Bunda Ilman dan hari-harinya

Perjuanganmu Sudah Selesai…

Pagi ini, saya mendapat sms dari Ranny:

“Alhamdulillah. Abdullah berada dalam dekapan kasih sayang Allah yang jauh lebih indah. Alhamdulillaah dia menjadi investasi terbaik kami di akhirat. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun.”

Subhannallaah. Setelah melalui perjuangannya saat koma, Allah telah membebaskan Abdullah dari rasa sakit. Allah mendekapnya langsung, menempatkannya dalam surga tanpa hisab. Insya Allah.

Di perjalanan menuju rumah sakit, saya menangis. Menangis karena bangga, juga terharu. Kehilangan? Sudah pasti. Tapi saya berjanji untuk tidak menangis di depan Ranny, ketika kami bertemu nanti.

Sesampainya saya di NICU, saya mencari satpam. Siapa tahu, jenazah Abdullah sudah dibawa pulang. Pak satpam mengantar saya menemui Ranny. Saat itu Ranny sedang mengantar beberapa teman saya yang ingin melihat jenazah Abdullah langsung. Ranny menyambut saya dengan pelukan lebar. Saya berusaha keras untuk tidak meneteskan air mata.

“Anakku masuk surga secara by pass! Alhamdulillaah! Allah memang sangat menyayanginya, melebihi rasa sayang kami semua! Dia tetap anakku, hanya saja dia tidak hadir di dunia lagi.” begitu katanya.

Dalam pelukannya saya menangis. Saya katakan, “Selamat, ya! Kamu memang terpilih untuk diberikan kunci pintu surga saat ini. Tinggal mengejar jalan menuju surganya. Allah sudah menjanjikan itu!”

“Iya! Alhamdulillah!” ucap Ranny, sambil menepuk punggung saya.

Allaahu Akbar. Ranny tidak menangis mlenye-mlenye. Dia malah menyambut saya dengan gembira. Saya tidak jadi berkata, “turut berduka cita”, karena dia bangga akan keshalihan putranya.

Saya iri padanya. Kunci pintu surga sudah berada di dalam genggamannya. Tunggu. Bukan berarti saya meminta anak-anak saya meninggal. Bukan itu. Saya iri pada kekuatannya. Saya iri pada ketabahannya. Saya iri padanya, yang percaya akan janji Allah akan surga.

Abdullah sudah memberi saya banyak inspirasi. Abdullah sudah menunjukkan pada saya, bahwa Allah itu sangat dekat.

Sedikit cerita…

Dua hari yang lalu, ada teman saya berkunjung ke kantor saya. Dia mau ngopi lagu-lagu PAS, karena waktu Temu Alumni lalu, dia nggak kebagian CD Album Reuni PAS. Lalu kami ngobrol. Entah ketika itu teman saya cerita apa, saya tiba-tiba tidak bisa mendengarkannya, padahal saya melihat mulutnya berbicara. Telinga saya seperti tertutup dan pandangan saya ada pada Abdullah yang sedang berbaring.

Saya lalu berucap dalam hati, “insya Allah, ibu dan ayah ikhlas, kok. Aa nggak usah khawatir.”

Lalu, pandangan saya kembali pada teman saya dan suara teman saya kembali terdengar.

Saya nggak ingat kejadian itu, bahkan ketika saya bertemu dengan Ranny tadi pagi. Saya baru ingat beberapa jam kemudian, ketika saya duduk di depan layar monitor, mengingat-ingat apa saja cerita teman saya tempo hari itu. Lalu, saya terdiam sesaat. Ingat kejadian di mana saya tidak mendengarkan apa yang dikatakan teman saya. Apakah Abdullah pamitan pada saya? Kenapa saya nggak menyadarinya ketika itu?

Ibunya sendiri dibukakan kontak dengan Abdullah. Ibunya bisa merasakan apa yang sedang dirasakan, sehingga ketika Abdullah akan pergi, ibunya merasa “plong”.

Saya memang merasa ada “kontak” juga dengan Abdullah – selama dia koma, meski nggak sebesar kontaknya dengan sang ibu. Saya seperti diingatkan, ketika saya terkantuk-kantuk shalat malam atau malas beranjak untuk wudhu, karena Bandung dingin sekali. Padahal, saya belum pernah berinteraksi dengan Abdullah semasa hidupnya, selain sewaktu dia berkunjung ke rumah, masih bayi. Wallaahu ‘alam.

Sudah selesai perjuanganmu, Aa. Kamu sudah mendapat tempat di surga, seperti tempat yang kamu inginkan. Seperti permintaanmu pada ibumu, sebelum kamu mulai tidak bisa bicara, karena tumor mulai menggerogoti batang otakmu.

“Bu, di surga nggak ada toilet, ya? Kalo Aa kebelet, gimana, dong, Bu?”

“Bu, di surga itu, sungainya ada sungai madu, susu? Aa mau ke sana, Bu…”

Selamat, Sayang. Sekarang kamu sudah ada dalam dekapan Allah…

Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun….

Advertisements

2 thoughts on “Perjuanganmu Sudah Selesai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s