Uncategorized

Berjuanglah Sekuatmu, Nak…

Beberapa bulan yang lalu, salah satu teman baik saya, Ranny, menulis ini di blognya:

Sebulan belakangan ini dia seakan-akan lemas otot-otot tungkai kakiknya. Mudah jatuh, mata lesu dan kuyu dan paling dini, dia berbusa saat berbicara.
Masyaallah, anakku sayang ada apa denganmu?
Anakku Abdullah terlahir dalam keadaan yang normal 41 minggu dengan berat 3200 gr dan panjang 48cm. Reflek seperti Moro pun sudah hilang pada saat umur 4 bulan. Namun, saat merangkak, dia tidak merangkak ke depan, melainkan ke samping sepert kepiting. Usia 13 bulan Abdullah bisa berjalan dengan normal tanpa jatuh terlebih dahulu. Di usia ini pula anakku mulai erupsi gigi.

Kini, aku dan gurunya merasa khawatir akan perkembangannya.Mulai saat dia memegang alat tulisnya juga saat dia berjalan. Koq, rasanya bengkok di kaki kiri dan tidak stabil saat berdiri. Sebulan ini dia berjalan seperti ‘ingkud-ingkud-an’ kalau urang sunda bilang. Maka insiden jatuh pun tak terelakkan, jatuh duduk dari sepeda, jatuh saat mau duduk. bahkan jatuh di area parkir. Dahulu Abdullah makan dengan rapi, tapi belakangan ini dia memasukkan makanan dengan seluruh jari-jarinya, belepotan dan tidak terkontrol gerak tangannya. 

Dia sampai menangis, “Kalau itu ( jalan) gak licin, aa bisa jalan, bu”. Tangisnya. 
Duhai anakku, ibu tahu kamu gak akan mencelakakan dirimu sendiri. Ibu tahu itu diluar kontrolmu, sayangku. 

Semua gejala itu membuat kami membawanya ke dokter spesialis anak. Menggelegar rasanya saat dokter tersebut menyatakan dengan sikap hati-hati bahwa dia menderita CP ( Celebral Palsy) dengan tingkatan mild. Karena dia nampak kesulitan menggerakan badan bagian kirinya. Kemudian dirujuk ke dokter ahli syaraf untuk dibacakan hasil EEG-nya. MasyaAllah, sebegitu sulitkah nak engkau menggunakan otot-otot di bagian kirimu?

Hanya di bangku kuliah aku membaca tentang CP ini. Gak kebayang rasanya ada area lumpuh otak di area tertentu. Ah, anakku sayang semoga esok hasil EEG-mu menunjukkan hasil yang positif, sehingga ibu akan melakukan  terapi syaraf dan motorik saja.

Duhai Rabb, yang Maha Kuasa. Lindungi anakku ini dari segala ketidakmampuan untuk belajar dan bertahan hidup di usianya ke depan. Anugrahkan kepadanya kemandirian, keterampilan hidup untuk hidup di jalan Engkau. Karena aku, entah sampai kapan bisa mendampinginya.

Teruntuk Abdullah, Aku tahu nak engkau pasti mampu melewati semua ini. Kita hadapi bersama sayang.”

__________________________________________________________________________________________

Kemarin siang, saya mendapat kabar, kalo Abdullah sedang dirawat di UGD salah satu rumah sakit di Bandung. Sorenya, saya mendatangi rumah sakit itu lalu datang ke resepsionis UGD untuk memastikan, Abdullah sudah pindah ke ruangan mana. Lalu saya diberi tahu resepsionis, kalo Abdullah dirawat di NICU.

Sewaktu berada di lift, tubuh saya lemas. Saya tahu keadaan anak-anak yang dirawat intensif di NICU/PICU. Kedua putra saya sempat dirawat di sana pasca kelahiran mereka. Saya sendiri pernah dirawat di ICU, sewaktu koma saat melahirkan putra kedua. Saya tahu rasanya berada di sana.

Setelah ngobrol dengan satpam di NICU, satpamnya masuk ke ruangan NICU, lalu keluarlah satpam bersama kang Dadan (suami Ranny) juga Ranny di belakangnya. Ranny menghambur pada saya, sementara suaminya ngobrol dengan Pa il. 
 
Menurut Ranny, kesadaran Abdullah menurun. Ranny sambil nangis bilang, “aku nggak bisa bayangin sakitnya kepalanya…”
Dugaan celebral palsy itu ternyata bukan. Dokter menduga ada kanker, yang tadinya diduga tumor. Sebab, ada benjolan di sekitar batang otak yang sulit dioperasi. Ranny menawarkan saya untuk bertemu Abdullah.
 
Setelah pakai jas khusus, saya melangkah sendiri, lupa pakai sandal khusus, alias telanjang kaki. Saya tegar masuk NICU, toh, saya pernah melihat hal semacam beberapa kali. Sewaktu saya digiring satpam ke bed tempat Abdullah berbaring, saya terduduk lemas. Saya nggak bisa menahan derasnya air mata yang tumpah melihat kondisi Abdullah. Melihat berbagai alat yang menempel di tubuhnya: hidung, mulut, tangan, semuanya. Saya pernah melihat foto diri saya sendiri sewaktu koma. Hati saya remuk redam. “Gimana kalo ini anakku sendiri?”
 
Saya mencoba bicara dengan Abdullah. Saya tahu, meski dia sedang koma, dia mendengarkan saya. Saya bilang, “Aa, ini tante Peni. Udah lama, ya, kita nggak ketemu. Terakhir ketemu Aa, Aa masih bayi, belum berumur setahun. Aa datang sama ibu dan kakek, nengokin Ilman yang baru lahir waktu itu. Sejak Aa ke Jepang, terus ke Kuala Lumpur, sampai balik lagi ke sini, kita belum pernah ketemu lagi. Dari cerita ibu, Aa itu kuat sekali, ya… Aa memang terlahir sebagai fighter. Nggak cuma ibu dan ayah Aa yang bangga sama Aa. Tante Peni juga bangga sama Aa. Ma kasih, ya, Aa. Udah ngasih inspirasi buat semua yang kenal Aa. Ayo, Aa. Berjuang lagi. Berjuang semampu Aa, ya. Insya Allah, surga menjadi tempat Aa nanti.”
 
Lutut saya lemas, air mata saya nggak berhenti mengalir. Allah.., saya butuh seseorang di samping saya. Di saat saya berkata begitu dalam hati, bahu saya ditepuk. Waktu saya noleh, Pa il berdiri di samping saya. Saya langsung menggenggam tangan Pa il dan memeluknya. Saya nggak kuat. Pa il langsung meluk saya dan ngajak saya berdiri. Saya berusaha keras menghapus air mata saya, terus saya tanya ke Pa il,”Bunda keliatan nangis, nggak?” Pa il senyum, “kelihatan banget.” Lalu saya berusaha mencari tissue. Saya nggak mau menampakkan ketidaktegaran saya ini pada kak Ranny. 
 
Semalam, Abdullah sedang dikuras cairan lambungnya karena terkena infeksi. Pernapasannya dibantu ventilator, detak jantungnya juga diatur, karena sebelumnya, pernapasannya menjadi tidak teratur karena rate detak jantungnya sangat tinggi. Supaya cairan tubuhnya tetap stabil, dimasukkan cairan elektrolit. Semoga, sekarang sudah selesai masa pengurasan cairan lambungnya sehingga bisa masuk nutrisi untuk tubuhnya, supaya kondisi tubuhnya bisa stabil.
 
Setelah saya bertemu lagi dengan Ranny di ruang tunggu, saya baru tahu kalo refleks Abdullah menurun. Bahkan sudah tidak bisa bicara lagi. Saya kagum dengan kekuatan dan tekad Abdullah, anak sekecil itu dia mau berjuang untuk melawan rasa sakitnya. Dia bahkan tidak pernah mengeluh jika kepalanya terasa sakit. Allaahu Akbar.
 
Saya bilang pada Ranny, bahwa Ranny adalah orang yang sangat beruntung diamanahi putra sehebat Abdullah. Meski masih kecil dan sakit, Abdullah tidak mau meninggalkan shalat. Abdullah bukan termasuk anak yang rewel. Saya nggak bisa berkata banyak lagi, saya biarkan aja Ranny cerita semua tentang Abdullah. 
 
Maafkan saya. Saya nggak bisa mencerna semua yang diceritakan Ranny perihal penyakit anaknya, jadi nggak bisa tertuang semuanya di sini. Saya terlalu rapuh menghadapi ini. Saya kagum pada Ranny dan suaminya yang sangat kuat menghadapi ini. Yuk, kita doakan, Ranny dan suaminya diberikan kesehatan supaya tetap bisa mendampingi Abdullah yang sedang berjuang. Dan semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Abdullah.
 
ditulis Jumat, 27 Juli 2012.
Advertisements

3 thoughts on “Berjuanglah Sekuatmu, Nak…

  1. semoga diberikan yang terbaik oleh Allah, dan disegerakan apa yang terbaik itu, bila sembuh ya segera juga membaik… jangan dilihat dari sudut pandang yang berbeda tapi demi si penderita itu sendiri. Gak tega lihat anak2 yang sakit berat seperti ini, pastinya sangat2 menderita. Ya Allah berikanlah yang terbaik baginya dan keluarganya diberikan kekuatan lahir dan bathin., Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s