Blogroll · Racauan

Kamu sih Enak….

Di tengah semrawutnya postingan copras capres di linimasa sebuah media sosial, saya menemukan sebuah postingan yang sama-sama nggak bikin hati adem.

Sementara mayoritas orang asik copas dan berantem sana sini *yang penting ikutan tren sharing tentang capres anu begini copras anu begitu di linimasa*, postingan yang satu ini juga bikin tepok jidat. *pinjem jidat akang Kimutaku buat dicium ditepok boleh, ya*

Jadi ada salah satu kontak saya yang mengeluh di medsos karena dia berselisih dengan tetangganya. Saya nggak tahu persis, sih, awal perkaranya apa, nggak ngikutin, tapi kayaknya masalah pohon tetangga yang berkontribusi bikin rumahnya berasa gelap. Kurang lebih kek gitu.

Yang bikin saya tepok jidat adalah ketika dia mensyen nama suaminya di postingan statusnya itu. Isi mensyennya semacam ancaman gitu, deh. Lalu, di bawah-bawah timeline dia bilang kalo dia merasa dibohongi suaminya, ada lagi statementnya kalo suaminya belain tetangganya, dan seterusnya. Yang komen? Tentu ada yang memihak si suami ada yang memihak si pembuat status. Dan saya sempat baca suaminya komen, cuma saya nggak ingat komentarnya apa, karena saya langsung kejengkang pas baca balasan istrinya yang bilang, “Kamu sih enak! Minggu depan kamu udah pergi lagi! Saya yang di rumah berurusan dengan mereka tiap hari…bla bla bla…” *eh, karena saya nggak berbakat jadi pemain shitnetron sinetron, kalimat itu nggak saya hafalkan bener-bener. Tapi kurang lebih, percakapannya kek gitu, deh*

Untuk ukuran seseorang yang menurut saya pernah jadi mahasiswa, pernah jadi aktivis di masjid yang mungkin pernah belajar mengenai adab terhadap suami, mungkin juga nggak buta mengenai etiket dan netiket, baca postingan orang ini dengan bawa-bawa masalah domestik ke ranah publik itu rasanya annoying banget, deh. Mungkin dia ga sadar, bahwa nulis postingan kek gitu bakalan dibaca banyak orang. Hummm… oke. Dia pikir bahwa kontaknya bukan orang-orang yang nggak dikenalnya. Baginya mungkin semua kontak di medsos adalah orang akrab baginya. Terus saya gimana, dong? Saya bukan termasuk teman dekatnya. Kenal pun tidak. Pernah berinteraksi di masa lalu pun tidak. Saya kebetulan konfirm temenannya di medsos itu hanya karena dia ternyata pernah jadi junior saya somewhere, suaminya pun pernah jadi junior saya dan pernah berkegiatan bareng. Nggak lebih dari itu.

Saya jadi ingat percakapan dengan pa il. Beliau bilang, manusia itu emang defaultnya suka mengeluh. Tapi, manusia juga dikasih filter untuk bisa milah tempat, kepada siapa, juga cara yang tepat buat mengeluh. Masih belum lupa dari ingatan kita, kan, tentang seorang cewek yang curhat di medsos mengenai dirinya sebal kalo harus menyediakan tempat duduk buat ibu hamil di komuter terus nyebar ke mana-mana? Jadi korban cyber bullying deh…

Tapi sebenernya, biar postingan ini sesuai judul, saya sih pengen ngulas mengenai statement kamu-sih-enak yang ada di kalimat kontak saya itu saat menyerang jawaban suaminya.

Balik lagi ke pertengkaran domestik di atas yang sebenernya bukan konsumsi saya apalagi konsumsi pembaca tulisan ini, ~tapibiarsoalnyayangbikinstatusnyakayaksengajapengenduniatau~, statement “kamu sih enak” itu keknya cuma ngeliat dari sisi dia doang. Kepikir, nggak, ya, mungkin suaminya juga pengen banget bilang, “kamu sih enak. Cuma di rumah. Nggak mesti panas-panasan kayak saya di lapangan, tidur nggak nyenyak bentar-bentar ada panggilan di lapangan, belum lagi kalo keadaan darurat, demi ngasih makan kamu sama anak.”

Soal statement kamu-sih-enak pun pernah saya alami beberapa kali. Nggak sedikit juga yang sering bilang ke saya, “kamu sih enak. Rumah nggak jauh sama ortu. Masih punya ortu yang perhatian” atau “kamu sih enak, kamu kerja. Jadi ga pusing ngatur duit bulanan dari suami doang.” Ih, kata siapa. Dan masih ada beberapa statement kamu-sih-enak yang lainnya yang kepanjangan kalo saya tulis di sini karena bukan itu inti tulisan ini.

Saya pernah jadi penonton setia dua teman saya yang bertengkar mengenai statement kamu-sih-enak.

A: “Asik, ya, tiap ada konser band kesayangan, kamu selalu bisa datang. Kamu sih enak, masih jomblo. Penghasilan banyak. Bisa foya-foya.”

B: “Kamu juga enak. Nggak perlu kerja peras keringat. Tinggal nunjuk pembantu mau ini itu. Tiap bulan tinggal nadah setoran dari suami.”

A: “Kamu lebih enak lagi, lah. Ga perlu repot ngurus anak. Makan bisa di mana aja. Bisa hang out sampai pagi. BIsa liburan ke mana aja sendiri. Punya banyak me time. Nggak kepikiran anak sama suami di rumah.”

Kalo diterusin, perdebatan ini nggak ada ujungnya dan saya juga capek ngetiknya. Pokoknya panjang dan kadang bikin ngakak sekaligus miris. *kayak diulang, ya? Harap dimaklum. Golongan darah saya O. #terusngapah*

Dari semua statement kamu-sih-enak itu, saya jadi kepikiran satu hal. Di saat seseorang merasa menderita, merasa susah, dia akan merasa jadi orang yang paling susah sejagat raya sementara hidup orang lain mah enak. Padahal Tuhan menciptakan segala sesuatunya seimbang. Ada enak pasti ada nggak enaknya juga. Kenapa saya bisa jadi kepikiran begini? Karena duluuuu banget, di masa jahiliyah, saya pun pernah *mungkin sering* membanding-bandingkan kalo orang lain itu lebih enak dari saya. Heuheu…

Tapi kan seiring dengan berjalannya waktu, makin banyak ngeliat sana sini, makin bergaul juga melihat banyak postingan orang, saya jadi kayak ngaca. Salah satu efek dari ada medsos sih sebenernya saya jadi kayak punya banyak cermin. Misalnya si A posting aneh yang gimana gitu dan saya nggak suka, saya seharusnya bisa ngambil hikmah dari situ, bahwa saya nggak boleh sama kelakuannya kayak si A. Begitu seterusnya sampai Z.

Nah, balik lagi ke judul. Saya masih yakin bahwa Tuhan tuh ngasih kita sesuatu nggak melulu yang susah. Pasti dikasih kemudahan juga. Kayak percakapan dua teman saya di atas tadi. Si A dikasih “kehidupan enak” yang bisa nonton konser band favoritnya setiap mereka konser di mana aja, bisa foya-foya tanpa mikirin di rumah ada anak dan suami menunggu yang bikin si B iri setengah mati, apalagi band favorit si B itu ya band favorit si A juga. Tempat-tempat liburan yang sering didatangi si A itu ya mimpinya si B juga. Selera si A sama si B sama banget, deh, sementara situasi dan kondisi mereka berdua lumayan beda jauh. Tapi saya juga yakin, jauh di lubuk hatinya si A iri sama kehidupan si B yang sudah berkeluarga dan hidupnya ramai.

Imagegambar ngambil dari sini

Kesimpulan sementara saya, rumput tetangga emang selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Orang lain selalu tampak lebih berkilau daripada diri sendiri… Kadang, saking geregetnya pengen nunjukin kalo dirinya yang paling merana sejagat raya, jadi lupa sama tempat, kepada siapa dan cara mengeluh. Yang penting dunia tau kalo dia merana, bahkan mengomeli suami di depan umum pun nggak jadi masalah. *eh semoga saya nggak pernah melakukan hal ini, yak. Tolong doain*

Jadi, kalo denger ada yang bilang, “kamu sih enak…” sekarang saya maklumin aja. Malah dari lubuk hati terdalam saya mengamini ucapan orang itu. Dari seberang sana, pasti keliatannya saya selalu enak. Nah, asiknya kalo dengerin pendapat orang dari sudut pandang enaknya doang, kita dikasih kesempatan untuk bersyukur duluan sebelum ngeluh. Bener ga sih? 😀

Udah lama nggak ngeblog jadi blur deh mau nulis apa. Hahah…. Harap maklum… 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s