Uncategorized

Happy Birthday, Mum…

“Bu, Peni mau jadi suster kayak Bik Anik.” | “Iya. Sabar, ya…” | *Seminggu kemudian, aku sudah punya seragam perawat buatan ibu* (Peni, 4 tahun)

“Bu, besok pengen bekal nasi sama ayam kecap, ya. Kemarin Anton bekal nasi sama ayam kecap. Enak, deh, Bu, kayaknya…” | *besoknya, ibu menyiapkan nasi dan ayam kecap di dalam kotak bekal* (Peni, 5 tahun)

“Tadi, Ibu ketemu awan yang bentuknya kayak raja. Nah, itu. Awan raja itu nanya ke ibu, ‘Kenapa Peni nggak ikut Ibu jalan ke rumah ninek? Ibu kasih tau sama awan raja, kalo Peni lagi sakit panas. Terus, awan raja bilang, ‘Peni harus makan banyak, ya. Biar cepat sembuh…'” (Ibuku, sewaktu aku berumur 5 tahun)

“Bu, Peni pengen es sirop. Boleh, kan?” | “Peni kan masih pilek.” | “Nggak pake es, kok.” | “Ha? Jadi irop, dong?” | “Ah, Ibu….” (percakapan absurd Peni dan Ibu, umurku 5 tahun)

“Bangun, bangun… hari sudah siang… ayo, kawan mandi… segeralah jaga… Lekas.. lekas… lekaskah bekerjaa.. jangan turutkan watak yang malas… Bangun, Peni… matahari sudah menunggumu…” (Ibuku, setiap pagi, sampai akhir hayatnya)

“kembang tanjung, kembang tanjung
yang harum.. jatuh jatuhlah ke pangkuanku
kutusukkan, kurangkaikan bungamu
Untuk mengharumkan konde ibuku…

angin sejuk, angin sejuk, tiuplah…
tabur-tabur bunga ke bawah
terima kasih sang anginku yang lucu
sejak kupungut hiasan ibu” (Bunga Tanjung karya Ibu Sud)

Ibu menyanyikannya setiap pagi, setiap kami berdua mengumpulkan bunga tanjung lalu dijadikannya mahkota di kepalaku. Gelang di pergelangan tanganku. Juga kalung di leherku. Ibu akan bilang, “Ibu sayang Peni. Peni akan jadi anak yang hebat suatu saat.”

Kata itu yang terakhir kudengar, karena nggak lama sakit ibu semakin parah. Sampai di suatu Shubuh, aku mendengar isak tangis adik-adik Ibu dan melihat Ibu berjuang untuk mendapatkan napasnya. Ibu bahkan tidak menyanyikanku lagu Bangun Tidur.

Peni kecil yang berusia 6 tahun ketika itu hanya terduduk, menyaksikan semuanya, sampai Ibu hilang dari pandangan, dibawa ke rumah sakit. Lalu aku tahu, ibu sudah pergi. Buat selamanya.

Assalaamu’alaikum, Bu…

Sebenernya, kalo bisa, aku pengen skip hari ini aja. Nggak perlu ada tanggal 11 Maret di kalender. Yang hanya akan membuatku tergoda untuk beli kue ulang tahun, pasang lilin di atasnya, lalu menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”, berpura-pura kita melakukannya berdua. Lalu aku akan meniup lilinnya, seolah-olah kita melakukannya bersama. Aku tahu, semua itu konyol. Bodoh. Bukan melankolis, apalagi romantis. Semua itu nggak akan pernah membawamu kembali ke sini, kan?

Tentu saja, pembuat kalender nggak akan pernah menjadikan tanggal setelah tanggal 10 Maret adalah 12 Maret. Pasti akan melalui 11 Maret dulu. Mana di Indonesia, bertepatan dengan peringatan Surat Perintah Sebelas Maret.

Pagi ini, aku terbangun dan langsung banjir air mata. Aku nggak pernah ingin melakukan ini, Bu. Hanya saja… aku bener-bener merindukanmu dan sudah tak tahan lagi. Bu, maafin aku, ya. Selama ini, aku selalu menyangkal bahwa aku merindukanmu. Aku cuma ga pengen, aku nangis terus, berharap Ibu datang, terutama di saat aku sedang bersedih. Aku cuma nggak pengen jadi beban buat ibu. Di mana seharusnya aku jadi anak shalihah yang mendoakan Ibu, supaya aku bisa jadi penjaga Ibu di rumah Ibu sekarang. Cuma hari ini… entahlah… semuanya tak tertahankan lagi…

Tadi pagi, salah satu adik Ibu mengingatmu. Lalu bercerita tentang kenangannya bersama Ibu. Aku tahu, waktu kita nggak banyak, ya… Aku mencoba mengingat Ibu lewat cerita mereka semua. Ninek, bapak, eyang, semua paklik dan bulik. Yang aku tahu: Ibu orang baik. Sangat baik. Kebaikan Ibu selalu dikenang semua orang. Mereka semua kehilangan Ibu. Lalu, mereka mendoakan Ibu. Indah sekali, ya, Bu. Seindah nama Ibu. Indah.

Aku sering kepingin bisa mimpiin Ibu. Sering kepingin Ibu hadir di sini. Aku tahu, Allah nggak mengizinkanku. Karena mungkin, aku bukannya mendoakan Ibu dan meneruskan semua perilaku baik Ibu, bisa jadi aku malah pengen ikut Ibu.

Semoga dengan semua kenangan bersama Ibu, aku bisa menjadi manusia yang baik, seperti Ibu. Semoga aku bisa meneruskan perbuatan baik Ibu. Yang kelak kalo aku mati, orang merasa kehilangan dan ada yang kutinggalkan untuk mereka. Yaitu amal shalih. Seperti yang Ibu lakukan semasa Ibu hidup dulu.

Oya, Bu… entah sengaja entah nggak, tadi pas di jalan, aku seperti melihat awan berbentuk topi ulang tahun dan ada sebentuk awan mirip kue tart. Kalo balik ke ingatanku semasa kita masih suka menggunakan awan untuk media bercerita, aku yakin, malaikat sedang merayakan hari lahirmu…

Ma kasih, Bu. Untuk menjadi Ibuku. Untuk melahirkanku. Untuk mengajariku cinta dan kasih sayang yang nggak pernah pupus. I love you. And I miss you. So much. I can’t help it anymore…

Image

Advertisements

8 thoughts on “Happy Birthday, Mum…

  1. ass.alaikm mb P3ni, wah banyak postingan ini remind my Mom diluar kota. meski jrak Smg-Kds cuma 1 jam, tapi rasanya jd jauuuuh. Slm kenal y mbk. Nice artikel. Btw saya g bisa DM di twitter krn mb sdh unfolbek saya. (maaf:tahunya juga dari notifikasi email). Slm sukses ya mbk ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s