Uncategorized

Grow Old with You…

I wanna make you smile whenever you’re sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I’ll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you

I’ll miss you
Kiss you
Give you my coat when you are cold

Need you
Feed you
Even let ya hold the remote control

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed if you’ve had too much to drink
I could be the man who grows old with you
I wanna grow old with you

Hei, papa…

Nggak kerasa, hari ini, 7 tahun yang lalu kita resmi jadi… hmm… suami istri. Hihihi. Kenapa, ya, sampai detik ini masih suka geli-geli gimana gitu ama istilah “suami istri” ini. Soalnya, buat Bunda tuh, papa adalah….

SOULMATE.

SAHABAT.

PACAR.

KEKASIH.

IMAM.

SUAMI.

Eh, iya lah. Yang terakhir itu bener! Hihihi. Ada penghulu. Ada saksi. Ada wali nikah. Ada akad nikah, jam 08.30 di tanggal 13 Nopember 2005. Ya, kan? Tapi tetep aja, meski udah tujuh tahun berlalu, suka tergeli-geli dengar istilah ini buat kita. Yah, apa pun itu, kita udah tujuh tahun melewati semuanya bareng. Dalam semua suka dan duka kita.

Image

Kayak waktu pertama kalinya Bunda kegeeran kirain mabok karena hamil pas dua bulan kita baru nikah. Trus waktu ternyata nggak jadi hamil, Bunda sedih setengah mati. Tapi, Papa justru bilang ke Bunda, “emangnya yang nentuin kita mau punya anak atau bukan itu kita?”. Kata-kata itu masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Bikin Bunda yakin, kalo Papa emang yang terbaik yang Allah kasih buat Bunda.

Trus waktu pertama kalinya, pada akhirnya, Bunda ngajak Papa ke bidan karena Bunda udah telat beberapa minggu, ya. 16 Mei 2006, kalo ga salah. Setelah lihat hasil test pack, ternyata ada dua garis. Dan ternyata udah 10 minggu kalo ga salah itu teh. Dari situ, papa selalu nemenin Bunda periksa ke dokter. Papa selalu antusias buat ketemu “ilman-dalam-bentuk-gambar-di-USG”. Nggak pernah papa lewatkan barang sekali pun buat nggak nemenin Bunda check up. Begitu juga, papa yang selalu ngingetin Bunda buat minum susu, beliin makanan yang Bunda pengenin, sampai… papa harus berlelah fisik dan perasaan waktu kakak Ilman lahir.

Kita lewatin juga masa-masa kakak Ilman mulai tengkurap, merangkak, lalu bisa jalan. Kita lewatin semuanya dengan suasana haru. Dan sekarang, kita mulai melihatnya berseragam, berangkat sekolah, punya teman. Dan menampung semua tawa dan marahnya. Juga tangisnya.

Trus kita lewatin semua tawa dan tangis waktu kita mau ambil kredit rumah. Gimana perasaan kita dibuat bolak balik. Sampai akhirnya, kita berhasil nanda tangan akad kredit. Lalu, perasaan pertama kita injak rumah yang kita miliki. Mulai bertetangga. Sampai sekarang.

Waktu Bunda mulai hamil adek, lima bulan pertama, papa harus susah payah beliin Bunda makanan pengganti nasi, karena Bunda musuhan bener sama nasi. Papa lewatin semuanya. Mulai dari nemenin Bunda yang bolak balik masuk rumah sakit termasuk sampai rawat inap selama hamil. Papa harus masak sendiri, karena Bunda ga tahan sama bebawangan dan nasi mateng.

Lalu cerita adek lahir. Bunda nggak tahu kalo papa melewati semuanya sendirian. No one to share but Allah. Bunda terharu. Salut sama papa. Bangga sama papa, berhasil melewati semuanya. Yang Bunda pun tahu dari orang lain. Papa bilang, “papa milih ga tahu cerita itu, daripada papa sedih, sengsara dan malah ga tau mesti ngapain. Papa seneng kalo Bunda akhirnya baik-baik aja. Karena itu jauh lebih baik buat Papa.”

Image

Bunda bersyukur karena Papa yang dipilih untuk Bunda.  Walau kadang suka kesel juga, sih, kalo jawaban Papa suka ngasal. Misalnya, pas Bunda bilang, “Papa, Bunda pengen punya wajah mulus.” Trus, jawaban Papa, “sok aja, edit pake potosop.” Doh! Papaaaaa….. *cium gemes*

Dan masih banyak jawaban Papa yang suka ngasal dan ngeselin. Meski ngeselin, tapi selalu bikin Bunda ketawa. Hehe…

Ma kasih, ya, buat 7 tahun pernikahan ini. Ma kasih buat persahabatan yang udah terjalin lebih dari 11 tahun. 

Image

Kalo lihat gambar ini…

 Image

Bunda suka terharu. Semoga, kita bisa grow old bareng. Kadang, Bunda suka ngebayangin, kalo kita tua nanti, kita masih jalan gandengan.

Tapi, kalo kata Lenka,

You and me will be lying side by side
Forever forever
Underneath this adolescent sky
Together together
And you will hold my heart inside your hand
And you’ll be the one, the one to tell me

Oh, we’ve got a long, long way to go
To get there
We’ll get there
But oh, if there’s one thing that we know
It’s that we will not grow old

You made me swear that our hearts will never die
No never, no never
Cause no one seems to believe that we can fly
Forget them, forget them
Oh, you told me

Oh, we’ve got a long, long way to go
To get there
We’ll get there
But oh, if there’s one thing that we know
It’s that we will not grow old

Oh, how could we know that day, it came with age
That oh, the feeling would fade…

 

Jadi, pilih mana? Grow old with you atau we will not grow old?

Buat Bunda, yang penting Bunda bisa selalu bersama Papa dalam semua keadaan. Senang maupun susah 😀

Ma kasih buat never give up on us, even if the skies get rough… kalo pinjem kata-katanya Jason Mraz mah… All I know is… Bunda nggak bisa hidup tanpa Papa. Papa jauh sedikit aja, Bunda merasa kehilangan. Jadi maafkan Bunda, kalo Bunda kirim BBM atau SMS melulu kalo lagi jauhan dari papa, ya… :*

Happy our 7th anniversary, Papa… May Allah always bless us and our family. May Allah always guide us to the happiest place ever. Love you…

Advertisements

9 thoughts on “Grow Old with You…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s