Blogroll · Bunda Ilman dan hari-harinya · Racauan

Everyone Is Special

You are special, you’re the only one
You’re the only one like you
There isn’t another in the whole wide world
Who can do the things you do

Oh, you are special, special, everyone is special
Everyone in his or her own way
Oh, you are special, special, everyone is special
Everyone in his or her own way

You’re important, oh, you really are
You’re the only one of you
The world is better just because you’re here
You should know that we love you

Oh, you are special, special, everyone is special
Everyone in his or her own way
Oh, you are special, special, everyone is special
Everyone in his or her own way
Everyone in his or her own way

Everyone Is Special ~ Barney

Sudah beberapa bulan ini, saya pusing lihat timeline bukumuka yang isinya cacian makian antar kubu. Bahkan setelah presiden terpilihpun, masih banyak yang sok kritis dan mulai lagi kalimat-kalimat koleksi kebun binatang keluar.Ā  Yang bikin saya ilang feeling adalah orang-orang yang senang mencaci maki itu orang-orang yang berpendidikan tinggi, berwawasan luas, dan sayangnya, saya hormati.

Sebetulnya, demi memelihara ketentraman dan kedamaian hati, sejak perang posting yang isinya hoax, caci maki, semua pelaku sudah saya unsubscribe, unfollow, bahkan nggak segan-segan saya block. Ketika saya pikir keadaan sudah tenang, ternyata orang-orang yang tadinya saya pikir santun dan beretika sehingga di bulan-bulan lalu nggak kena sweeping saya, beberapa hari belakangan mulai bertingkah.

Sebetulnya saya nggak heran sih. Setiap manusia memang punya kecenderungan meremehkan, mencerca, menghina, merendahkan, dan menuding orang lain, apalagi kalo orang yang sedang dituding-tuding itu sedang dalam posisi untuk itu. TAPI. Apakah pernah, manusia itu sebelum mencerca orang lain ngaca dulu? Pake cermin segede pintu kalo perlu. Tanya ke diri sendiri: apakah saya sudah sempurna sampai saya berhak menuduh orang lain begini dan begitu? Mencerca kinerja orang lain yang begini dan begitu?

Ketika dia asik bikin postingan panas, berantem sama orang lain, pernah kepikir, nggak, kalo mungkin waktu yang dipakainya untuk melakukan hal-hal itu jauh lebih bermanfaat seperti nemenin keluarga atau bersih-bersih got? Atau ngulen roti biar bisa dimakan rame-rame, misalnya? Belum lagi, saya baca kapan dia posting itu di jam kerja dan saya tahu beberapa orang ini kerja di beberapa instansi pemerintahan. Oh. Halooo šŸ˜€

Perilaku kayak gini, dilakukan oleh orangtua yang punya anak, di depan anaknya, jadi contoh lah buat bocah-bocah yang kita semua tahu bahwa anak-anak adalah peniru ulung, expert imitator.

Nggak sedikit belakangan terekspos di media mengenai bullying terhadap anak. Dimulainya dari mana? Ya dari mencontoh perilaku orang dewasa, tentu saja. Mereka melihat perilaku orang dewasa di sekitarnya. Orang-orang dewasa ini pikir anak-anak asik dengan dunianya sehingga tidak terbetik di kepala mereka ini bahwa anak-anak sedang meneladani tindak tanduk mereka.

Setiap hari, saya selalu bilang pada anak-anak saya, bahwa mereka baik. Mereka penting. Mereka istimewa. Tidak hanya buat saya sebagai ibunya, tapi juga untuk semua orang di dunia. Di kantor, ada dua balita yang sering cari perhatian orang dewasa. Salah satunya, usianya hampir empat tahun, nyaris tidak diperhatikan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya, selain oleh orangtuanya, karena dianggap menyebalkan (sudah mulai punya pendapat sendiri, dll). Sementara, si usia satu tahun emang lagi kinyis-kinyis buat diperhatikan. Bagi saya, mereka berdua tetap anak-anak istimewa yang perlu perhatian orang dewasa. Meski saya sering gendong si satu tahun, saya tetep menyapa si empat tahun, tetap mengajak bercanda si empat tahun. Saya ingin tunjukkan padanya bahwa dia istimewa, dia penting, dia baik. Dia punya hak yang sama dengan si satu tahun.

Coba spell ini, deh: You are nice. You are kind. You are important. I am nice. I am kind. I am important. (terinspirasi dari cerita The Help karya Kathryn Stockett)

Selagi saya masih jadi pementor dulu, saya selalu berusaha memperhatikan semua adik mentor saya dengan perhatian yang sama, walau jadinya berebut. Saya tahu rasa enaknya diperhatikan orang dewasa. Saya tahu rasa enaknya didengarkan. Sehingga saya tahu, bahwa setiap orang adalah istimewa, punya keunikan masing-masing.

Terus, kenapa mesti rebutan mencaci maki? Kenapa mesti rebutan menghina? Kalo kata pujian, sanjungan, kritik membangun masih banyak bertebaran untuk disampaikan? Tak tahukah kalian, bahwa setiap perasaan yang kita utarakan itu menular? Kita bahagia dan kita bagi kebahagiaan itu, orang lain bisa ikut bahagia, lho. Kalo kita jeprut, kita bagi kejeprutan kita ke orang lain, orang lain bakalan ikutan jeprut. Serius, deh! Pernah, nggak, berangkat dari rumah dengan perasaan hepi, di tengah jalan ketemu orang lagi maki-maki dan kita ikutan kena? Apa yang terjadi? Tetep hepi atau jadi bete? Hebat aja kalo tetep hepi. Hahaha šŸ˜€

Mulai sekarang, mulai dari diri sendiri, sebelum ngata-ngatain orang lain, ngaca dulu, deh. Udah pantes belum menghina orang lain? Saya pernah dikasih tau, bahwa ketika jari telunjuk mengarah ke orang lain, ada empat jari lain yang mengarah pada kita. Sebelum mengembuskan kebencian pada orang lain, ngaca dulu. Kita sendiri udah bener, belum? Kita sendiri sudah pantas menghina belum? Kalo belum? Perbaiki diri dulu, karena PR memperbaiki diri itu nggak pernah ada habisnya, bahkan sampai kita ketemu liang lahat. Hohoho.

Jadi, daripada asik menghina, yuk, kita hormati orang lain. Karena yang saya tahu, everyone is special in his or her own way šŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s