Blogroll · Bunda Ilman dan hari-harinya · Racauan

Selamat Jalan, Pejuang Cilik…

Beberapa bulan yang lalu, seorang sahabat saya menulis status di YM-nya, mendoakan seorang pejuang cilik. Saya lalu bertanya, “siapa pejuang cilik ini?” Dijawabnya, “keponakanku.” Sejak lahir, sudah ada masalah dengan paru-paru dan ususnya. Sejak lahir, bayi ini tidak pulang ke rumah. Belum pernah dia merasakan hangatnya pelukan ibu atau ayahnya. Hanya terbaring di inkubator dengan selang membaluti tubuhnya. Saya pun dikirimi fotonya. Saya hanya bisa berdzikir dan meneteskan air mata.

Beberapa minggu setelahnya, teman saya bilang, keponakannya itu sudah selesai tugasnya berada di dunia. Sudah dipanggil pulang oleh Sang Khalik. Saya menangis. Lega, haru. Lega karena dia sudah bebas dari segala penderitaannya. Bebas dari rasa sakit yang menjalari sekujur tubuhnya. Terharu, karena saya tahu, orangtuanya pasti sangat menginginkan keberadaannya bersama mereka. Seperti halnya saya, selalu merindukan dua jagoan cilik saya, setiap saya jauh dari mereka.

Hari ini, mata saya basah lagi. Beberapa hari lalu, ada seorang teman mengabarkan bahwa bayi teman kami sedang berjuang sejak lahir. Ada masalah dengan plasentanya, sehingga asupan oksigen dan makanan menjadi tidak sempurna tersalur pada janin. Ketika lahir, rubella menyerang tubuhnya. Sehingga, tiga hari lalu, tinggal jantung dan ginjal yang masih berfungsi, sementara paru-paru sudah tidak naik turun. Bahkan dokter tidak tahu, apakah bayi ini masih hidup atau tidak. Apakah jika alat penopang hidup dilepas, orangtuanya ikhlas?

Pagi tadi, saya mendengar kabar dari ayah saya. Bahwa bayi itu sudah pergi untuk selamanya. Sekali lagi saya merasakan hal yang sama. Lega dan haru. Saya tidak bisa berhenti menangis, bahkan ketika saya menulis sekarang.

Sungguh. Allah telah menunjukkan kasih sayang-Nya. Bayi sekecil itu diberikan kesempatan untuk berjuang demi bertahan hidup, meski lalu akhirnya dipanggil-Nya. Jika kita mau membuka mata, kenapa kita harus menyerah pada keadaan ketika kita berada di titik terbawah? Bayi yang belum bisa berkomunikasi sekali pun, diberikan kekuatan untuk berjuang sampai batas terakhirnya.

Allah Maha Besar. Bahkan dari kisah bayi-bayi ini pun, Allah menyimpan rahasia dan hadiah Maha Besar bagi kedua orangtuanya yang sabar dan ikhlas. Semoga, orangtua dari pejuang-pejuang cilik ini diberikan kekuatan dan kesabaran. Dan pejuang-pejuang cilik ini, insya Allah akan menjadi bidadari di surga dan penjaga kedua orangtuanya dari api neraka. Aamiin…

Advertisements

2 thoughts on “Selamat Jalan, Pejuang Cilik…

  1. Amin…., bener banget mbak…., ketika kita berada di titik terbawah dan karena kita selalu mengingat-Nya, Insya Allah, Allah dengan kasih-sayang-Nya selalu memberi kita petunjuk dan membimbing kita agar kita selalu yakin bisa melewatinya, doaku buat seluruh anak-anak di bumi Allah semoga selalu dalam lindungan Allah, selalu sehat, selalu bahagia lahir dan bathin.

  2. aamiin… ma kasih, Rike… subhanallaah… bahkan lewat bayi yang belum bisa apa-apa pun, Allah menunjukkan Maha Besar-Nya… *jadi makin merasa kecil di hadapan Allah…*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s