Uncategorized

Menerimamu Apa Adanya….

Tulisan ini bukan tentang hubungan saya dengan papa ilman… hehehe…

Tapi tulisan ini tentang hubungan persahabatan saya dengan seorang laki-laki sejak 9 – 10 tahun lalu… ummm… we’re pure friends! Not more than that! Dan saya punya 2 orang sahabat cowok lain yang juga sama-sama cuma temen, ga pernah kepikir buat begini begitu. Hihihi…

Percaya ga percaya sih, cuma emang temenan ini bener-bener temen. Ga pernah ada yang dipalsukan dalam pertemanan ini. Jadi saya bisa bener-bener paham bahwa ya, emang ada hubungan antara cewek dan cowok yang murni teman. Ga lebih dari itu. Ga ada udang di balik batu. Alhamdulillaah… 😀

TTM atau Teman Tapi Mesra atau Teman Tapi Musuh juga ga ada dalam hubungan saya dengan si cowok ini. Hehe. Let’s say namanya adalah “Boy” (note: bukan nama sebenarnya).

Sebetulnya, sejak saya bertemu dengan si Boy ini sekitar 10 tahun lalu, kami langsung dekat dan akrab. Kalo saya sedih, dia tidak akan segan-segan bercerita lucu yang lalu membuat saya tertawa dan merasa beban hidup terangkat. Saya juga ga segan-segan akan ngeledek dia kalo dia melakukan hal-hal bodoh ketika itu. 

Hingga sekitar setahun kemudian, dia pergi meninggalkan saya. Dia bilang, dia pengen melanglang buana. Mmm… saya sempat sedih. Karena itu artinya, saya pasti akan jarang ketemu dia lagi. Satu hal, saya terlupa untuk memintanya mengontak saya kapanpun dia sempat. Dan, ya, saya kehilangan banyak momen dan cerita bersamanya. Setiap saya teringat padanya, saya cuma bisa mendoakannya, semoga Boy di manapun kamu berada, ada dalam lindungan Allah. 

Tak dinyana, suatu ketika, saya memang teringat tentang Boy, dia kirim email! Cerita sekilas tentang dia ada di mana. Dan itu menjadi satu-satunya email darinya yang saya baca hingga bertahun-tahun kemudian. Dia sempat mengirimi saya email sekitar tahun 2006, memberi saya selamat karena saya sudah menikah dan minta maaf karena dia tidak hadir di hari bersejarah saya itu. Dan putus sudah, tidak ada lagi berita darinya.

Awal tahun 2009 ini, dia mengejutkan saya dengan mengirimi saya sebuah private message di Yahoo!Messenger. Wah, saya kan emang udah kangen banget sama dia! Jadi, tentu saja saya senang dihubunginya lagi. Dia juga add saya di pesbuk. Intinya, saya dan dia sekarang jadi sering berkontak-kontak. Bahkan, ketika dia ada di Bandung, dia sering ngajak saya lunch bareng. Wuih! Seneng, dong!!!

Kemunculan dia yang begitu tiba-tiba ini, sebetulnya memang sebuah gift terindah bagi saya. Walau, gift ini kemudian membuat saya berubah 180 derajat dalam sisi pola pikir. Masih ingat cerita saya yang ini? Yang parameter mood saya menjadi down gara-gara lihat pasangan gay makan di depan saya?

Sekarang, saya berpikir terbalik tentang para gay ini dan berusaha menerima mereka apa adanya. Kenapa? Karena kemunculan Boy yang tiba-tiba pada saya ini adalah karena dia sudah tidak tahan lagi bersembunyi dari saya, tentang siapa dan apa dia sebenarnya selama ini dan kenapa dia pergi meninggalkan saya. 

Boy muncul dengan sebuah pengakuan. Awalnya, saya memang digiring ke masa lalu, tentang berapa lama persahabatan kami, seberapa besar rasa peduli saya padanya juga sebaliknya, sejauh apa perasaan saya padanya. Saya benar-benar didrive untuk merasakan tegang atas sebuah pengakuan. 

Saya memang pernah tanya padanya, atas status In a Relationship-nya yang dicantumkannya di biodatanya di pesbuknya. Saya tanya, “Cewek beruntung itu orang mana? Kenapa aku ga dikenalin? Kamu mah, tiap saya deket ama cowok, kan, pasti aku cerita ke kamu.”

Ia mulai bercerita banyak hal dan masuk ke sebuah pengakuan bahwa dia adalah gay. Dhuar! Kepala saya seperti tertimpa batu! Mata saya mendadak berkunang-kunang, lutut saya lemas, mata saya panas dan air mata siap membanjiri wajah saya. Tak ayal lagi, jantung saya juga berdetak terlalu cepat sehingga membuat nafas saya tersengal-sengal ketika itu.

APAAAAAAAAAA??!!!!

Saya bukan orang yang bisa menerima hal-hal seperti itu dan ternyata salah satu orang yang saya sayangi dalam hidup saya termasuk dari orang-orang seperti itu!!!

Saya terdiam cukup lama. Berusaha mencari udara segar dengan mengatur nafas saya. Saya berusaha membuang kunang-kunang yang menari di mata saya. Dalam hitungan detik saya harus mengatakan sesuatu untuk membuatnya merasa lebih baik karena untuk membuat pengakuan seperti itu pada saya juga bukan sesuatu yang semudah membalikkan telapak tangan. Tangan saya dingin sekali ketika itu. Saya terus menerus beristighfar.
Setelah menghela nafas berkali-kali, saya akhirnya mengetik kalimat, “It’s okay. I’m still with you…”
Air mata sayapun berlelehan… Saya kemudian melanjutkan tulisan saya di chat itu dengan, “Gimanapun keadaanmu, aku tetep sayang sama kam
u. Aku tetep teman baikmu. Aku tetep Peni yang kamu kenal. Apapun keadaanmu yang kutahu sekarang, nggak akan membuatmu kehilangan seorang Peni. Aku tetep mendukungmu, no matter what, dan aku tetep sayang sama kamu. Aku ga akan melepaskan pertemanan kita ini. Aku tahu, ga ada manusia yang sempurna, begitu juga kamu.”

Jujur aja, saya merasa saya telah berbohong padanya untuk menghiburnya atau menghibur diri saya sendiri? Ketika chat berakhir dan dia sudah off, saya masih memandangi kalimat yang saya italic di atas dan bertanya-tanya pada diri saya sendiri. Apakah saya hanya menghibur (entah menghibur diri sendiri atau menghibur Boy) atau memang sekarang cara saya berpikir telah berubah?

Berulang-ulang saya baca thread pengakuannya. Over and over again dan air mata saya terus meleleh. Ya Allah… kenapa mesti begini? I need help!! Sesampai saya di rumah, saya ga bisa berhenti memikirkan pengakuan itu dan saya tidak bisa menyembunyikan air mata saya dari Pa-Il. Pa-il bukan orang yang toleran melihat istrinya nangis, tadinya saya sembunyikan akhirnya saya terpaksa cerita. Seperti biasa, ekspresi Pa-il mah lempeng kayak ga ada apa-apa. Hehe.

Saya cari artikel-artikel di internet tentang gay. Katanya ada yang karena pergaulan. Ada juga karena masalah psikologis, such as traumatic sama lawan jenis. Ada juga yang katanya berawal dari broken home. Saya ga tau dia termasuk yang mana, karena jangankan untuk mencari tahu karena apanya, baca pengakuannya saja sudah membuat saya terpukul. Tapi dia sempat bilang, bahwa gejala itu muncul sejak dia mulai puber. Artinya, dia emang ga pernah bisa suka sama perempuan (termasuk saya, tentu. Hehe).

Menurut saya, orientasi seksual seperti gay ini kan bukan sesuatu yang normal. Maka, saya dengan polosnya pernah melontarkan pertanyaan padanya, “Do you ever wish of having a normal life like me? Marrying a woman, having children? Make a family like other normal people do?”
Tau jawabannya, “Jadi menurut lo, gw ini ga normal, ya?” 

Huwaaaaaa…. bukan itu maksudnyaaaaaaaaa!! Hidup normal versi saya kan hubungan cinta-cintaannya ya antara perempuan sama laki-laki, laaah! Bukan laki-laki sama laki-laki atau perempuan sama perempuan lagiii!! Uh! Salah lagi…

Saya cuma terdiam sejenak dan bilang, “maaaaapp… kan kita beda orientasi seksual, dear…”

Dia tentu paham maksud saya karena dia melanjutkannya dengan, “Of course I want to have a family. I wanna raise children too. But you know, I can’t marry a woman…”

…..

Saya lalu bertanya padanya, “Apa kamu maksudkan dengan mengakui ini supaya saya nggak tanya-tanya ‘kapan kamu nikah’?”

Dia tertawa. Dia menjawab, “cause i trust in you. That’s why you’re the first to know and I don’t know who will be the second…” *sampai sekarang belum ada orang setelah saya*.

Saya terdiam lama. Menjadi seorang yang pertama kalinya diakui atas keadaan seorang teman dekat yang orientasi seksualnya berbeda dengan saya bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi, saya merasa sangat dihargai karena dia percaya penuh pada saya. Di satu sisi lain, itu pukulan buat saya karena akhirnya saya harus membuka paradigma berpikir saya yang lain. Menerima kenyataan bahwa dia gay.

Seorang teman saya yang lain bilang, “Pen, ga gampang tau, buat seorang gay ngaku kalo dia itu gay! Kalo dia ngaku sama elu, berarti dia butuh support elu!”

Oke, itu yang sedang saya lakukan. Saya tetap mendengarkan cerita-cerita Boy. Ternyata, dalam menjalani kehidupannya sebagai gay, lebih banyak ga enaknya ketimbang enaknya. Mungkin karena ga diridhai Allah, Boy…. 

Baiklah, untuk Boy saya berusaha menerima keadaannya. Saya berusaha memberi toleransi tentang gay thing ini. Tapi, belum tentu saya bisa nerima sama yang lain, karena jujur aja, satu Boy ini saja sudah membuat separuh sayap saya patah.

No matter what, he’s still my best friend and I do still care about him. Saya ga bisa lakukan apa-apa selain untuk selalu ada di saat Boy perlu saya. Semoga ini bisa membuat orientasi seksualnya berubah menjadi normal versi saya. Atau let it just be in that way? I dunno. Yang saya tahu, Boy, you’re still my best friend…

–hari ke delapan Ramadhan 1410 H–
Advertisements

24 thoughts on “Menerimamu Apa Adanya….

  1. dwakkary said: dengan berjalannya waktu moga persahabtan kalian bisa membukakan mata hatinya mana jalan yang benar dan mana yang tidak

    aamiin, mbak dewi…tapi, sejak pengakuannya itu, dia jadi lebih bebas bercerita ke saya dan jarang ditutup2in tentang apapun… mudah-mudahan aja Allah memberikan hidayah ya…. ^^

  2. 🙂 lika liku hidup mbakyu … :)Aku tahu gay-gay disekitarku … yang berusaha menutupi dengan jadi player … yang gak bisa punya komitmen … tapi satu hal dari mereka yang selalu jadi ciri khasnya …. teman yang menyenangkan .. terutama untuk para perempuan :)Jangan berusaha merubah … tapi tetap doakan … Semoga Allah menolongnya .. Amien

  3. wahyu25 said: teman yang menyenangkan .. terutama untuk para perempuan 🙂

    betul…..saya merasakannya saat ini………tidak berusaha merubah…..hanya mendoakan yang terbaik untuknya

  4. wahyu25 said: Aku tahu gay-gay disekitarku … yang berusaha menutupi dengan jadi player … yang gak bisa punya komitmen …

    temanku itu tidak menjadi player… dia tetap milih dengan cowok lagi… ya, dia emang teman yang menyenangkan…

  5. mmamir38 said: Kata orang dulu, dunia kan tak selebar daun kelor?

    iya… cuma saya masih shock, sih, om… jadi saya baru di tahap mendoakan dan mendengarkan segala ceritanya dulu…

  6. Bu, aku kok tergelitik sama komen pertama diatas “GAY ====AIDS”, Stigmatis dan judgemental sekali. Just wanna get this straight, aids itu menular atau menyebar bukan karena preferensi seksual seseorang, tapi karena sebab lain diantaranya hubungan seks yang tidak aman, berganti ganti pasangan seksual, Injection Drug Using, intinya ada pertukaran cairan tubuh. Dan soal stigma pada orientasi seksual, coba baca artikel ini http://nofa-sahabatsehat.blogspot.com/2009/01/statistik-kasus-hivaids-di-indonesia.html. And please people, stop judging without knowing

  7. amnia said: Cuma satu yang bisa qta lakukan, medoakannya… Semoga si Boy cepet sadar akan kesalahannya…

    aku ga bisa bilang ini salah atau nggak, mbak… i just hope… dia cepat sembuh… huhuhuhu…*masih ingat air mata peni netes waktu cerita ama mbak nia, yah!*

  8. fitrasoka said: Do I know him? … I wish you say “No…!”

    laaah… emangnya dunia cuma selebar daun kelor, kak… hehehehe… kan ga semua teman saya teman k fitraaa… :p

  9. ayahreeva22 said: semoga dapat jalan yang lebih baik lagi dr skrg jadi bs putar haluan dan yang jelas dijalan yang benar, biar ngga di tilang pak polisi, hehehehe

    aamiin…. ma kasih doanya, abaaangg…

  10. gay? … percaya gak kalo oomnya Peni yang ganteng ini (he..he…) pernah di pedekate in sama cowok… disangka gay… hanya gara-gara njomblo bertahun-tahun en termasuk telat menikah…

  11. oomdiet said: gay? … percaya gak kalo oomnya Peni yang ganteng ini (he..he…) pernah di pedekate in sama cowok… disangka gay… hanya gara-gara njomblo bertahun-tahun en termasuk telat menikah…

    percaya, opa… percaya… hihii…. orangnya peni tau, ga? 😀

  12. aneh ih…gay dibilang identik ama AIDS… [banyak yang kena AIDS tapi bukan gay]gay dibilang kesalahan… [salah siapa? nenek moyangnya…]gay dibilang penyakit… [sembuhnya pake obat apa? antibiotik?]turut bersimpati pada Peni yang sedang menghadapi masalah…just be there for him and keep your faith… apa pun yang dia pilih…

  13. iwanaries said: aneh ih…gay dibilang identik ama AIDS… [banyak yang kena AIDS tapi bukan gay]gay dibilang kesalahan… [salah siapa? nenek moyangnya…]gay dibilang penyakit… [sembuhnya pake obat apa? antibiotik?]turut bersimpati pada Peni yang sedang menghadapi masalah…just be there for him and keep your faith… apa pun yang dia pilih…

    ma kasih… thank you banget… ma kasih udah tetep support aku buat tetep ada buat dia… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s