Blogroll · Bunda Ilman dan hari-harinya · Racauan

Jika Baca Buku Bergenre Komedi Malah disembur Adrenaline Rush

buku yang lagi dibaca sekarang
buku yang lagi dibaca sekarang

Oke. Judulnya kepanjangan. Tapi caption-nya pun bakalan lebih panjang dari judulnya 😛

Seharusnya ini diposting kemarin, cross post dari Path. Setelah saya cek, ga masuk di semua akun sosmed lain yang saya cross post. *fentung Path*

Atau mungkin jaringannya yang bapuk? Entah, deh. Mungkin kuota internetnya sudah mendekati limit, jadi udah mulai gigit-gigit bandwidth.

Baiklah, saya akan copas cerita ini dari akun Path saya. Jadi kalo ada yang ngerasa udah baca, ya skip aja. Tapi kalopun dibaca ulang juga gapapa. Nggak dosa, kog 😛

Mestinya bisa ketawa atau paling nggak nyengir lebar pas baca buku KAW ini kayak waktu baca Dilan di angkot.

Well, buku emang soulmateku setiap jadi angkoter.
Tapi, baca buku ini kemaren malah diiringi adrenaline rush, karena lagi-lagi saya dipepet seorang perempuan yang mencurigakan di angkot.

Sebelum kejadian, formasi personel di bangku depan saya ada empat penumpang yang terdiri dari seorang ibu (anaknya duduk di sebelah kiri saya), seorang perempuan berpakaian serba kuning ngejreng ~yang mencurigakan saya beberapa menit kemudian~, seorang cowok muda yang bawa dus berat plus seorang cewek yang sedang asik BBM-an. Mereka berempat duduk nggak saling berdempetan. Gak lama naiklah seorang ibu agak tua dan seorang rekannya. Ibu agak tua ini kepayahan naik angkot karena masalah kakinya.

Menurut artikel yang saya baca di sebuah majalah, konon bookworm itu justru pedulian ama sekitarnya. #penting

Nah, meski lagi baca buku, masa iya saya diem aja liyat ibu agak tua ini susah payah naik angkot? Saya bantulah dengan mengulurkan tangan saya biar dia bisa pegangan. Ibu agak tua itu duduk persis di sebelah saya.

Gak lama, cewek yang duduk di depan saya (yang tadi asik BBM-an) turun, jadi bangku angkot di depan saya yang muat berlima dihuni oleh hanya tiga orang.

Entah kenapa, baru saja cewek yang asik BBM-an tadi turun, perempuan baju kuning yang tadinya duduk di bangku depan saya itu tiba-tiba pindah ke bangku saya, berusaha menyelinap di antara saya dan ibu agak tua tadi.

Pertanyaannya, ngapain dia mau sempit-sempitan di bangku saya sementara di bangkunya masih bisa muat tambahan dua orang lagi? Bangku saya sudah memuat enam orang, maka dengan dia menyelinap di antara kami, berarti jadi bertujuh! Bangku depan malah jadi lowong toh, karena cuma diisi dua penumpang yang personelnya nggak berubah.

Saya langsung pindah ke bangku depan, jadi formasi bangku itu bertiga lagi.

Ada reaksi terkejut dari ibu agak tua itu dengan bertanya, “kenapa pindah?”

Saya jawab, “di situ sempit. Di sini lebih lega”

Orang-orang di sekitar saya menatap saya, sementara perempuan itu pura-pura ga lihat saya, matanya sok-sokan ngeliat ke arah supir angkot. Dan saya gagal berusaha baca buku ini lagi, karena mendadak jantung saya berdesir lebih kencang. Saya simpan buku saya dan berusaha tetap waspada meski jantung berdebar kencang. Perempuan mencurigakan itu mencuri pandang pada saya beberapa kali.

Saya memutuskan untuk turun secepatnya.

Ini kali kedua dalam dua pekan saya dipepet orang justru di saat angkot tidak sedang terlalu penuh.

Oke. Menjelang Ramadhan memang biasanya marak modus pencopetan di angkot dengan berbagai cara. Meski mungkin saya tampak suudzhan, tapi waspada itu perlu daripada menyesal kemudian. Dan saya percaya bahwa semua manusia dikasih gift dari Tuhan untuk bisa mengenali bahaya di sekitarnya.

Nah, buat semuanya, mau di angkot atau di fasilitas umum lainnya, tingkatkan kewaspadaan kalian, yak! Pasti nyesek kalo kita ga curiga saat ada orang lain yang melakukan gerakan tiba-tiba seperti ujug-ujug mendekati kita.

Advertisements

2 thoughts on “Jika Baca Buku Bergenre Komedi Malah disembur Adrenaline Rush

  1. Serem ih teh, aku juga pernah. Tapi lagi angkotnya penuh. Ada bapak-bapak maksa naik angkot padahal penuh, akhirnya dia malah duduk di bangku yang suka ada di deket pintu, yang ngadepnya ngebelakangi supir, aku duduk di pinggir pintu. Taunya, itu tangan bapak-bapak ngeraba tas aku, langsung aja aku kedepanin tasnya. Kayaknya dia mulai ketahuan sama penumpang lain, dia langsung turun. Mamang angkot nyampe suruh aku periksa tas, “coba teh periksa tas dulu bisi ada yang hilang”. Alhamdulillah gak ada yang ilang,. Modus mereka emang beda-beda, kayaknya mau di manapun mesti waspada.

    1. aku juga pernah ngalamin henponku diambil hampir sepuluh taun lalu. aku bentak orang yang ngambil, sama dia henponnya ditaruh di antara kami. sambil marah dianya, “jangan nuduh sembarangan!”

      padahal jelas-jelas tasku sebelumnya nutup. dia nutupin tasku sambil buka resletingnya lalu ngambil henponku. gila!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s