Racauan

There’ll be No More Tears in Heaven…

would you know my name?
if I saw you in heaven
would it be the same?
if I saw you in heaven

Time can bring you down
Time can bend your knees
Time can break your heart
Have you begging please, begging please

Beyond the door
There’s peace I’m sure
And I know there’ll be no more
Tears in heaven…

~ Tears in Heaven, Eric Clapton ~

Beberapa waktu yang lalu, mbak Anne posting beberapa foto figurine Gadis Penjual Korek Api karya om Oscar a.k.a Tupai Merah di plurk.

Lalu, Kobo komentar, “ini cerita natal yang sedih”.

gadis penjual korek api

Saya memang nggak merayakan natal. Tapi saya cukup ingat cerita sedih ini. Pertama kalinya, saya menonton film Gadis Penjual Korek Api itu di TVRI, sekitar seminggu setelah almarhumah ibu saya wafat. Ibu saya meninggal tanggal 18 Desember 1983, seminggu kemudian natal, TVRI nayangin film itu. Saya ingat ketika si Gadis Penjual Korek Api itu menyalakan satu persatu korek api sambil membayangkan kehangatan makanan lezat, rumah yang hangat dengan ada orangtua di dalamnya, saya merasakan air mata saya mengalir deras. Itulah pertama kalinya air mata saya mengalir deras lagi setelah ibu saya dimakamkan.

Sebelumnya, ketika tahu bahwa ibu saya sudah mengembuskan napas terakhir, saya menangis. Tapi tangisan saya lebih karena dipicu tangisan tante saya yang meledak ketika itu. Saya nggak paham kenapa saya menangis. Harap dimaklum. Usia saya ketika itu baru saja enam tahun. Saya sudah mengerti kalo ada yang wafat itu artinya nggak pernah bisa kita temui lagi di keseharian kita. Tapi saya belum sampai step memahami arti bahwa kita sudah beda alam dengan orang yang meninggalkan kita itu.

Beberapa waktu setelah ibu saya dimakamkan, saya, bapak dan adik saya menjalani hari-hari melanjutkan hidup di rumah baru, yang seharusnya kami tinggali bersama ibu. Kalo orang Sunda bilang, masih baal, jadi belum begitu terasa “kehilangan”nya.

Jadi, pas nonton itu, saya nangis sesenggukan. Kebetulan bapak ada di sebelah saya, langsung memeluk saya. Dan pertama kalinya sejak ibu wafat, saya memanggil ibu dalam tangis saya di pelukan bapak. Saya lupa segimana beratnya untuk seorang gadis berumur enam tahun menghadapi beratnya hari-hari tanpa kehadiran ibunya. Saya hanya ingat, bahwa saya bertahan dengan segala kenangan yang saya lalui dengan almarhumah ibu saya, di hari-hari terakhirnya ketika beliau masih bisa berjalan dan melakukan ritual jalan pagi dengan saya: mengumpulkan bunga tanjung untuk dirangkai menjadi kalung dan mahkota, juga kadang-kadang beli surabi untuk sarapan. Saya bertahan dengan pikiran: bahwa ibu hanya sedang pergi ke pasar, nanti pulang bawa oleh-oleh dan cerita, bahwa ada sebentuk awan yang menitipkan salam pada saya.

Ketika teman-teman Goodreads Indonesia selalu posting foto dengan tagar #apelpemburuawan setiap Rabu, saya selalu iri dengan mereka yang bisa capture berbagai bentuk awan yang unik. Setiap mata saya menengadah ke langit, saya nggak pernah sanggup mengabadikan cantiknya awan dengan kamera saya. Bukan trauma, sih. Saya pasti selalu berharap bahwa setelah saya menatap awan, akan ada cerita yang mengalir dari bibir ibu saya tentang kisah awan-awan itu.

Saya tahu, saya hidup dengan ibu yang melahirkan saya bahkan nggak sampai seperempat usia saya sekarang. Tapi apa yang orang-orang bilang mengenai golden age sampai usia enam tahun itu benar adanya. Hampir semua kenangan yang saya lalui bersama almarhumah ibu saya membekas hingga hari ini. Saya juga tahu, bahwa hanya doa yang membuat saya tetap tersambung dengan beliau. Tetap saja. Tetap saja rasa kehilangan itu ada. Rasa rindu selalu membara.

Hari ini, saya hanya ingin memperingati hari perginya ibu yang melahirkan saya untuk menemuiNYA. Saya nggak bisa janji bahwa saya nggak akan menangis setiap merasakan rindu padanya. Saya juga ga bisa janji untuk ga mengenang apa yang pernah saya lalui dengannya, karena itu satu-satunya saya bertahan menghadapi kerinduan saya padanya. Demikianlah. Di dalam diri saya, saya tetap seorang bocah enam tahun yang menanti ibunya pulang dari bepergian dengan segudang cerita tentang awan-awan yang ditemuinya di jalan…

I miss you, ibu. al fatihah…

Advertisements

4 thoughts on “There’ll be No More Tears in Heaven…

  1. peniiii!!!
    *huggles*

    mamiku pun meninggal ketika aku baru saja 7tahun. Tapi entah kenapa sedikit sekali yang kukenang huhuhu… entah karena emang punya memori ikan mujair yang cuma dua detik hehehe atau somehow id-ku me-repressed memori tersebut.
    dan karena itu aku sungguh iri karena peni bisa mengingat semua kenangan bersama ibu.
    and that is i think, one of the bright side; that at least you can remember her and your time with her 🙂
    *peluk lagi*

    1. *peluk winda*

      ah, masa sih cuma punya memori ikan mujair. hahaha.
      mungkin, ga, sebagian dari dirimu menolak mengenang? kan bisa aja itu terjadi…

      sementara caraku bertahan adalah dengan mengenang. jadi, ya, sampai detik ini ingat semua kejadian. kejadian di saat aku bikin pembokat nangis, lalu ditegur ibuku dan masih banyak lagi 😀

  2. karena aku orangnya emang lupaan, pen. Klo kata si mami sih dulu, setelah untuk kesekian kalinya jepitan rambut hilang entah kemana dan aku lupa kok bisa hilang, kepala klo ga nempel juga ilang hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s