Bunda Ilman dan hari-harinya · Cerita Harian Ilman · Racauan

Ilman Can Do It!

Everywhere we want to go
Everywhere you want to go
One time one time
Yeah we will be there one time
Baby let me be your leader
One opportunity
One time one time
Let`s rock and roll, go baby, let’s conquer the world

I’m the one, yeah, the chosen one
baby what are you waiting for?
I go you go, I don’t hesitate, I just do it
People told me nothing’s easy that’s why I go hard
I go you go
Let’s rock and roll, go baby, let’s conquer the world

Boom Boom tap Boom Boom tap
Call me freak call me Mr. Monster
Right I cruise around non-stop
I don’t take a break I break bricks
What’s the M-O-N-S-T-E-R
Nothing’s easy I must go wild
No exit dummy learn the lesson
Don’t let you hate yourself in the mirror

Everywhere we want to go
Everywhere you want to go
One time one time
Yeah we will be there one time
Baby let me be your leader
one opportunity
One time one time
Lets rock and roll, go baby, let’s conquer the world

I’m the one yeah the chosen one
baby what you waiting for?
I go you go I don’t hesitate I just do it
People told me nothing’s easy that’s why I go hard
I go you go
Let’s rock and roll, go baby, let’s conquer the world

Yeah I do it for my mama and I do it for my papa
Right I do it for 내 나라 KOREA
One day imma die yeah I die legend
So you love me like John Lennon but I ain’t begging
Watch me I’m a big monster
Let enemies be anxious
When I be relaxing
No exit dummy learn the lesson
Don’t let you hate yourself in the mirror

Everywhere we want to go
Everywhere you want to go
One time one time
Yeah we will be there one time
Baby let me be your leader
One opportunity
One time one time
Let`s rock and roll go baby lets conquer the world

What What What
(You can’t stop me now I ain’t going down)
What What What
(I be shining star yes your superstar)
What What What
(You can break me down ain’t no lie)
Are you ready (yes sir) Let’s go to the world
Ready (yes sir) Top of the world

Everywhere we want to go
Everywhere you want to go
One time one time
Yeah we will be there one time
Baby let me be your leader
One opportunity
One time one time
Let`s rock and roll, go baby, let’s conquer the world

Everywhere we want to go
Everywhere you want to go
One time one time
Yeah we will be there one time
Baby let me be your leader
One opportunity
One time one time
Let`s rock and roll go baby lets conquer the world

~ Ryu Can Do It – CNBLUE ~

Dua tahun yang lalu, ketika penanggung jawab Ilman di sekolah terapi memindahkan Ilman masuk ke TK umum untuk proses sosialisasi, progres yang dialaminya luar biasa banyak. Ilman juga luar biasa aktif bicara walau masih tidak terstruktur juga bergerak, tidak hanya di rumah, di sekolah juga. Maka, untuk mengantisipasi energi berlebih dan rasa penasarannya, oleh bu Henny di TK Sarijadi, Ilman sering diminta lari-lari dulu sebelum masuk kelas. Di kelas, tentu Ilman nggak bisa diam. Maunya buka semua laci, merogoh semua tas, bongkar harta karun bu guru. Nggak disangka, walau perintahnya adalah, “ambil buku tempel”, Ilman mau duduk beberapa menit dan anteng mengerjakan tugas yang diberikan. Perintah ini jauh lebih efektif ketimbang perintah, “Ilman duduk”, tapi kemudian ditinggal, sehingga sudah pasti, Ilman nggak akan duduk. Lah wong yang nyuruh dia duduk malah ninggalin dia.

Setahun lalu, ketika kepala sekolah di sekolah terapi Ilman selama empat tahun, menyampaikan pada saya dan keluarga, bahwa mereka memutuskan tidak menginklusikan Ilman ke SD umum, ketika itu saya pikir ini baik untuk Ilman. Maka, dicobalah selama setahun, dengan status Ilman sebagai anak kelas satu SD, hanya bersekolah di sekolah terapi (SLB). Sama seperti SD pada umumnya, Ilman juga belajar mata pelajaran akademik, kok. Dikasih PR juga 😀

Tapi…

Kemudian saya sering dapat laporan dari penanggung jawabnya bahwa Ilman sering banget melamun. Sering nggak fokus kalo diajak bicara. Oke. Ilman memang masih belum bisa fokus saat diajak bicara. Tapi melamun? Rasanya Ilman jarang sekali bengong kalo di rumah, kecuali ketika dia akan tantrum atau mau marah besar (baca: ngamuk). Kenapa Ilman ngamuk? Biasanya karena lapar, internet mati, main game kalah, atau ponsel yang dipegangnya hang. Itu aja. Selain itu, Ilman lebih banyak ngoceh (meski kata-katanya tidak terstruktur, saya biarkan, karena dia perlu melatih banyak kata) dan tubuhnya bergerak selalu. Jadi, boleh dibilang, Ilman hampir tidak pernah melamun. Satu-satunya gerakan diam adalah ketika tidur.

Ketika akhirnya saya bawa Ilman ke CDC (Child Development Care), bertemu dengan Diah Puspasari, S.Psi juga dr. Purboyo Solek, mereka menyarankan Ilman pindah sekolah, dengan harapan Ilman bisa mengimitasi perilaku teman-teman lain yang bukan termasuk anak berkebutuhan khusus.

Kalo ada yang nanya, apa diagnosa Ilman, sini saya kasih tau. Panjang, sih. Sabar ya, bacanya 😛

Diagnosa Ilman (sebelumnya asperger, tapi setelah dilakukan pemeriksaan ulang, hasilnya bukan asperger) adalah gifted disinkroni dengan perilaku autistik ditambah kesulitan belajar secara spesifik. Apa itu gifted? Berbakat istimewa. Apa itu disinkroni? Tidak selaras. Jadi, gifted disinkroni itu berbakat istimewa tidak selaras. Perilaku autistik dari mana? Yah, itu bawaan dari IQ-nya. Kata dokter Purboyo, semakin tinggi IQ anak gifted, perilakunya semakin autistik. Bukan autis, yah. Perilakunya aja yang jadi autistik. Anaknya sih semestinya “normal”, cuma karena casingnya “aneh”, jadi seperti anak autis.

Pasti pada penasaran berapa skor IQ Ilman. Ya, kan? Itulah. Ini dia masalahnya. Karena ada tambahan “tidak selaras” dan “kesulitan belajar secara spesifik” lah yang membuat tes griffith dan tes serupa menjadi sulit dilakukan, karena Ilman belum paham semua instruksinya. Jadi, gimana, dong?

Ilman perlu banyak sekali perombakan. Jadi, salah satu upaya saya dan Pa il adalah dengan memindahkan Ilman ke sekolah umum yang mau menangani anak berkebutuhan khusus. Saya nggak bermaksud mengecilkan peran sekolah terapinya, ya. NO! It’s a big NO. Bukan itu. Saya rasa, sekolah terapi yang sudah menjadi tempatnya belajar selama empat tahun itu sudah menjadi comfort zone Ilman, sehingga Ilman “enggan” untuk berkembang lagi. Saya perhatikan, Ilman perlu challenge yang lebih menantang.

Seperti yang saya lihat ketika Ilman bersekolah di TK Sarijadi. Dengan jumlah teman yang sangat banyak, karakter yang berbeda, ini menjadi challenge tersendiri untuk Ilman (juga gurunya, sih 😛 ) ketika dia harus berbaur dengan teman-temannya itu. Ilman beruntung masuk TK Sarijadi, dibimbing Bu Henny, di mana semua teman sekelasnya selalu mendapat tugas kehormatan untuk menyambut Ilman setiap kali Ilman datang ke sekolah. Nah, sikap ini selain membuat rasa percaya diri pada Ilman tumbuh, rasa care dari teman-temannya terhadap anak istimewa seperti Ilman juga muncul. Saya lihat, Ilman betah ada di TK Sarijadi dan semangat sekolahnya selalu muncul setiap pagi. Meski, terkadang, ada perbedaan cara mengajar antara TK Sarijadi dengan sekolah terapi Ilman, semua berjalan baik.

Atas dasar ingin mengembalikan Ilman ke zona yang lebih challenging, saya dan Pa il sibuk hunting sekolah. Sebetulnya, SDHT (Sekolah Dasar Hikmah Teladan) sudah jadi incaran Pa Il sejak Ilman masih TK. Dan pas saya dan Pa Il datang ke sana, betapa terkejutnya kami, masih juga bulan Oktober 2013, waiting list sudah belasan. Padahal yang diterima cuma 6 siswa ABK per angkatan. Huweeee… Di sekolah lain malah lebih ngenes. Hanya dua anak yang diterima per angkatannya.

Ada masanya, ketika harapan saya dan Pa Il seperti dibuat “hilang”. Mulai dari Ilman yang nggak mau bekerja sama saat tes psikotes, rewel setiap kali diajak ke SDHT, dan nggak ada kabar sampai bulan Mei, padahal katanya penerimaan siswa ABK itu diumumkan di bulan Januari akhir. Saya dan Pa Il hunting sekolah sana sini, kuotanya udah penuh semua 😥

Allah Maha Penyayang. Allah memberikan kesempatan bagi Ilman untuk keluar dari comfort zone. Nyaris bulan Juni, Pa Il dapat kabar dari SDHT, bahwa Ilman dikasih kesempatan untuk bergabung dengan SDHT. *sujud syukur*

Ilman sekarang ada di kelas 1 Khandak. Tutor Ilman adalah Pak Mukhlis. Manajer Kelas Ilman adalah Bu Euis dan Bu Vitri. Mereka adalah orang-orang hebat yang telah menjadikan anak-anak di kelas 1 Khandak tim yang bisa dewasa menyikapi anak berkebutuhan khusus seperti Ilman.

Sabtu lalu, Ilman ikut family gathering kelas 1 di Wisata Kuda, Paku Haji, Cimahi. Tujuannya untuk unjuk kerja. Seluruh kelas 1 dibagi tiga kelompok untuk show. Kelompok satu perform hafalan Surah An-Nabaa’, kelompok dua perform hafalan Asma’ul Husna, dan kelompok tiga perform Mars SDHT. Ilman termasuk kelompok ketiga. Tapi, sesampainya di sana, Ilman malah asik perform sendiri (baca: asik senam sendiri).

Beberapa hari sebelumnya, Pak Mukhlis ngabarin saya, kalo pas ada acara lomba di Gebyar Muharram di sekolah, Ilman dapat juara terbaik untuk Lomba Menyusun Huruf Hijaiyah.

Karena tempat family gathering itu luas, jauh lebih luas dari sekolahnya (yang padahal udah luas itu), Ilman lari sana-sini dengan senangnya. Nah. Di situ kan ada arena flying fox. Pa il ngajakin Ilman naik ke tower flying fox. Tapi Ilman ga mau. Pas saya ajakin ke bawah tower, teman-teman Ilman sudah antri, masing-masing pegang tiket flying fox. Saya kasih tiket ke Ilman, saya bilang, “Kakak antri di sini. Sama teman-teman Kakak. Kakak akan ikut flying fox, seperti teman Kakak yang lain”. Tiketpun dipegangnya, walau tentu saja, dia elesekengeun (ga bisa diem). Kadang sengaja memerosotkan diri dari bangku, kadang berniat lari, dan lain-lain.

Kebetulan, teman-teman yang sedang antri itu adalah teman-teman sekelas Ilman. Mereka ngobrol dengan saya. Mereka cerita, kalo Ilman suka nuker nama mereka. Misalnya Keisya dipanggil Haniva atau Bintang. Atau Bintang dipanggil Haniva, dst. Mereka juga cerita kalo Ilman suka jailin Bintang. Saya pakai kesempatan itu untuk mengajak teman-teman Ilman jadi satu tim, sebagai pencegah Ilman jailin teman yang lain. Kayaknya, aura saya pas jadi pembina PAS masih ada. Langsung bisa ikrib sama bocah-bocah sekelas Ilman. Hihi…

Jujur aja, saat saya menulis ini, saya menitikkan air mata haru, karena Ilman sedang bersama teman-teman sekelas yang bisa menyikapi perbedaan Ilman dengan mereka. Masya Allah….

Lalu.. tada..! Giliran Ilman dipasangkan harnes pun datang. Sebelumnya, saya tunjuk teman-teman Ilman yang sudah duluan dipasang harnes dan naik ke tower. Saya bilang, “Tuh! Putra udah naik ke atas. Harya juga. Kakak Ilman juga bisa!”

Nggak dinyana, pas dipasang harnes dia nurut aja. Terus naik ke tower (untuk yang ini sih kudu didampingi Pa Il. Jaga-jaga kalo pas di atas tower dianya aneh-aneh). Saya sama Zaidan lari ke arah rute flying fox, siap-siap ambil gambar. Walau, yaaaah… Zaidan pakai ngadat segala… >_<

Sewaktu sudah giliran Ilman “terbang”, operator membantu Ilman pegangan tali yang bolak balik dilepas. Padahal dia udah ada di posisi siap meluncur. Duh, berkali-kali dilepas mulu tali pegangannya. Entah tindakan saya tepat atau tidak, yang jelas, saya teriakin dari bawah, bilang, “Pegangan, Kak. Talinya dipegang! Ayo! Kakak bisa! Bismillaah, Kak!”

AJAIB!

Ilman mendengar suara saya, menoleh pada saya, lalu tangannya berpegangan pada tali pegangan dan WOOOOOSH! Dia pun meluncur! Ilman can do it! Walau pakai sontrek Zaidan ngadat, saya berhasil mengambil gambar ini. Alhamdulillaah.

IMG_9624

Terus terang, saya nggak pernah percaya diri apakah saya mampu membimbing Ilman. Ketika kemarin Ilman mendengar dan mengerjakan instruksi saya, jujur saja, rasa percaya diri saya nambah walau sedikit. Dikiiiiiiit banget. Bukan saya nggak percaya kekuatan sendiri. Tapi da apa atuh lah saya teh. Rasanya saya masih belum bisa apa-apa untuk bisa membimbing Ilman, jadi ibu yang baik untuk Ilman.

Progres Ilman dan saya belakangan ini (sejak Ilman pindah sekolah) di antaranya, saya belajar untuk lebih banyak berkomunikasi dengan Ilman ketimbang marah-marah. Dulu saya gampang sekali marahin Ilman, karena saya nggak sabar. Tapi guru tutor Ilman, sedikit banyak, membimbing saya, mengajak saya bekerja sama, yang intinya, Ilman tuh bisa diajak ngobrol, kok. Kita harus sabar.

Plus, saya banyak melihat contoh orang-orang yang sedang berjuang mendampingi anak istimewa mereka sambil berusaha menyelami pengalaman mereka, saya harap ini bisa jadi salah satu referensi saya untuk mendampingi Ilman. Saya tahu, ini bukan pekerjaan mudah. Perjalanan menuju Ilman yang kelak bisa berbaur dan berkomunikasi dengan yang lain seperti seharusnya bukanlah perjalanan mulus dan mudah.

Melihat progres ini, semoga saya dan Pa Il nggak salah langkah ketika kami membuat keputusan memindahkan Ilman ke sekolah lain, karena Ilman perlu keluar dari comfort zone.

Sebetulnya, sekarang ini kami masih punya masalah besar, sih. Soal jemputan. Driver antar jemput dari sekolah Ilman ngambek dan memutuskan ga mau lagi antar jemput Ilman karena Ilman dianggap monster pengganggu. >_<

Jadi, sementara ini (entah sampai kapan), Ilman diantar jemput Pa Il, dengan resiko, Pa Il harus datang terlambat ke kantor juga kepaksa berkurang waktu istirahat makan siang. Nggak jarang Pa Il harus menggeser waktu ketemu tamu di kantor 😦

Doakan saja kami bisa ketemu jalan keluarnya, ya….

Kakak Ilman, seperti yang dibilang YongHwa Ahjussi di lagu Ryu Can Do It: “People told me nothing’s easy that’s why I go hard”, “Call me freak, call me Mr. Monster – Right I cruise around non-stop – I don’t take a break I break bricks – What’s the M-O-N-S-T-E-R – Nothing’s easy I must go wild – No exit dummy learn the lesson – Don’t let you hate yourself in the mirror”

Then I’ll go, you’ll go, I don’t hesitate I just do it. Sure you can do it, Ilman! Let’s conquer the world!

Advertisements

2 thoughts on “Ilman Can Do It!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s