Uncategorized

Saya Kecewa… (?)

Suatu hari, saya ngobrol-ngobrol dengan teman saya, sebut saja dia Eriq *bukan nama sebenarnya*. Waktu itu ngobrolin apa, ya? Bukan sesuatu yang seru dan asik, sih, sebenernya. Ngomongin orang, soalnya. Hihihi… Saya termasuk doyan ghibah? Nggak juga, sih… Ada sesuatu yang saya ingat ketika itu di obrolan kami. Yaitu mengenai perempuan berkerudung. Kalo istilah yang lagi tren sekarang sih, berhijab, ya.

Padahal hijab (dari bahasa Arab) kan artinya penghalang. Kalo merujuk pada pakaian perempuan, hijab itu berarti tata cara berpakaian yang tepat. Menghalangi atau melindungi muslimah dari pandangan tak pantas pria yang bukan mahrom, dan lain-lain. Hijab juga bisa menjadi penghalang seorang manusia dari jilatan api neraka. Dan hijab juga bisa menjadi penghalang seorang muslimah dari berperilaku yang tak pantas dilakukan. Apa aja tuh? Semua juga tahu jawabannya 😀

Eh, balik lagi ke obrolan saya dengan Eriq, si bukan nama sebenarnya, jadi dia cerita tentang seorang perempuan berkerudung yang doyan masuk diskotik mau pun warung remang-remang. Well, kalo dia bawa diri sendiri, sih, terserah aja. Tapi, dia bikin ga enak temen-temen yang bawa, cuma dia maksa pengen ikut. Menurut Eriq juga, mestinya perempuan berkerudung ya nggak mengunjungi tempat-tempat begitu apalagi sampai menyentuh alkohol. Mana ini perempuan pun merokok. Eriq bilang, “mestinya dia buka aja kerudungnya, kan. Merusak citra perempuan berkerudung aja.”

First off all, saya terkejut. Sangat. Begini, perempuan berhijab tuh berarti muslimah taat, kan? Dia berhijab pastinya karena mau menutup aurat, yang memang ada perintahnya. Di Al Qur’an jelas banget, tuh. Ada di surah An Nuur 33, juga surat Al Ahzab 59. Mestinya juga, dia ngerti kalo minum alkohol itu haram hukumnya. Lalu, mengapa dia minum alkohol? Oke lah nggak sampai mabuk. Tapi, yang namanya barang haram, ya tetep haram. Lalu, masuk ke diskotik atau kafe remang-remang yang penuh hawa mesum, dengan dia memakai hijab? *eh, saya belum pernah masuk diskotik. Cuma, saya dikasih tau temen saya, kalo isi diskotik tuh begini dan begitu. Jadi saya cukup membayangkannya aja dan berniat tidak pernah masuk ke sana. Betulkan saya kalo saya salah, ya. Ini hanya imajinasi saya aja, keadaan di dalam diskotik macam begitu.* Lalu, apa fungsinya dia berhijab? Cuma ngikutin tren aja? Yang sekarang lagi booming? Bukan menjadi penghalang untuk melakukan sesuatu yang mudharat? Oh! No! 😦

Hijab nggak cuma sekedar fashion. Walau emang banyak desainer yang menjadikannya sebagai komoditi. Mestinya, diperhatikan lagi niat baik berhijab. Meski, perempuan berhijab cuma manusia biasa sekali pun, ya, tetep aja, sih… mestinya bisa ngasih contoh yang baik. Kayak sendirinya udah bisa ngasih contoh yang baik aja. #eh

Saya ingat banget, di hari pertama saya mulai pakai kerudung, dua orang teman laki-laki yang emang biasa akrab main dengan saya waktu itu, memberi ucapan selamat. Namanya Lucky dan Anto. Lagi-lagi bukan nama sebenarnya. Mereka bilang, “Selamat, yah, Pen. Semoga istiqamah.”

Saya waktu berpikir, “istiqamah” tuh nama masjid besar yang ada di Bandung. Kok, saya disebut semoga nama masjid? Eh, ternyata maksudnya, “istiqamah” itu adalah konsisten. Sampai akhir hayat saya pake hijab terus. Gitu…

Yah, jujur aja, godaan demi godaan menghampiri, sih. Apalagi, saya mulai berhijab tuh belum ada tren hijab kayak sekarang. Fashionnya lagi musim kaos kekecilan waktu itu… hihi… Alhamdulillaah.. sejauh ini, saya masih bertahan dengan kerudung saya. Ditambah punya suami yang emang sering mengingatkan saya buat pakai baju dan kerudung yang bener. Meski kadang saya ngebandel juga, sih, suka pake cara sendiri yang bikin dia kadang murka. #eh

Sebisa mungkin, meski sekarang saya pake shawl, saya upayakan banget menutup dada. Nggak lagi cuma sebatas di leher seperti yang pernah saya lakukan beberapa tahun lalu.

Lalu, tujuan saya nulis dengan judul di atas apa? Dan apa hubungannya dengan hijab?

Begini…

Beberapa waktu lalu, saya melihat ada postingan foto teman perempuan saya yang sedang diving sama suaminya di suatu perairan, dengan hanya berbikini. Rambutnya? Tentu saja terlihat. Dan sebagian tubuhnya terlihat. Apa yang membuat saya kecewa? Karena dia adalah orang yang pernah menjadi inspirasi saya untuk berhijab. Ya. Sejak saya mengenalnya di bangku SMA, dia sudah memakai hijab. Dan dia adalah perempuan tercantik pertama berhijab yang saya temui, sewaktu masih sedikit perempuan berhijab waktu itu. Dalam hati saya waktu itu, perempuan secantik dia aja mau berhijab, saya yang biasa-biasa aja pun mestinya terinspirasi, dong. Bukan buat menutupi kekurangan, tapi untuk bertaqwa. Dia cantik, mestinya punya banyak hal yang bisa dia sombongin *karena cantik bangetnya itu* daripada saya. Tapi dia memilih bertaqwa dengan berhijab.

Lalu, saya sempat berhusnudzhan (berbaik sangka), mungkin teman-teman yang hanya bisa melihat postingannya cuma teman-temannya yang perempuan. Sayangnya, jejaring sosial yang satu itu emang bikin kita bisa ngecek siapa aja yang ngeliat postingan teman saya. Tentu saja, ketahuan siapa saja yang melihat postingan foto berbikini teman saya ini, kan? Ya. Di sana saya melihat ada banyak pria yang melihat postingan ini. Paham kenapa saya kecewa? Walau pun konteksnya hanya foto, tapi ketika dia melakukan diving, berarti dia sudah memperlihatkan auratnya ke orang-orang yang ada di sekitarnya juga, kan? Lalu, ketika dia memposting fotonya di sosmed itu, berarti dia juga membiarkan kontaknya melihat auratnya walau melalui foto, kan? Sungguh nggak bijak, untuk ukuran orang yang sudah berhijab lama, pame auratnya. Atau dia sudah memutuskan berhenti berhijab? Sebab, saya melihat postingan fotonya yang lain tanpa hijab dan membiarkan beberapa bagian tubuhnya terbuka. Kalo memang dia sudah memutuskan untuk nggak lagi berhijab, mau apa saya? Itu urusan dia dengan Allah, kan? *sikap selemah-lemah iman*

Kedua, saya juga melihat postingan foto teman perempuan saya yang baru saja melahirkan, tanpa kerudungnya. Bahkan sebagian tubuhnya terekspos. Mungkin karena sedang berada di negara yang bukan mayoritas berpenduduk muslim, jadi yah, dia rela-rela aja difoto sebagian tubuhnya terlihat begitu oleh semua orang.

Nggak sedikit juga, sih, dalam perjalanan saya berhijab ini, saya menemukan banyak perempuan yang saya kenal “berguguran” di jalan. Nggak cuma memutuskan berhenti berhijab dengan alasan, “belum yakin banget”, “belum taqwa banget” sampai yang meski masih berhijab tapi dengan rela memasang foto mereka ketika nggak sedang berhijab.

Kecewa? Iya. Saya kecewa pada mereka yang dulu menjadi inspirasi saya untuk berhijab, lalu berbalik arah menjadi orang yang justru perlu diberi inspirasi. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Keimanan juga bisa naik atau turun bahkan hilang. Tugas kita minta ketetapan hati padaNya. Semoga kita tetap berada di jalan-Nya.

Saya jadi ingat lagi doa kedua teman saya, Lucky dan Anto *yang lagi-lagi bukan nama sebenarnya itu*, “semoga istiqomah, ya”.

Mungkin yang baca postingan saya ini, yang kebetulan punya foto saya ketika saya belum berhijab dan mempostingnya di sosmed dengan men-tag saya dan tidak mendapat approval untuk muncul di timeline saya, mengerti maksud saya untuk tidak membiarkannya muncul di timeline saya. Meski itu masa “jahiliyah” saya dulu, hanya masa lalu, saya tetap berkeberatan kalo foto saya tanpa hijab — selama saya masih pakai hijab — muncul di jejaring sosial. Karena sejak hampir 18 tahun lalu, saya memutuskan untuk berhijab dan insya Allah akan tetap istiqamah dengan hijab saya. Semoga, hijab saya ini pun menjadi penghalang saya dengan jilatan api neraka.

Advertisements

16 thoughts on “Saya Kecewa… (?)

    1. oooh… jadi sekarang mainannya paha Cherry Belle? mulus, ya? *lain kali ngelirik paha JKT48, ah. kayaknya mulusan mereka, deh… * #eh

  1. “Sebisa mungkin, meski sekarang saya pake shawl, saya upayakan banget menutup dada”

    duh … #langsung narik2 shawl ke dada 🙂 ..semoga kita semua Istiqomah ya pen, Amin.

    1. aku masih pake celana panjang, mbak Dian… tapi minimal, berupaya banget pake baju panjang jadi paha ga terlalu nampak, juga kerudung menutup dada… 😀
      menuju kaffah perlu proses, kok… semoga kita tetap istiqamah…

  2. aku juga ada tuh Teh, inspirasi yag berhijab, sekarang malah buka bukaan… bikin syok…

    tapi kadang suka kepikiran, nilainya kerudung sepertinya sekarang sebatas trend. aku termasuk yang konservatif, alias pemalas kalo harus ngikutin mode. kalo diliat sama wanita berkerudung yg modis, kok kesannya aku udik banget gitu… banyak juga temen/sodara yg menganggap kerudung itu gaya, jadi mereka pakai kalau kondangan atau ada acara, selain itu yah tetep bebukaan…

    *malah jadi curcol*

    1. iyaa.. justru itu… kenapa dia jadi buka-bukaan… *sigh*
      kalo aku, pas pake kerudung segiempat emang agak ga nutup dada, jadi sekarang ngakalinnya pake shawl karena panjang… bukan karena ikutan tren. lagian, emang shawl-nya cuma gitu-gitu aja modelnya… =))

      nyantei aja, chan… niat kita kan beneran pakai hijab… semoga kita tetap istiqamah, yaaa… *peluk echan dan renner junior yang gagah*

      1. malah kebalikan echan dong yah Teh… aku kalo pake shawl malah susyeh mo model tutup dada, kalo pake segiempat paris gitu malah demen yg panjang2 hihihih…

        cuma berhubung dah bosen alias males… seringnya skrg pake krudung yang fastfud alias… langsung pake 😛

  3. kembali ke niat …dan pasangan hidup yang bisa mendukung niat itu, tapi tetap saja kembali ke niat. Inget doa bapak, tunjukanlah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s