Racauan

(kata banyak orang) bahagia itu sederhana

Where it began
I can’t begin to knowin’
but then I know it’s growing strong

was in the spring
and spring became the summer
who’d have believed you’d come along

hands, touchin’ hands
reachin’ out, touchin’ me, touchin’ you

Sweet Caroline
Good times never seemed so good
I’ve been inclined
To believe they never would
But now I…

…look at the night
And it don’t seem so lonely
We fill it up with only two.

And when I hurt,
Hurtin’ runs off my shoulders
How can I hurt when holding you?

Warm, touchin’ warm
Reachin’ out, touchin’ me, touchin’ you
…….

~ Sweet Caroline, Neil Diamonds ~

Ini saya mau cerita garing. Ga ada lucu-lucunya. Biasa aja, malahan. Tapi saya pengen cerita aja.

Kemarin pagi, Pa Il dan bosnya harus ketemu seseorang di sebuah bilangan di Jakarta. Karena berangkat sendirian dari Bandung, maka dia memutuskan untuk pakai travel. Bos Pa Il berangkat dari Bandung malam, karena pagi-pagi sekali dia harus ke tempat lain dulu di Jakarta. Kebetulan dapat jadwal travel jam 8 pagi, sehingga kami bisa berangkat barengan seangkot. Rasanya sudah lama sekali kami nggak naik angkot bareng-bareng saat pergi kerja atau pulang kerja. Terakhir saya berangkat kerja naik angkot sama Pa Il itu sebelum saya hamil Ilman malahan. Itu berarti sembilan tahun yang lalu 😛

Jadi kemarin rasanya seneng banget, berangkat bareng Pa Il. Bisa jalan kaki berdua yang lumayan jarang banget lagi kami lakukan sejak kehadiran anak-anak. Nggak hanya itu, sepanjang jalan kami bergandengan tangan. Jadi pusat perhatian, sih. Banyak mata melihat kami. Tapi, ah, masa bodo. Kami lagi pacaran, weeek 😛 Lagipula, kami kan sah buat gandengan tangan. Hahaha. Ngomong apa, sih…

Ketika banyak teman memamerkan foto mereka berduaan dengan pasangan mereka di tempat kencan, dengan menitipkan anak lebih dulu tentunya, entah kenapa, saya nggak tergerak untuk iri. Banyak teman menyarankan saya untuk punya waktu berdua saja dengan Pa Il. Tapi seperti yang pernah saya ceritakan di posting yang ini, rasanya sulit untuk menyengaja berduaan begitu. Saya sih mikirnya, nanti juga akan ada waktunya. Insya Allah.

Jadi, ketika saya bisa jalan berduaan dengan Pa Il kemarin pas berangkat kerja, saya sangat menikmatinya. Sebodo dengan tatapan orang. Mungkin mereka iri. Hihihi. Dianggap newly wed juga gapapa. Anggap aja begitu. Hohohoho.

Meski cuma sebentar seangkotnya, karena travelnya lebih dekat dari kantor saya, saya merasa senang aja gitu. Di angkot, pas menjelang Pa Il turun, ada ritual cium tangan, kan, ya. Heuheu, biasanya dilanjut sama cium kening. Eh, ternyata dilakukan juga. Bukan mau PDA, kok, ciyus. Ini mah menunjukkan bakti istri pada suami, begitu juga sebaliknya. Jadi kalo ada yang ngelirik aneh pada kami, ya udahlah, ya… 😀

Terus pas pulang, kami bisa seangkot lagi karena pas saya masih di daerah Stasiun Bandung, Pa Il udah tinggal 5 km lagi menuju pintu tol Pasteur. Akhirnya kami janjian di sebuah halte. Terus, pas angkot yang saya naiki lewat halte, Pa Il udah nunggu di situ. Saya minta pak supir berhentiin angkot, melambai ke Pa Il, dia pun naik. Hahay! Ini sih pergi pulang bareng gitu… Pas udah turun dan jalan kaki, gandengan tangan lagi, deh… Hahaha… lebay!

Alhamdulillaah. Meski nggak bisa nyengaja buat pergi berduaan untuk kencan semacam nonton film, makan di cafe apa gimana gitu, menikmati hal-hal sekecil ini adalah anugerah yang bisa saya syukuri sebelum saya komplen sama Tuhan untuk apa yang belum bisa saya nikmati. *niat amat mau komplen :P*

Benar apa yang dibilang banyak orang. Bahagia itu sederhana kalo kita selalu bersyukur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s