Uncategorized

If Life is So Short…

Isn’t it funny how time seems to slip away so fast
One minute you’re happy, the other you’re sad
But if you give me one more chance
To show my love for you is true I’ll stand by your side your whole life through
~~~~
If life is so short
Why won’t you let me love you
Before we run out of time

If love is so strong
Why won’t you take the chance
Before our time has gone
If life is so short, if life is so short

~~~~
Love is a word that explains how I feel for you
And when you’re in my arms, all my dreams come true
And when you’re not around
You can’t hardly see
These tears that I’m crying now are for you to be with me

If Life is So Short ~ The Moffats

Selama tahun 2014 berjalan, saya sudah kehilangan banyak orang-orang yang pernah saya kenal baik dalam hidup saya. Mereka sudah pergi mendahului saya, menemui Sang Pencipta. Dimulai dari salah satu paman kesayangan saya, Mbah Nata, anak-anak memanggilnya. Rasanya beliau masih ada di sini. Rasanya, saya masih sering diketawain beliau, diledekin untuk hal apapun. Rasanya, beliau masih suka minta tolong Pa Il buat nganterin ke bandara atau stasiun kereta api di akhir pekan, karena beliau mau pulang ke Semarang. Rasanya, Ilman masih sering tertawa setiap Mbah Nata datang. Wangi parfumnya. Suaranya. Rasanya beliau masih ada di sini. Padahal sudah lebih dari enam bulan beliau berpulang.

Yang paling membuat saya shock adalah kepergian Anna. Sekitar tahun 2009-2012, saya masih sering ngobrol dengannya. Telponan. Curhat apa aja. Trus, karena saya makin nggak sempet chit chat, ngobrol dengan Anna pun intensitasnya makin berkurang hingga habis. Tapi, terakhir, saya ngobrol dengannya bulan Agustus, setelah saya kuret. Kami ngobrol nggak banyak, hape saya keburu mati. Saya nggak pernah menyangka, bahwa itu akan jadi obrolan saya dengan Anna untuk terakhir kalinya, karena pada tanggal 3 Oktober 2014, Anna tutup usia, bahkan saya belum sempat tahu dia sakit dulu sebelum tutup usia.

Saya memang sempat lihat dia ganti display picture di BBM, tangannya kayak habis diambil darah gitu. Saya pikir dia ikut donor darah. Ternyata…. >_<

Boleh dibilang, saya super menyesal. Sangat menyesal. Dan lebih menyesal lagi, karena saya bahkan nggak datang takziyah pada saat jenazah datang ke rumah ibunya, karena harus pergi ke luar kota. Walau saya tahu, penyesalan saya nggak ada gunanya, jauh lebih baik saya banyak mendoakan supaya tempat Anna yang baru sekarang terang, luas, diberi pandangan surga, anak-anak dan suaminya sanggup bertahan ketika syaithan mulai menggerogoti keikhlasan mereka, teuteup. Saya teuteup menyesal. Saya bahkan nggak bisa lagi menitikkan air mata. Sesek berat yang ada.

Saya sadar bahwa penyesalan selalu datang terlambat. Bahwa kalo datang duluan itu namanya pendaftaran. Belajar dari sini, saya mulai ngontak lagi teman-teman lama yang dulu sering jadi teman sharing. Meski mungkin mengundang kecurigaan, karena dikiranya saya dari MLM, bakalan ngajakin mereka join. NOOOOOO! BUKAN ITU! Saya nggak ikut MLM manapun! Saya cuma nggak mau menyesal, entah mereka atau saya duluan yang pergi, saya nggak menjaga silaturahiim lagi dengan mereka. Itu saja.

If life is so short why won’t you take the chance before our time has gone?

~peni. 22.10.2014.11.18AM~

Advertisements

One thought on “If Life is So Short…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s