dia?”
cewek #1: “… ng…ng…. kayaknya nggak!”
cewek #2: “lho, kenapa? bukannya kalian dah akrab? dah deket? tiap hari saling cela-cela gitu! itu namanya kalian saling suka!”
cewek #1: “sok tau! nggak ada apa-apa di antara kami, titik!”
cewek #2: [meraih bahu cewek #1, menatapnya dalam-dalam] “ini… persoalan… serius, tau!”
cewek #1: “kenapa serius? kalo serius, kenapa dia ngomong sama kamu? kenapa dia ga langsung ngomong sama aku, seperti kalo dia ngajakin aku ke hotel?”
cewek #2: “kalo ngajakin kamu ke hotel pan maen-maen. kalo soal nembak ini, serius, beneran.”

cewek #1 memandang cewek #2. ia merasakan bahwa cewek #2 memang serius dengan ucapannya.

cewek #1: “duh, buah simalakama, euy, kalo jadian sama dia, teeehhhh…”
cewek #2: “kenapa?”
cewek #1: “dia pan omes (otak mesum). kalo aku jadian sama dia, berarti sama aja aku menyerahkan masa depanku pada kehancuran. kalo nolak, rusak persahabatan. padahal, dua-duanya penting buat aku!”
cewek #2: “dia udah janji, kooook, kalo misalnya jadian sama kamu, dia akan lebih kalem dan ga omes lagi… tapi langsung praktek!”
cewek #1: “huwaaaa! ga mau! tidak! tidak! tidak!”
cewek #2: “ayolaah… gue tadi becanda soal praktek! serius, kok. dia mau berubah.”

si cowok #1 berjalan melewati mereka berdua dan cewek #1 memang merasa hari itu si cowok #1 sangat pendiam, nggak seperti hari-hari biasanya yang selalu mengajaknya berantem.
dan keadaan itu membuat si cewek #1 percaya, kalo tengah terjadi sesuatu di diri si cowok #1.
cewek #1: “ada yang nyatain ke aku, seminggu kemaren dan baru mau kujawab dua hari lagi, biar tanggalnya cantik kalo jadian. kalo aku nerima si cowok #1, apa aku nggak mengkhianatinya?”
cewek #2: “yaa… terserah… tapi enaknya kan kamu jadian sama orang yang udah kamu kenal lama… si cowok #2 baru deket sekarang ini aja, ya, kan?”
cewek #1: ….. (tapi dalam hatinya bilang, ‘cowok #2 jauuuuuh lebih keren daripada cowok #1’)
cewek #2: “gini aja, deh… sebentar aja, cobain aja dulu. mau, ya?”
cewek #1: “sembarangan pake percobaan!”
cewek #2: “ayolaaah… kalo ternyata dalam dua hari dia nggak berubah, putusin juga nggak apa-apa. dia udah nerima itu sebagai konsekuensinya, kok!”
cewek #1: “kok bisa ngobrol sejauh itu?”
cewek #2: “ya, kan, untuk berbagai kemungkinan, dear… ya udah jawab aja, buat sehari aja gitu?”
cewek #1: “apaan jadian sehari? emangnya test drive? aku baru mau sama dia kalo udah nggak ada cowok lagi di dunia ini!”
cewek #2: “give him chance, please…”
cewek #1: “argh!”
cewek #2: [memelas, pandangan memohon] “pleaaseee….”

lima menit terberat pertama mulai dirasakan cewek #1 karena dia harus membuat keputusan besar dalam hidupnya.

cewek #1: “oke, pake syarat dan harus ikutin syaratku!”
cewek #2: “syaratnya apa?”
cewek #1: “oke, jadian sama cowok #1 cuma seminggu aja, udahnya aku jadian sama anak kelas sebelah. dan tolong, ga disebar ke mana-mana kalo aku jadian sama cowok #1. ngerti?”
cewek #2: [melompat kegirangan dan meluk-meluk cewek #1] “whoaaa…! asiiik!!! ma kasih, yaaa!”

cewek #2 lalu berdiri, dan melingkarkan jarinya membentuk corong di sekitar mulutnya sambil berteriak
“WOOOOOOOOIIIIIIIIIIIIII! PENGUMUMAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNN! CEWEK #1 MAU JADIAN SAMA COWOK #1!!! HOREEEEEEEEEEE!!!”

kelas yang tadinya sedikit hening, mendadak ramai. semua teman-teman cewek #1 dan cowok #1 ini sudah lama menanti akhir dari usaha mereka. Usaha menjodohkan sepasang anak manusia ini.
mereka tampak bahagia mendapati usaha mereka menjodoh-jodohkan dan menjadikan sepasang bukan kekasih ini subjek penderita, tidak sia-sia.

tinggal yang jadi objeknya bengong, terutama cewek #1. keringat dingin, deg-degan dan merasa jadi selebritis langsung meradang.
rasa geram mulai menguasai diri cewek #1. ‘katanya ga bilang-bilang? kok malah diumumin? dasar sinting!’ @#$%^&*($%^)!!!!

5 menit kemudian, cewek #2 berdiri lagi dan mengumumkan, “INI SEMUA CUMA APRIL MOP! Hahahahaha!”
beban yang menimpa si cewek #1 langsung terbang, cewek #1 merasa sangaaaaaaaaaat lega. dan sujud syukur! 5 menit tadi adalah 5 menit terlama kedua yang dialami si cewek #1.
Dua hari kemudian, 03-04-94, cewek #1 ini jadian sama cowok #2.

cewek #1 dan cowok #1 sampai kini tetap bersahabat, nggak pernah pacaran apalagi praktek ke-omesan bersama-sama. Mereka menikah dengan pasangan mereka masing-masing dan cewek #1 punya hidup yang normal. Entah dengan cowok #1. Haha

Note: to tell you the truth, cewek #1 itu adalah saya. Hehehe….

Advertisements

12 thoughts on “Proklamasi Cinta #1

  1. abahsaidan said: hahahah lucu, teh, kayak di komik2 jepang 🙂

    tapi, kenapa si cowok #1 malah bilang, kayak sinetron indosiar yang didubbing tea… huhuhuhu…..

  2. abahsaidan said: kalo gtu settingnya jangan di sekolah, tapi di rumah2 mewah klasik di jalan cipaganti hehehe, diiringi instrumen lagu indihe pula

    huahahahahaha…ogah! soalnya pan sekolahnya juga settingannya udah rada klasik… hahahahaha.. aduh, kenapa si cowok #1 bisa berpikir ke sana, ya? sering teuing nonton sinetron indosiar tea gitu, ya? hahahaha….

  3. mmlubis said: oh, mengapa sayah tak pernah jadi objek penderita dalam urusan jail-jailan?hihihiiii

    karena dikau sudah jail duluan… tandukmu teaaa panjang pisaaaaaaaaan… hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s