Racauan

Mudik 2012

“Mudik?” | “Iya” | “Ke mana?” | “Ke Garut.” | “Oh, orang Garut, toh?” | “Bukan. Suami saya yang orang Garut.” | “Oh.”

Itu percakapan enam tahun lalu, hampir setahun setelah saya dan pa il menikah, dan Ilman belum lahir alias masih di perut.

“Mudik”? | “Iya” | “Ke mana?” | “Ke Sarijadi.” | “Sarijadi Bandung?” | “Iya.” | “Lho? Kok?” | “Kan rumah saya di Cihanjuang. Jadi kalo lebaran di Sarijadi, namanya mudik.” | “Nggak kaci. Nggak lebih dari 10 km jaraknya!” | “Biarin. Yang penting pulang ke rumah orangtua. Weeek!”

Itu percakapan sekitar dua dan tiga tahun lalu, sebelum adek Zidan lahir.

“Mudik?” | “Iya” | “Ke mana? Jangan bilang ke Sarijadi lagi.” | “Nggak, kok. Lagi tinggal di Sarijadi beberapa bulan ini nunggu adek Zidan gede.” | “Jadi mudik ke mana? Garut?” | “Kebetulan bukan.” | “Lalu, mudik ke mana?” | “Ke Semarang.” | “Wah, mudiknya jauh. Ada keluarga di sana?” | “Iya”

Itu percakapan tahun ini, tahun 2012.

Karena saya orang Indonesia, “mudik” ini seperti menjadi sebuah keharusan menjelang lebaran. Apa esensinya? Supaya kita bisa merayakan lebaran bersama sanak saudara. Betul? Kadang jadi ajang tadah angpao. Hihi.

Khusus lebaran tahun ini, kebetulan keluarga besar dari pihak almarhumah ibu saya mengadakan family gathering di Semarang. Jadi, semua anggota keluarga yang berpencar di seluruh penjuru bumi ditarik menuju Semarang, untuk merayakan hari yang fitri bersama-sama. Seru? Tentu saja. Sudahlah almarhumah ibu saya tuh kan 13 bersaudara, ditambah anak cucu. Makin-makin deh… lebar dan buanyaaaak… Hihi.

Ini pengalaman pertama saya dan pa il bepergian jauh menggunakan mobil. Biasanya saya kalo mau mudik ke Surabaya, pasti pakai kereta. Berhubung mendapat tiket kereta api sekarang jauh lebih mudah dibandingkan dengan tahun 2000 lalu, H-30 pasti udah kehabisan, dong…

Sudah gitu, ini pertama kalinya juga Pa il nyetir sendiri jauh. Paling jauh nyetir ya cuma ke Garut, itu pun baru sekali, sebelum bulan Ramadhan. Jadi, sudah pasti, ibu saya (yang masih hidup) ketar ketir. Maklum, ibu saya yang ini emang juaranya Drama Queen. No wonder dari mana gelar Young Drama Queen buat saya berasal. Hahaha.

Plus, ini pertama kalinya, Ilman dan Zidan bepergian jauh, melewati satu propinsi.

Dan untuk pertama kalinya juga, tahun ini, ibu dan bapak saya harus melepas ketiga cucunya buat berlebaran di negara orang, eh, maksudnya di kota orang. Jadi, segalanya serba pertama.

Atas dukungan dan doa restu orangtua dari berbagai pihak (orangtua saya dan orangtua Pa il tentunya), perjalanan mudik berhasil kami lewati. Dibilang mulus banget ya nggak juga. Lha wong, begitu masuk Brebes, mobil kami ditubruk pemudik motoris yang mau nyalip. Dan bemper mobil yang kami tumpangi penyok. Belum lagi kondisi kesehatan anak-anak yang mendadak turun dan membuat panik.

Meski begitu, kami berhasil merayakan hari raya Idul Fitri dengan gembira karena anak-anak bisa ketemu opa, oma, mbah putri, mbah kakung, nyanyah, eyang putri, eyang kakung, juga eyang buyut mereka.

Sayang, kami nggak sempat menjelajah Semarang dan ga banyak foto yang dibuat. Kamera SLR sih dibawa, tapi anak-anak sedang ga bisa diandalkan untuk nggak gelendotan dulu buat motret. Hehe.

Oya. Selamat saling memaafkan, ya. Eh, udah pada puasa Syawalan belum? Saya belum, euy. Soalnya saya masih minum obat. Pulang mudik saya malah bolak balik masuk rumah sakit, nih. Menyebalkan! Jadi aja, belum sempat kelilingin rumah sodara-sodara yang di Bandung 😦

Advertisements

One thought on “Mudik 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s