Blogroll · Bunda Ilman dan hari-harinya · Cerita Harian Ilman · Racauan

Thank You for Being Born

Love is where this begins
Thank you for letting me in
I’ve never had to pretend
You’ve always known who I am

And I know my life is better
Because you’re a part of it
I know without you by my side
That I would be different

Thank you for all of your trust
Thank you for not giving up
Thank you for holding my hand
I’ve always known where you stand

Thank you for calling me out
Thank you for waking me up
Thank you for breaking it down
Thank you for choosing us
Thank you for all you’re about
Thank you for lifting me up
Thank you for keeping me grounded
And being here now

Best Friend ~ Jason Mraz

Sabtu pekan lalu, saya dapat jadwal mengambil rapor Ilman di sekolahnya. Saya nggak terlalu berharap akan ketemu dengan angka-angka yang sama ketika saya masih suka terima rapor dulu. Dan sesuai harapan saya, rapor di sekolah Ilman yang baru ini emang ga dalam bentuk angka nilai rata-rata. Jadi nggak perlu minder, kalo nilai-nilai Ilman di bawah nilai rata-rata kelas, misalnya 😀

Isi rapor Ilman lebih ke deskripsi. Mungkin ini yang bikin banyak guru (terutama di sekolah negeri) belakangan kepayahan saat mengisi rapor. Yang saya dengar dari Pa Il, di sekolah Ilman yang sekarang ini, kurikulum 2013 (yang disebut K13) sudah lama diterapkan di sekolah Ilman. Jadi, ngisi rapor juga nggak berupa angka hasil rata-rata. Melainkan lebih ke pencapaian individual secara deskriptif, bukan disampaikan melalui angka. Repot? Iya. Kelihatannya begitu. Karena itulah, dalam satu kelas, ada dua Manajer Kelas (mungkin di SD Negeri sebutannya wali kelas, ya).

Khusus Ilman, rapornya ada empat berkas.

Berkas pertama, adalah rapor yang diisi oleh MK. Jadi, misalnya di semester ini belajar apa aja, targetnya gimana, pencapaian Ilman sampai mana. Dari rapor yang diisi oleh MK, sebetulnya Ilman bisa mengikuti. Tapi berhubung body kinestetik Ilman masih belum bisa terkontrol dengan rapi, masih banyak nggak fokusnya ngikutin pelajaran. Tapi banyak tugas yang dia mau kerjakan. Jangan tanya nilainya berapa, karena sekali lagi saya katakan, tidak dinilai dengan angka 😀

Berkas kedua adalah rapor yang diisi oleh guru tutor Ilman. Guru tutor ini bertanggung jawab penuh untuk mendampingi Ilman dan seorang ABK lain di kelas Ilman. Tentu saja, isi rapor berkas kedua ini adalah rencana dan progres perkembangan dari rencana untuk Ilman. Alhamdulillaah, di rapor berkas kedua ini, Ilman dibilang mengalami perkembangan cukup pesat.

Berkas ketiga adalah rapor dalam bentuk buku, untuk PAI dan BTAQ. PAI adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, sementara BTAQ adalah Baca dan Tulis Al Qur’an. Rapor ini dinilai pakai huruf. Untuk shalat dan hafalan al Qur’an, Ilman dapat C. Target semester satu adalah hafal An Nabaa’, ternyata Ilman baru hafal tanpa dituntun cuma sampai ayat lima. Di rumah, kalo saya ajak ngafal An Nabaa’, dianya emang mau-maunya sendiri. Yang ngajak ngobrol lah, yang ngoceh hal lain lah. *sigh*. Belakangan saya coba akali dengan bacain satu surah An-Nabaa’ sebanyak tiga kali setiap dia sedang atau mau tidur. Saya pernah mendengar petuah Aa Gym dan Ustadz Yusuf Mansyur, kalo anak dibacain Al Qur’an ketika dia sedang tidur secara rutin, jangan heran kalo suatu hari dia bisa menjadi hafidzh. Nah, berbekal keyakinan itu, sekarang ini sedang saya giatkan membacakan surah An Nabaa’ setiap dia sedang tidur sebanyak tiga kali. Syukur-syukur hafalnya lebih cepet, biar bisa masuk ke surah berikutnya, An Naazi’at. Mengenai gerakan shalat, Ilman memang masih semaunya sendiri. Kadang, dia suka senam-senam gitu di sela gerakan shalat. d’oh!

Berkas keempat adalah rapor dari terapisnya. Di sekolah, Ilman ikut terapi SI (Sensori Integrasi), OT (Occupation Therapy), juga Terapi Perilaku. Perlu diingat, Ilman ini moody banget anaknya. Jadi, dari laporan di berkas keempat itu, ceritanya nggak seindah rapor berkas kedua 😀 Saya punya kesimpulan awal, kayaknya setiap Ilman ikut terapi tuh lagi nggak mood atau lagi punya keinginan lain, jadi seringnya nggak fokus dan terburu-buru saat mengerjakan tugas-tugas terapi. Nggak nyante gitu, deh.

Sebenernya, rapor Ilman ini udah kebayang isinya, jadi saya nggak kaget-kaget amat. Karena, saya dan guru tutor sering tuker pikiran. Nggak jarang saya suka curhat, apalagi kalo saya sedang down banget dan merasa pesimis. Guru tutor Ilman cowok. Saya pikir, Ilman emang butuh guru tutor cowok, biar bisa klop antara pola didik ala papanya dengan gurunya. Terutama menyangkut ibadah untuk kaum laki-laki. Contohnya, cuma Ilman anak kelas satu, yang shalat Jumat di masjid, sementara teman-teman kelas satu lainnya shalat Jumat di kelas.

Yang saya nggak duga sama sekali adalah: Ilman terkenal di kalangan guru. Hampir semua guru Ilman kenal, begitu juga sebaliknya. Bahkan, Ilman berani pakai laptop guru litbang (atas seizin beliau, tentu saja) untuk main game. Ilman juga bisa akrab dengan banyak guru. Setiap hari, saya mendengar ada nama baru disebutkan, lengkap dengan latar belakang kelas.

Saya dapat cerita dari guru tutor Ilman, kalo Ilman senang menggoda guru-guru dengan menyebutkan nama lain. Misalnya, ada yang Ilman panggil Pak Andri Taulani (padahal namanya pak Andri siapa gitu). Ilman suka manggil “Bu Mila” (guru dari sekolah lama) ke Bu Su’ai (guru di sekolah baru). Ketika saya tanya, “kenapa bu Su’ai dipanggil bu Mila, kak?” Ilman jawab, “Bu Su’ai seperti bu Mila” (mirip maksutnya). Dari guru tutor, saya dapat cerita juga, akhirnya bu Su’ai ini bilang, “oh. ini Anton, yaaa…” Jadi, kalo Ilman manggil bu Su’ai dengan panggilan “Bu Mila”, lalu Bu Su’ai nanya ilman, “namanya siapa?” Ilman akan jawab, “Anton.”

Pagi tadi, terjadi percakapan begini:

Saya: “Kak, Kakak suka memanggil Bu Su’ai dengan sebutan siapa?”

Ilman: “Bu Mila. Bu Su’ai laki-laki.”

Saya: “Masa Bu Su’ai laki-laki? Bu Su’ai cantik atau ganteng?”

Ilman: “Bu Su’ai cantik. Bu Su’ai perempuan. Bu Su’ai seperti Bu Mila”

Saya: “Kakak dipanggil apa sama Bu Su’ai?”

Ilman: “Anton”

Buat orang lain, buat ibu lain, percakapan di atas mungkin biasa banget. Tapi buat saya, ngobrol bisa nyambung sampai ke tahap ini adalah penantian yang sangat panjang. Juga ketika Ilman sudah bisa memilih, menolak, dan menentukan apa yang dimauinya. Ini adalah penantian yang cukup panjang. Dan masih akan berlanjut episode berikutnya.

Semoga keputusan saya dan Pa Il untuk memindahkan Ilman ke sekolah baru ini adalah bagian dari ikhtiar kami untuk mensinkronkan yang tidak sinkron dan mulai mencari potensi gifted pada Ilman. Melihat progres yang lumayan banyak seperti ini, rasanya setiap detik berucap syukur saja masih tidak cukup. Allah Maha Besar.

Selamat ulang tahun, kakak Ilman, kemarin. Terima kasih untuk telah mengajarkan banyak hal dan Bunda akan terus belajar dari kakak. Perjalanan kita masih sangat panjang. Terima kasih untuk mengajarkan Bunda untuk terus bersyukur. Terima kasih untuk mengajarkan Bunda, bahwa berlian bukan muncul begitu saja. Perlu waktu dan tekanan yang cukup keras dan panas untuk bisa berkilau. Thank you for being born…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s