Racauan

belajar dari perilaku orang lain

Disclaimer: buat self-reminder. kalo ada yang merasa butuh dan terinspirasi, alhamdulillaah ^_^

I stay out too late
Got nothing in my brain
That’s what people say, mmm-mmm

But I keep cruising
Can’t stop, won’t stop moving
It’s like I got this music
In my mind
Saying, “It’s gonna be alright.”

‘Cause the players gonna play, play, play, play, play
And the haters gonna hate, hate, hate, hate, hate

~ Shake It Off – Taylor Swift ~

Widih! Nggak nyangka kalo saya akhirnya bakalan suka sama salah satu lagu Taylor Swift! Jangan salah paham dulu, saya bukan anti fans Taylor Swift, kok. Cuma belum pernah kenal aja dengan lagu-lagu Taylor Swift, sampai lagu Shake It Off ini jadi viral di sebuah stasiun tv lokal buat adv acara lipsync stasiun tv tersebut. Dari situ, selanjutnya saya mulai kenal beberapa lagu Taylor Swift yang nggak kalah viral. Informasi ini nggak penting emang πŸ˜›

Karena ada tuntutan buat lipsync dari anak-anak, mau nggak mau saya mesti kenal liriknya dulu. Sebelumnya, saya emang sering dengar kalo Taylor Swift ini sering banget gonta ganti pacar dan setiap pacarnya selalu jadi inspirasi lagunya. Bisa jadi dari salah satu baris lirik:

I go on too many dates [chuckle]
But I can’t make them stay
At least that’s what people say, mmm-mmm
That’s what people say, mmm-mmm

Itu emang karena dia dengar omongan orang tentang dirinya πŸ˜€

Baidewei, saya sebenarnya bukan mau ngomongin Taylor Swift atau tentang lagu Shake It Off. Saya cuma tiba-tiba kepikiran aja, orang yang punya fans pasti punya haters, terus saya sambung-sambungin dengan lagu Shake It Off *maksa bener emang*

Kenapa tiba-tiba terpikir soal fans vs haters?

Gara-garanya sih, saya yang ngefans berat dengan seorang idol, sering baca komentar anti fansnya. Itu aja.

Lalu ingatan saya kembali ke beberapa tahun silam, ketika saya menjadi hater seseorang. Sebenernya, saya nggak mungkin benci dia kalo nggak ada alasan yang bisa diterima. Saya orangnya cuek dan ga pedulian sebenernya. Tapi kalo sampai jadi hater, pasti ada alasannya. Tentu saya nggak akan ungkapkan alasannya di sini, sebab itu sama dengan ghibah πŸ˜€

Selama jadi hater orang-orang ini (lebih dari satu kebetulan), saya senang sekali stalk dunia mereka (yes, waktu itu kebetulan udah ada jejaring sosial) kemudian saya ceritakan tentang tentang keburukan orang-orang ini di blog pribadi saya yang terkunci rapat dan emang nggak bisa diakses siapapun. Jika saya berinteraksi dengan salah satu orang yang saya benci ini, saya sering ceritakan bad habbit dan semua keburukan orang ini pada Pa il atau orang-orang kepercayaan saya.

Suatu ketika, mungkin Pa il sudah sangat bosan dengan cerita saya, dia berkomentar, “Bun, Papa bukannya nggak mau denger curhat Bunda. Insya Allah, Papa nggak akan pernah bosan dengar keluh kesah Bunda. Ketika Bunda curhat tentang X, Papa merasa jadi sangat kenal dengan X, padahal Papa nggak pernah ketemu dengan beliau. Dan hidup Bunda seperti sudah didedikasikan untuk X, bukan untuk Papa atau Ilman (waktu itu baru ada Ilman – red). Setiap hari, isi kepala Bunda hanya X. Bukan Allah, Papa, atau Ilman.”

DANG!

Kata-kata itu sungguh membuat saya tersentak. Berhari-hari bahkan berminggu-minggu saya habiskan waktu saya untuk membenci seseorang, sampai tidak sadar, saya jadi sangat mengenal dirinya. Bahkan, saya pun membuat lelaki yang saya sayangi sangat mengenalinya lewat cerita saya. CIH! CUIH! Nggak ikhlas, bo!

Sejak saat itu, saya membuat keputusan untuk tidak peduli lagi pada orang-orang yang saya benci. Ternyata benar! Untuk kasus ini, falsafah “Ignorance is bliss” itu tepat banget. Awalnya memang berat untuk ga peduli, karena setiap hari saya sangat peduli pada orang-orang yang saya benci ini. Hihihi.

Sekarang, saya sudah mulai menikmati hasil belajar ignorance itu. Paling nggak, saya lebih bisa fokus sama Pa Il dan Ilman, bahkan dapet adek yang sekarang wuiiih, demanding banget. Hihihi. Abis deh fokus saya ke mereka.

Beberapa waktu lalu, pas saya iseng ganti-ganti channel, muncul Ayu Ting Ting yang konon diserang haters. Sebelum saya ganti ke channel lain, saya sempat dengar statement Ayu Ting Ting mengenai perilaku hatersnya, yang kurang lebih, dia nggak akan balas semua serangan verbal haters selama nggak mengganggu dan keterlaluan. Tapi kalo udah keterlaluan, dia akan bawa ke ranah hukum. Baginya, haters itu justru orang yang paling kenal dirinya ketimbang fansnya. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, yang ada di pikiran haters hanya dirinya dan cari cara untuk mencelanya. Waduh! Kena banget ke saya, deh, itu. Tapi saya bersyukur, karena masa itu sudah berlalu lamaaaaaaaaa sekali. Thanks to Ayu Ting Ting by the way ^_^

Nah, beberapa waktu lalu, saya punya hater yang sampai meneror saya. Sebenernya saya yakin, hater saya ga cuma satu sih, maklum lah, seleb πŸ˜› Mungkin mereka silent haters. Hihihi. Cuma hater yang ini udah beneran ganggu. Ga cuma ganggu saya, dia ganggu orang-orang di sekitar saya. Hater ini sampai neror ke kantor, ngirimin saya messages berisikan makian-makian, baik itu via SMS, private message di Facebook, dia pun bolak balik curhat menceritakan keburukan saya pada orang-orang yang kebetulan angkat telepon darinya, nyuruh orang lain buat ngontak dan stalk saya, bahkan jadi troll di beberapa sosial media saya. Pernah mengancam beberapa orang rekan saya juga, katanya mau nuntut saya juga mereka. Puncaknya dia neror Pa il. Sebenernya sih, saya sudah terpikir buat menyeretnya ke pihak berwajib karena ngeganggu banget. Pa il udah menanggapi dia, sekali. Kalo udah ditanggapi hasrat curhat dan ngomong buruk mengenai saya tapi dia masih neror, saya kepikiran juga buat nyeret dia ke ranah hukum.

Insya Allah saya nggak takut dengan hal ini, karena saya yakin Allah selalu bersama saya. Tapi ada satu hal yang membuat saya belajar dari perilaku orang ini: ketika kita berusaha keras untuk membuka aib orang lain, justru aib kitalah yang terbuka lebar. Ketika dia curhat sana sini pada orang-orang yang tidak dia kenal, dia sudah perlahan-lahan menunjukkan aibnya sendiri pada orang lain karena ketidakmampuannya menjaga dan menahan diri. Kata-kata kotor yang dikeluarkannya telah menunjukkan jati diri sebenarnya yang mungkin kotor. Kayaknya saya pernah posting deh, nasihat terkait.

Semoga semakin saya diperlihatkan perilaku orang lain (mau itu buruk atau baik) saya selalu bisa mengambil hikmah dari itu semua.

Tambahan info nggak penting lain:

Pas saya ngetik ini, saya sedang digandulin adek. Tangan saya ditarik-tarik, kepala saya mesti noleh ke dia karena dia lagi nonton Pororo dan sibuk minta ditanggapi ketika dia berkomentar. Kalo lagi jeda iklan, tangan dan punggung saya diendus-endus. Kenapa nggak berhenti lalu terusin nulis lagi? Mumpung lagi deras ide buat nulis. Kalo diendapkan lagi, bakalan tertunda terus lupa, deh! πŸ˜€ Jadi maklumin aja kalo kalimatnya berantakan. Udah lama juga ga nulis, sih. Kekekek πŸ˜›

Advertisements

2 thoughts on “belajar dari perilaku orang lain

  1. Duh…si haters itu masih eksis aja ya? Semangaaatt, teh. Kamu lebih hebat dari dia.

    Btw aku suka lagu2 taylor swift. Coba bacain lirik lagunya yg Mean deh

    1. nah, ya itu, gara-gara Shake It Off jadi kepikir pengen kenal lagu Taylor Swift yang lain. hihi. oke, ntar aku coba guling-guling lirik Mean ^_^

      hahaha… budokwi paling hebat menurutku! mwah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s