Uncategorized

to the next chapter

to the next chapter

saya lagi kehabisan ide buat nulis sesuatu mengenai wedding anniversary yang romancis. bukan karena sedang ada deadline atau apa. saya sedang males menye-menye. karena kadang, saya ngekek sendiri kalo baca tulisan saya yang menye-menye. pengennya romantis abis, tapi kok malah bikin meringis.

delapan tahun memang bukan waktu yang sebentar. tapi juga bukan waktu yang lama. perjalanan kami (semoga dibarokahi) masih panjang. sebetulnya, kalo mau lihat ke belakang, ke masa delapan tahun lalu, di mana semua itu masih ada dalam tahap rencana, masih banyak yang harus kami benahi. sebab, kebersamaan kami dimulai dari niat kami untuk menggenapkan separuh dien.

karena kami sudah menggenapkan separuh dien dengan berumah tangga, maka kami harus menggenapkan separuh dien yang lain. di antaranya, memperbaiki seluruh ibadah kami. ini yang umm.. sulit. karena ternyata, menjaga iman jauh lebih sulit dari menjaga image.

guru ngaji saya sering berpesan, bahwa iman itu naik turun. seseorang nggak bisa dibilang beriman kalo dia belum diuji. kalo dia tangguh dengan keimanannya setelah melewati berbagai ujian, maka dia layak dikatakan beriman. dan keimanan itu harus sering di-boost. nggak hanya mood yang perlu di-boost. itu sebabnya, kenapa kita perlu datang ke majelis pengajian. bukan lebih rutin datang ke konser. sebab, di dalam majelis pengajian, ada banyak malaikat yang ikut mendoakan kita. and it is one step closer to stairway to heaven, right?

keimanan ini juga yang kami perlukan dalam menelusuri kalimat demi kalimat dalam setiap bab di dalam kehidupan kami. bagaimana keimanan (seharusnya) dapat menjaga setiap tindak tanduk kami. bagaimana keimanan (seharusnya) dapat menjadikan kami teladan untuk anak-anak kami.

ternyata memang benar. kalo sebuah rumah tangga hanya didasari pada ketertarikan fisik semata, begitu fisik yang tadinya membuat tertarik itu memudar, apa lagi yang bisa dipertahankan?

kalo sebuah rumah tangga hanya berdasarkan kepada ketertarikan materi semata, begitu materi habis, apa lagi yang harus dipertahankan?

ketika sebuah rumah tangga berdasarkan keimanan, niat menggenapkan separuh dien dan menjalankannya sesuai dengan sunnah dan perintah Allah, maka setiap detik dalam pernikahan itu akan membawa barokah bagi kita. termasuk berbagai ujian yang dilaluinya. termasuk berbagai kesenangan yang ada di dalamnya.

semoga kami termasuk orang-orang yang beruntung, karena kami mengawali semuanya atas dasar keimanan.

ini hanya catatan bagi diri saya sendiri. untuk melihat lagi segala kekurangan saya. saya belum mampu menjadi istri apalagi ibu yang sempurna. tapi saya bertekad belajar dari seluruh peristiwa yang terjadi. baik yang saya alami sendiri maupun yang dialami orang lain. karenanya, petualangan ini masih akan terus berjalan. saya akan membuka bab baru setelah menamatkan bab 8 dalam petualangan ini.

happy anniversary, papa, my dear best friend. tetap semangat. tetap menjadi imam kami. tetap menjadi teladan kami. tetap menjadi panutan kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s