Uncategorized

Only Hope

Judulnya kayak judul lagu. Biarin aja, deh. Nggak maksud menyontek juga šŸ˜›

Kemarin siang, saya dikunjungi tetangga yang bawain brosur kaos dagangannya buat kakak Ilman. Waktu lihat interaksi kakak Ilman dan adik Zidan, dia nggak henti-hentinya bilang, “subhannallaah…” Ya, dia udah lama banget nggak ketemu kakak Ilman, jadi nggak tahu kemajuan speech kakak Ilman sekarang šŸ˜€

Saya cerita ke dia, kalo kakak Ilman udah hafal lafal adzan. Sudah mulai bisa ditanyai walau sesekali matanya nggak fokus. Matanya cuma cari mata kita, ketika dia pengen diperhatikan aja. Tapi sekarang dia sudah jauh lebih peka. Indera penciumannya juga sudah mulai bisa membedakan bau. Wangi, bau busuk dan lainnya. Oya, kakak Ilman juga sudah punya inisiatif pergi ke kamar mandi sendiri untuk pipis dan bisa pipis sendiri. Tinggal pup sendiri, nih, yang masih harus dilatih.

Tetangga saya itu berulang kali bilang, saya ini ummi yang hebat.

Huh?

Saya masih belajar, kok. Saya belum bisa menjadi ibu yang hebat untuk kakak Ilman dan adik Zidan. Tapi, ya, seperti yang sudah berkali-kali saya tulis di post-post sebelumnya, saya percaya bahwa saya dan pa il adalah orangtua istimewa, dengan dihadirkan anak seperti kakak Ilman yang super istimewa.

Sabtu lalu, saya menjemput kakak Ilman di TK-nya. Saya ngobrol dengan guru-guru kakak Ilman. Gimana kakak Ilman sudah menjadi penghibur hati mereka dengan segala kemampuan kecerdasan yang kakak Ilman miliki, untuk anak seusianya. Gimana kakak Ilman mampu menumbuhkan kasih sayang di hati mereka yang jauh lebih besar ketimbang ke anak-anak lain seusianya yang berkembang sesuai kewajaran di usia mereka.

Di usianya yang belum menginjak 5 tahun dulu, kakak Ilman sudah gape menggunakan fasilitas engine search. Sekarang, setelah beberapa bulan di rumah eyangkung ada fasilitas wi-fi, seolah-olah di semua tempat harus disediakan wi-fi. Kakak Ilman sangat akrab dengan Google dan wi-fi.

Mula-mula, kakak Ilman nggak mau terima kalo nggak di semua tempat nggak ada wi-fi. Tapi lama-lama, dia bisa menganggap ini sebuah ide “konyol”, setiap dia mengharap ada wi-fi di mana dia berada.

Dia akan melirik pada saya dan bilang, “wi-fi?” Lalu saya akan jawab, “wa!” *dengan mimik dibuat lucu seolah terkejut, lalu saya lanjutkan* “wi-fi di rumah eyang!” nanti dia tertawa. Alhamdulillaah. Dia sudah mulai paham, kalo di tempat tertentu yang nggak ada wi-fi, dia harus menahan keinginan untuk berkencan dengan Google dan Youtube šŸ˜€

Sama seperti semua orangtua di muka bumi ini yang punya harapan besar pada anaknya, saya juga sama. Saya juga punya harapan besar pada putra-putra saya. Dulu, saya pernah pengen putra saya bermain angklung dari usia dini. Saya lesin musik. Gambar. Renang. Basket. Bela diri.

Pengennya, sih.

Tapi, seiring dengan berjalannya waktu dan keadaan, saya biarkan anak-anak saya memilih. Selama saya masih sanggup mendampingi mereka, saya harus bergerak satu langkah lebih maju dari mereka, supaya saya bisa membimbing mereka. Saya nggak terlalu berharap mereka jadi nomer satu di antara orang lain. Saya ingin mereka menjadi nomer satu untuk diri mereka sendiri dulu. Dan saya ingin mereka tetep menjadi hamba Allah. Selalu ingat Allah, di mana pun mereka berada. Selalu ingat, Allah selalu mengawasi mereka. Selalu mendengarkan ucapan mereka. Selalu tahu apa yang ada di hati mereka. Saya hanya berharap anak-anak saya bisa menjadi diri mereka sendiri.

Beberapa kali saya disuruh teman-teman buat meng-casting-kan kakak Ilman biar jadi artis, karena dia cakep dan camera face.

Ahahaha. No. Tidak. Saya ingin anak-anak saya tumbuh sebagai anak-anak biasa. Mungkin orang lain ingin anaknya tampil dandy dan bisa meniru dandanan juga bicara orang dewasa? Ingin anaknya selalu juara di berbagai kompetisi?

Keinginan saya sih, cuma pengen bisa lihat kakak Ilman dan adik Zidan bisa mandiri mengurus dirinya sendiri, mampu mengenali potensi masing-masing dan menjalaninya tanpa frustasi, serta main dengan teman seusianya. Hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s