Racauan

Penulis Butuh Sekolah Sopan Santun?

Disclaimer: *sekadar catatan ajah, blog ini dibangkitkan untuk meneruskan tulisan di blog saya yang ini.*

Setahun atau dua tahun yang lalu gitu, ya, ada seorang penulis Indonesia yang menuai kritikan tajam. Pokoknya, pada rame-rame kasih rating 1 untuk bukunya di Goodreads. Awalnya sih, mungkin karena emang jalan ceritanya nggak masuk akal, banyak hal-hal yang nggak masuk akal lain yang ada di novelnya. Lalu, si penulis wanita ini menuangkan pembelaannya, baik di review orang-orang yang membuat review tentang bukunya maupun di blognya. Wajar, kok, penulis membela karyanya sendiri. Wajar banget. Toh, itu hasil perenungannya selama berbulan-bulan, bahkan tahunan, mungkin? Jadi, dia nggak rela kalo karyanya dibilang jelek, nggak masuk akal, dan lain-lain. Sekali lagi saya tekankan: itu sangat wajar. Manusiawi.
Lalu, apa yang mengganggu? Karena, dia menulis bahwa untuk bisa menyimak novelnya, kita harus ngerti ini itu dulu yang berkaitan dengan bukunya. EH? SERIOUSLY?

Bukannya dengan membaca kita jadi tahu? Bukannya dengan membaca kita jadi punya pengetahuan baru? KENAPA untuk mengerti alur cerita novel yang genrenya ringan banget alias baca untuk bersenang-senang alias light reading, saya sebagai pembaca dituntut untuk belajar dulu hal-hal lain yang melatari buku ini? NO! MA KASIH, DEH!

Dan dengan songongnya, terang-terangan dia bilang harus punya otak prima untuk baca buku dia. GUBRAK!

Untuk saya yang, errr.. reading speed-nya nggak jelas, saya sendiri nggak tahu otak saya termasuk teflon atau prima, kayaknya saya nggak layak baca buku ini. Takut otak saya nggak nyampe dan akhirnya misuh-misuh sendiri. Jadi saya sudah memutuskan duluan untuk nggak baca buku beliau. Takut minder. Kalo minder saya udah parah, susah nyembuhinnya.

Setelah menuai pro dan kontra beberapa waktu yang lalu, penulis wanita ini kembali menjadi perbincangan karena ada salah satu teman saya yang baru kelar baca lalu menulis reviewnya di Goodreads, bulan lalu. Kemudian, ada troll yang menyerang reviewer buku ini. Terkadang, saya jadi berpikiran, troll ini sebenernya siapanya penulis, sih? Apalagi setelah ditelusuri, akun troll ini anyaran aja gitu. Semacam akun jejadian di pesbuk kalo kamu pengen main game :p

Ada lagi penulis lain yang “kembaran” sama penulis perempuan yang saya ceritakan di atas. Cuma ini berjenis kelamin cowok dan dari tampangnya mah, udah berumur. Jadi, ada salah satu anggota Goodreads yang mereview buku dengan kasih bintang 1 dan di sana dia bilang,

“Bukan berarti isi buku ini tidak bagus ya. Sampul depannya bagus, kok πŸ™‚ Tapi, bukan selera saya saja.

Saya nggak suka dengan cara ceritanya; loncat2 alur cerita tanpa ada benang merah apa2. Sekadar lompat tiap bab. Belum lagi di masa lalu itu, para tokoh itu kok ya ngomongnya ngalor ngidul nggak jelas -buat saya. Terasa dipaksakan agar terkesan konspiratif.
Jadi, bintang satu. Saya nggak suka. Jadinya juga, buku ini langsung saya tukar dengan buku lain di toko tempat saya beli. Untung boleh πŸ™‚

Apa? Ini buku trilogi? Nggak deh. Cukup. Terimakasih. Selamat jalan. Semoga sukses.”

*dipinjam dicopy paksa dari review orang tersebut dengan diedit. Ntar saya minta izin dulu sama yang ngereview, boleh dipublish, nggak, linknya*

Review ini kemudian dikomentari oleh penulisnya langsung. Yang bikin saya memutar bola mata, penulis ini dengan sok tahu-nya menuduh reviewer berbohong untuk poin buku boleh ditukar.

Awalnya, penulis ini mengomentari dengan sopan. Makin ke sini, setelah teman-teman reviewer lain ikut berkomentar, keluar deh, mental troll-nya. Kesamaan antara penulis perempuan muda di atas dengan penulis pria yang saya ceritakan barusan adalah mereka nggak mau menerima kritikan tentang karya mereka. Lalu akhirnya mereka mengata-ngatai pembacanya. Mulai dari ucapan, “harus berotak prima” lah, “hanya sekadar pembaca” lah. Itu hinaan, lho!

Menanggapi pernyataan “harus berotak prima” dan “hanya sekadar pembaca”, cukup membuat saya sakit hati. Kenapa? Untuk jadi pembaca, minimal kita harus:

1. Punya bukunya dulu. Kalo nggak punya bukunya gimana mau baca? Ya usaha, dong! Beli, pinjam atau unduh buku gratisan. Minimal dengan usaha bilang, “boleh saya pinjam buku ini?” Lalu dia berusaha menepati janjinya untuk mengembalikan bukunya pada si empunya begitu kelar. Beli. Ini jelas usaha keras. Mengeluarkan uang dari penghasilan kita atau uang jajan kita. Bahkan ada yang rela puasa demi beli buku. See? Tetep ada usaha untuk bisa mendapatkan buku walau pun itu pinjam.

2. Ada waktu untuk membacanya. Lah iya, kalo nggak ada waktu buat membaca, kapan mau baca? Ini juga butuh usaha, kan? Usaha meluangkan waktu untuk membaca. Buat saya, godaan tidur dan main dengan anak itu begitu besar. Sehingga, setelah anak-anak saya tidur, akhirnya saya mulai membaca. Tapi, godaan terbesar adalah bantal. Kalo saya nyerah, akhirnya saya nggak bisa baca buku.

Dari dua poin di atas, hati saya sangat teriris-iris kalo ternyata pembaca itu dibilang “hanya sekadar pembaca”. Tiga kata yang menusuk hati. Hanya. Sekadar. Pembaca.

Hiks. #Lebay

Akibat perilaku penulis-penulis ini lah, pada akhirnya orang-orang yang asalnya mau baca, memutuskan memasukkan buku-buku orang-orang ini ke dalam shelf “Sampah”, “Buku yang Tak Akan Pernah Dibaca”, dan lain-lain. Beramai-ramai memberi satu bintang di rating buku, yang membuat rating secara keseluruhan menjadi buruk. Untuk penyuka buku, sudah ada social media Goodreads yang memudahkan calon pembaca untuk ngecek bagus nggaknya buku hanya dengan melihat rate-nya. Nah, sekarang, kelakuan penulis pun ternyata bisa berpengaruh pada rate buku, lho. Percayalah!

Terus, apakah review itu tebang pilih? Tentu saja tidak. Siapa bilang Twilight Series karya Stephenie Meyer itu tidak menuai kritik tajam di sana sini? Nggak sedikit juga, kok, orang yang kasih bintang 1. Nggak sedikit juga orang yang mencerca karyanya, terutama untuk Breaking Dawn yang udah maksa buanget. Saya aja belum kelar bacanya. Hihi. Butuh mental besar supaya bersabar dalam membacanya πŸ˜›

Tapi buktinya, tetep aja banyak yang baca buku Twilight Series walau udah ketinggalan banget momentnya. Happeningnya. Contohnya saya. Saya baru-baru ini aja tertarik baca TS. Itu karena mbak Stephenie Meyer nggak mencerca pembacanya. Dia mah nyantei aja. Dan malah nulis buku lain yang tebalnya alaihim gambreng, The Host. Meski begitu, saya tetap memasukkannya dalam daftar shelf to-read di rak buku saya di Goodreads. Kalo seandainya Mbak Stephenie bikin pembelaan sedemikian-rupa-sehingga yang membuat banyak orang ilfeel, saya yakin, saya nggak kenal sama yang namanya Edward Cullen, Bella Swan dan Jacob. *ini penting banget!* *dikeplak*

Lalu, untuk menanggapi pembelaan penulis tentang, “untuk menikmati buku saya, Anda harus paham A, B, Z dulu”, saya cuma bisa bilang, “saya baca komik Yotsuba dan Miiko. Saya fans berat kedua komik itu. Meski hanya sekadar komik, tapi saya banyak tahu gara-gara komik itu. Misalnya saja, saya jadi tahu kalo di Jepang itu festival anak perempuan. Dan lain-lain. Dan lain-lain. Ada banyak pengetahuan yang saya nggak tahu sebelumnya, saya dapat dari komik itu. Meski kemudian saya mencari informasi lebih banyak tentang hal-hal tersebut, karena saya penasaran. Pengen tahu lebih banyak.”

Tapi intinya, bahkan baca komik aja, saya bisa dapat ilmu! Termasuk bikin coklat truffle andalan saya setiap lebaran.

Saya berkesimpulan, untuk menjadi penulis mungkin nggak cuma wawasan luas dan kemampuan menulis aja yang dibutuhkan. Tapi juga harus lulus sekolah sopan santun bahkan mungkin lulus tes anger management. Supaya penulis lebih legowo menerima kritikan yang terpedas sekali pun dan belajar dari kritikan itu. Supaya penulis nggak sakit hati sampai marah karena ada yang nggak suka bukunya, lalu mempermalukan diri sendiri dengan memperlihatkan bad attitude yang nggak layak disebut sebagai senior. Mau dihormati kok kurang ajar, ya? Nggak dihormati, ntar kita yang kurang ajar. Kurang lebih begitu. Apalagi orang ini udah tua. Buah simalakama, deh, jadinya πŸ˜›

Mudah-mudahan, tulisan saya ini memberi inspirasi pendiri sekolah kepribadian untuk bikin kelas khusus penulis.

gambar dicomot paksa dari sini

Advertisements

9 thoughts on “Penulis Butuh Sekolah Sopan Santun?

  1. Love your post. XDD

    Jadi bertanya-tanya, bakal muncul nggak yah penulis-penulis berikut yang tingkahnya macam mereka?
    *knock-knock wood*
    haha

    Tapi di luar negeri pun ada loh penulis yang juga ga bisa nerima kritik, tapi jadinya yah gitu, di blacklist ma hampir semua blogger buku di sana. Jadi kasihan.

    1. ya makanya, rugi banget, deh, nyerang reviewer. mendingan dengerin aja, noted, trus ntar dibuat perbaikan.

      malah, kalo bisa, jadiin reviewer ini pembaca draft mereka, supaya tahu lemahnya di mana. dari pada bukunya udah jadi duluan, trus udah dicetak, dijual, direview trus ratingnya ancur, kan buang waktu juga.

      wow. pedih banget, tuh, ampe diblacklist ama reviewer. rugi banget, yak…

  2. Sempat ngikutin ceritanya. Seru.
    Ya, kurang bijak saja mereka.
    Sekedar pembaca. Pembaca=konsumen. Konsumen=yang punya duit.
    Kayaknya ngga pernah ada hukum ekonomi produsen memusuhi konsumen wkwk *teoricampursari*

    1. hahaha.
      kalo menurutku sih wajar aja, kok, pembaca komentar tentang apa yang dibacanya. dia jujur bilang nggak suka, ya penulis legowo *seharusnya*

      tapi ini penulis lalu mulai mempermalukan diri sendiri dengan kampungannya. I don’t pay my respect for an author like that XD

  3. Hahahahahaha.. setuju banget sama tulisan disini mba Pen…
    apalagi yg ini :

    β€œsaya baca komik Yotsuba dan Miiko. Saya fans berat kedua komik itu. Meski hanya sekadar komik, tapi saya banyak tahu gara-gara komik itu. Misalnya saja, saya jadi tahu kalo di Jepang itu festival anak perempuan. Dan lain-lain. Dan lain-lain. Ada banyak pengetahuan yang saya nggak tahu sebelumnya, saya dapat dari komik itu. Meski kemudian saya mencari informasi lebih banyak tentang hal-hal tersebut, karena saya penasaran. Pengen tahu lebih banyak.”

    aku juga sukaaaaa ^_____^
    kudunya buku ya bikin orang tambah pengetahuan, bukannya untuk baca buku orang kudu tau ini itu dulu… ribet bener buat baca buku
    *lempar bukunya ke tempat sampah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s