Uncategorized

Sepenggal Kisah Semalam (judul terlebay :P)

Pasca sakit akhir pekan lalu, menyisakan hilangnya selera makan yang lumayan parah. Buat saya, kehilangan selera makan itu sungguh menyiksa. Bahkan meski pun akhirnya saya membuka harta karun saya berupa dark chocolate bermerk coklat Monggo, coklat Belgia produksi Yogyakarta itu, tak mampu membuat selera makan saya pulih.

Lalu saya merengek pada Pa il, saya pikir, siapa tahu bihun goreng pinggir jalan bisa membantu saya memulangkan selera makan yang sudah lama beredar entah ke mana. Dan karena ada alasan nugget kesukaan kakak Ilman dan adek Zidan sudah habis, juga roti untuk sarapan kakak Ilman sudah habis, kami melipir dulu ke sebuah mini market di Sarijadi. Usai menunaikan belanja roti, saya berceloteh pada Pa il, karena ternyata di mini market yang itu nggak jual nugget. Pa il melanjutkan perjalanannya ke supermarket, sementara saya didrop di tukang nasi goreng pinggir jalan, untuk “memanggil” si selera makan yang sudah lama jadi “Bang Toyib” itu.

Setelah memesan bihun goreng, saya mencari tempat duduk. Saya terpikir mau melanjutkan bacaan saya yang keputus sore tadi. Tapi pandangan mata saya keburu bertubrukan dengan pandangan mata salah seorang customer tukang nasi goreng di sana. Perempuan ABG, saya yakin umurnya masih belasan, memakai tank top pink manyala yang terkesan murahan, bulu mata palsu yang mencuat, polesan wajah yang jelas terlihat berasal dari make up murahan. Mirip dandanan penyanyi dangdut yang sering dipanggil dari panggung ke panggung kondangan di kampung. Maaf, saya bukan bermaksud merendahkan atau meremehkan mereka. Tapi bukan kesan “artis papan kelas atas” yang muncul karena tidak tampil elegan. #ifyouknowwhatimean

Di samping gadis ABG itu ada seorang pria perlente, yang saya rasa, beliau lebih cocok jadi ayah gadis itu. Tampaknya, bukan hubungan anak – ayah. Si pria perlente ini memesan lima porsi nasi goreng, yang membuat saya heran. Saya pikir mereka hanya berdua, kok, pesan lima? Tapi ya sudahlah. Bukan urusan saya.

Saya meletakkan belanjaan saya di meja, duduk membelakangi mereka, membuka e-reader saya. Mereka berdua, si gadis ABG dan pria perlente ini tidak saling berbicara. Ketika mata saya baru mulai menikmati kalimat yang saya cerna, masuklah tiga pria lain. Salah satunya bertato. Mereka bergabung dengan “pasangan” tadi. Entah kenapa, perasaan saya mendadak tak enak.

Sejak kehadiran si pria bertato ini, suasana meja mulai “ramai”, karena rupanya si pria bertato ini terdengar suka berbicara dan bisa jadi, dia memang ramah. Sayang, saya lupa mengeluarkan headset sehingga saya terpaksa ikut mendengarkan apa yang mereka obrolkan, meski saya tidak mau. Saya sudah tidak mampu berkonsentrasi dengan bacaan saya. Saya mengeluarkan BB saya. Saya butuh bicara dengan seseorang.

Lalu, saya kirim BBM pada salah satu sahabat saya. Entah kenapa, ketika saya mengetikkan kata-kata itu padanya, tubuh saya mendadak gemetaran hebat. Gemetar yang ga penting menurut saya. Entah karena tiba-tiba saya langsung membayangkan siapa ABG yang satu meja dengan saya? Atau apa yang dilakukan keempat pria yang bersamanya terhadapnya? Padahal, si ABG itu terlihat santai mengobrol dengan mereka.

Dari obrolannya, sepertinya memang ABG ini salah satu “hiburan” si pria perlente ini. Si pria bertato dan temannya kerap menuduh si ABG ini suka “bermain” dengan banyak pria. Mereka menggunakan bahasa yang cukup vulgar dan sukses membuat gemetar saya semakin hebat sekaligus jijik. Belum lagi, pria bertato ini sempat memberikan pandangan “super lapar” ke si ABG ini, seolah-olah dia akan “memakan” gadis ini kapan saja. *sigh*

Pasti kalian bertanya, kenapa saya tidak angkat kaki dari sana? Kenapa saya milih bertahan?

Saya punya misi dengan tukang nasi goreng itu (selain misi memulangkan selera makan saya yang sudah cukup lama membolang), yang mudah-mudahan bisa disebut sebagai misi kemanusiaan. Tentu tidak ada hubungannya dengan kelompok orang yang semeja dengan saya.

Untuk alasan itulah saya bertahan.

Tapi di sisi lain, saya merasa tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Jujur, obrolan mereka semakin lama semakin membuat saya jijik. Terus terang, scene seperti itu sudah beberapa kali saya lihat di televisi. Di film Mendadak Dangdut, misalnya. Atau di FTV yang saya tak sengaja pernah tonton. Itu saja sudah cukup membuat saya muak. Tapi saya tidak pernah menyangka, bahwa di kemudian hari, saya akan melihat scene sungguhan seperti ini. Live. Dan saya masih berharap, bahwa di luar tenda tukang nasi goreng itu, ada kru-kru dari Production House.

Oh. Saya salah. Ini scene nyata yang harus saya lihat. Bukan film yang cuma akting. Bukan tuntutan skenario. Ini. Nyata.

Sadar akan hal ini, kalimat yang kemudian saya ketik pada sahabat saya itu adalah, “I’d rather seeing banci than this”.  Dan sahabat yang sudah saya anggap kakak sendiri itu membalas, “Sok cool aja.”

I was trying really hard to look cool. But still, inside of me, I was shivering.

Di kehidupan nyata, saya agak terganggu melihat banci. Tapi, saya masih menghormati mereka. Nah, melihat seribu banci ngamen di depan saya, jauh lebih baik daripada melihat scene yang ada di depan mata saya semalam.

Rasa campur aduk menyelimuti saya. Jijik. Takut. Gemetar.

Tunggu.

Kenapa saya harus gemetar nggak perlu? Toh, pria-pria itu ga akan berbuat senonoh terhadap saya? Pemandangan di dalam kelompok mereka tentu jauh menggiurkan ketimbang saya yang cuma berpakaian ala geek.

Tentu saja bukan karena mereka akan mengganggu saya. Saya gemetar karena aura mesum sudah terlanjur menguar di dalam tenda nasi goreng itu. Jika bukan karena misi saya dengan tukang nasi goreng, saya sudah hengkang sejak mata saya bersirobok dengan mata ABG itu.

Ketika saya kirim BBM pada sahabat saya yang satunya, dia hanya berkomentar, “duh, anak seumur gitu ngapain ya, jalan malam-malam, sama om-om lagi..” <– kinda “polos” question 😀

Sejujurnya, pertanyaan teman saya yang satunya ini membuat saya bertanya lagi. Ke mana orangtua si ABG ini? Apa mereka tahu apa yang dilakukan anaknya? Apa motif anak ini? Dan seterusnya dan seterusnya. Saya makin gemetar ketika membayangkan bahwa orangtua ABG ini tidak tahu apa yang anaknya lakukan di luar rumah. Juga ketika membayangkan bahwa tubuh ABG ini sudah tersedia untuk dijajakan ke pria-pria yang “kehausan”. *tears*

Akhirnya, Pa il muncul. Kehadirannya membuat dunia saya yang jungkir balik sesaat, kembali ke posisi semula. Saya katakan, “belum dibikin bihun gorengnya. Bentar lagi.”

Ketika akhirnya si sebungkus bihun goreng dan misi saya dengan tukang nasi goreng selesai urusan, saya keluar dari tenda itu. Udara segar langsung menghampiri saya. Saya baru sadar, saya belum bernapas tadi. Iya ini lebay banget 😀

Di jalan, saya berpikir. Kenapa tadi saya harus gemetar nggak penting? Toh, mereka nggak akan ngapa-ngapain saya? Dan apa yang dilakukan gadis dan pria-pria itu (mungkin) atas dasar suka sama suka atau ada bisnis, yang bukan urusan saya. Terus, kenapa saya harus khawatir? Itu bukan urusan saya.

Tapi saya berpikir lagi, saya sangat berterima kasih karena punya bapak dan ibu yang begitu bawel, keras, tegas dan lugas dalam mendidik saya. Kalo saya pulang terlambat, diomeli. Pergi ga jelas ke mana, pasti ditanya mendetail. Dulu, saya terganggu dengan itu semua. Saya merasa tidak punya privasi karena harus membiarkan orangtua saya tahu seluruh aktivitas saya, yang membuat saya pernah kucing-kucingan karena ga mau diomeli orangtua saya. Begitu melihat apa yang semalam saya lihat, saya teramat bersyukur. Saya nggak harus hidup di jalan seperti itu. Saya berkesempatan ikut banyak organisasi yang membuat saya (seharusnya) lebih cerdas ketimbang saya masih SD dulu. Biar gimana juga, ABG yang terlihat jalan dengan om-om dan berdandan ga sesuai umur seperti ABG semalam itu selalu ngasih kesan negatif. Belum lagi bayangan saya akan anak itu sudah diapa-apain oleh banyak pria. Duh…

Akhirnya, saya membuat kesimpulan sendiri. Walau saya sudah menikah, sudah tamat baca FSOG dan masih separuh baca B2U, pernah lihat scene semacam di FTV atau di film-film lain dan saya merasa mulai kebal, namun ketika melihat scene itu secara langsung, kekebalan saya akan hal-hal itu mendadak lenyap. Pemandangan semalam hanya meninggalkan rasa jijik tiada tara. Sekaligus campur kasihan. Saya sempat cemas apakah saya bisa tidur atau tidak. Ternyata, saya masih layak disebut Ratu Kebluk. Saya tertidur pulas setelah sampai di rumah. *dance*

Pas saya curhat di Spank Club, bu dokter bilang ke saya, “ehmm.. aku lebih kasian lagi karena udah jadi pecun, kok, diajaknya cuma ke tukang nasi goreng pinggir jalan? *beneran simpati ini*. Soalnya dulu waktu di Bandung aku sempat relawan di KPA, banyak tau pecun-pecun. Jadi tau kalo yang levelnya sebatas resto pinggir jalan gitu, yang paling apes”.

cabe-cabean

Saya ga tau lagi mau ngomong apa setelah baca itu… Semuanya memang terbaca dari pakaian dan make up yang dikenakan si ABG. Saya harap, apa yang saya lihat semalam hanya sepenggal dari shooting FTV.

– peni –

Cilaki, 18 Desember 2013. 10:45 WIB

Advertisements

4 thoughts on “Sepenggal Kisah Semalam (judul terlebay :P)

    1. aku tiba-tiba ingat, mbak Anne. dulu pernah ada temannya teman sekolahku yang begini. suka jalan dengan om-om.
      terus, suatu hari, sekitar dua tiga tahun lalu, dia sudah jadi nyonya kaya yang bertaburan barang bermerk kelas atas.
      dia bilang, “ini hasil gue menjelajah semenjak ABG. gue jadi istri ‘orang'” sekarang….
      entah istri ke berapa. apakah hanya piaraan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s