Bunda Ilman dan hari-harinya · Racauan

9 Years and Still Counting

Tak sulit mendapatkanmu
Karena sejak lama kaupun mengincarku
Tak perlu lama-lama
Tak perlu banyak tenaga
Ini terasa mudah…

Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila kusalah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah…

Jangan cintai aku apa adanya
Jangan…
Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan ke depan

Jangan Cintai Aku Apa Adanya ~ Tulus

14140514182_565b5f7da5_o

Nine years and still counting, Insha Allah…

Happy anniversary, papa…

Terima kasih untuk selalu menjadi teman baik, tempat berkeluh kesah, tempat diomelin, dan lain-lain dan lain-lain.

~~~

Saya dan Pa Il mungkin bukan pasangan super romantis yang sering mengumbar gombal satu sama lain. Kalo di Net tv tuh ada sitkom Tetangga Masa Gitu, di mana ada pasangan semacam Bastian dan Bintang, yang setiap harinya Bastian itu sering banget, deh, mengeluarkan kata-kata manis lengket meleleh (coklat kepanasan?) pada Bintang, yang ntar Bintang bakalan bilang, “ooooh… so sweet…”

Bagaimana dengan saya? Sering dikasih kata-kata manis lengket meleleh oleh Pa Il?

Nggak pernah. Haha. Selama sembilan tahun saya berupaya selalu bikin ucapan yang romantis dan mendayu-dayu dengan harapan dapat jawaban, “makasih, sayang” atau “awww… so sweet”. Tapi, jawaban yang saya dapat selalu, “Hidup PERSIB!” Dan kali ini, kalimat “Hidup PERSIB!” itu benar-benar sangat menggema, apalagi masih gagal move on pasca kemenangan PERSIB di ISL Jumat pekan lalu. Kemenangan yang sudah dinantikan selama 19 tahun.

LAH! Ini kenapa jadi ngomongin PERSIB?

Begitulah. Selama sembilan tahun saya menjadi istri Pa Il, saya menyadari bahwa romantis itu nggak melulu ditunjukkan dengan ngasih bunga, kado kecil atau apalah. Pernah, sih, ngebayangin, Pa Il itu bakalan bersikap “romantis” ala oppa-oppa di dorama romantis Korea, contohnya di dorama Personal Taste, ada Jeo Jin Ho yang pas ngelamar Park Gae In dengan cincin yang diikat di balon.Β  But I realized one thing. Dia itu Pa Il. Bukan Jeo Jin Ho yang diperankan oleh Lee Min Ho. Pa Il ya Pa Il. Bukan orang lain πŸ˜€

Sembilan tahun, selain ada dua nyaris tiga anak, ada apakah lagi? Sudah mulai saling pengertian kah? Frekuensinya sudah sama kah? Kalo bicara soal frekuensi, jujur aja, sampai sembilan tahun kami jalan bareng sebagai pasangan menikah plus tiga belas tahun sebagai sahabat, frekuensi kami nggak pernah bisa sama. Di sinilah uniknya. Bisa jadi, kalo frekuensi kami sama, kami akan jadi pasangan yang membosankan. Karena terlalu sama dengan cerita-cerita manis. Kadang ngiri, kok, kalo liyat suami orang yang suka posting sesuatu buat istrinya, dengan kata-kata manis lengket meleleh kayak coklat kepanasan. Balik lagi. Pa Il ya Pa Il. Saya nggak jadi iri dan malah bersyukur bisa hidup bareng Pa Il. Karena dengan Pa Il, dunia saya nggak hitam putih. Saya bisa melihat warna-warna lain di dunia ini. Mudah-mudahan di akhirat nanti, akan ada lebih banyak warna lagi yang bisa saya lihat bersamanya.

Frekuensi berbeda nggak berarti jadi love-hate relationship juga, sih. Saling ngisi aja gitu. Kalo dibilang kadang suka ngiri sama mereka yang suka kencan berdua ama pasangannya di hari spesial, saya sih kenapa nggak ngiri? Kok, mereka bisa, ya? Bahkan ada temen yang suka nasihatin saya, bahwa pergi berdua itu sesekali penting. Tapi nyatanya, saya pernah pergi nonton berdua Pa Il malem-malem, yang ada gelisah dan ga bisa nikmatin filmnya. Kangen sama bocah di rumah πŸ˜€

Begitu juga kalo nekat mau sok sok having dinner berdua di luar rumah. Nyatanya obrolan kami ga ada bedanya dengan di rumah atau di waslap πŸ˜› Belum lagi rasa gelisah karena mikirin bocah di rumah. Hahaha… (eh, emangnya kudu ngobrol apaan, sih?)

Kalo soal “romantis”, pernah, kok, Pa Il bikinin saya roti dengan taburan meses dibentuk hati. Trus pas ngasi ke saya, ucapannya adalah, “Will you marry me?” di hari ulang tahun saya. Mestinya saya bilang, “awww… makasih…” terus terharu gitu ya, minimal berlinangan air mata terus meluk Pa Il, yang ada saya malah ngikik dan bilang, “eh, bukannya udah?” Karena sumpah, saya malah geli dengan drama itu. Hihihi. Namun yang jelas, saya nggak pernah lupa kalo kado terindah yang pernah dia kasih adalah durian. Kayaknya, saya udah jutaan kali cerita soal ini, deh!

Jadi ya begitu. Kalopun banyak yang kasih ucapan selamat anniversary pada kami, saya hanya berharap bahwa itu adalah doa seperti saya berdoa bahwa kami sudah melalui sembilan tahun dan masih akan terus… terus… dan terus…. Aamiin…

Makasih, ya, buat teman-teman, saudara-saudara, paman, bibi, kakek, nenek, yang selalu mendoakan kami.. Saya harap, semoga jalan di depan kami masih sangat panjang terbentang untuk kami lalui…

10794589934_fc6d482dd9_o 14102109645_934849c028_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s