Blogroll · Racauan

Kehidupan yang “Lain”

Hahahaha. Saya nggak lagi menulis cerita horor, kok, walau semalam saya abis mimpi bertema horor 😛

Pernah, nggak, terpikir oleh kalian untuk memperlakukan makhluk hidup – selain kamu – dengan baik? Ambil contoh, memperlakukan kucing, anjing, sapi, kambing, ayam, dan lain-lain dengan baik? Atau kalian emang selalu memperlakukan makhluk hidup lain dengan baik? Kayaknya makhluk hidup yang nggak pernah mendapat perlakuan baik saya adalah kecoak, lalat, tikus dan nyamuk.

Tadi pagi, dalam perjalanan saya menuju sekolah Ilman, saya perhatikan ada beberapa pria sedang menyeret beberapa ekor domba, mungkin menuju lapak depot qurban. Jujur, saya sedih melihatnya. Dalam perjalanan menuju kantor, di salah satu sisi jalan yang berdekatan dengan jalan tol, berderet beberapa ekor domba yang ditambatkan, siap dijual untuk mereka yang hendak berqurban beberapa hari lagi. Entah mengapa, saya merasa stres melihat mereka mendapat perlakuan seperti itu.

Begini, saya nggak hidup di jalanan. Saya mungkin hanya berada di jalan raya sekitar satu-dua jam, itu pun dengan kondisi telinga saya mendapat perlindungan dari helm yang saya kenakan (jika saya naik motor) atau kaca mobil yang tertutup rapat (jika sedang naik mobil), sehingga telinga saya tidak mendapatkan asupan kebisingan yang menstreskan melebihi kapasitas kemampuan telinga dan otak saya. Sementara, para domba dan kambing yang ditambatkan di sisi jalan, apalagi dekat jalan tol, mendapatkan asupan kebisingan yang tak henti-henti. Memikirkan itu saja sudah membuat saya sedih..

Saya nggak menyalahkan para manusia yang sedang berusaha menjajakan dagangannya dan mencari cara supaya dagangannya laku. Saya hanya berandai-andai, andai saja mereka mampu memperlakukan para hewan ini dengan lebih baik (mereka bukan manusia, jadi saya nggak bisa bilang manusiawi), mungkin hewan-hewan yang dijual ini nggak akan stres. Karena kaitannya qurban adalah ibadah, mestinya segala pendukungnya juga baik. *iya, saya kebanyakan teori*. Pun nggak nyuruh semua hewan qurban yang ditambatkan di sisi jalan raya untuk pakai headset. Hanya saja, andai mereka mendapat perlakuan lebih baik.

Beberapa hari lalu, dalam sebuah acara Weekend List di sebuah stasiun tv lokal, sempat dibahas mengenai burger termahal. Harganya sekitar satu juta rupiah per porsi, karena bahan patty-nya menggunakan daging wagyu yang super soft, kalo dimakan, rasanya meleleh banget di mulut. Saya pernah baca mengenai perlakuan hewan yang kemudian dagingnya disebut daging wagyu itu, di antaranya mendapat perawatan yang sangat baik dan tentu saja mahal. Ada spa segala buat si hewan. Makanya harga burgernya juga jadi mahal, karena daging yang digunakan berasal dari hewan yang perawatannya juga nggak murah. Dan di antaranya dijauhkan dari stres.

Saya terpikir lagi pada domba-domba yang ditambatkan di pinggir jalan itu. Mungkin hampir seharian mereka harus mendapatkan kebisingan yang menstreskan. Belum lagi dari sisi makanan yang dimakan para domba itu, bisa jadi yang penting makan dan nggak diperhatikan gizinya. Perlakuan? Bisa juga mereka mendapatkan perlakuan yang menstreskan. Padahal, nih, jika hewan-hewan tersebut diqurbankan, setelah disembelih dan dagingnya dibagikan kepada orang-orang, seharusnya ada berkah juga yang dapat dinikmati semua yang mendapatkan daging ini (selain menikmati dagingnya sebagai sate, gulai, atau apa pun itu). Berkah karena sang hewan qurban sebelumnya telah mendapatkan perlakuan baik dari manusia yang memeliharanya.

Selama di perjalanan tadi, ingatan saya melayang pada masa beberapa tahun silam, ketika saya masih SD. Jadi ceritanya, Bapak “membayar” aqiqah yang tertunda bagi saya dan adik saya, karena ketika saya dan adik saya lahir, Bapak belum mengetahui bahwa aqiqah itu wajib bagi anak yang terlahir. Ketika Bapak mulai mengenal ajaran Islam lebih banyak, beliau menyadari bahwa saya dan adik belum diaqiqahkan. Setahu saya, aqiqah itu boleh kapan aja dilakukan, walau si anak sudah dewasa, dengan catatan emang bukan sengaja menunda.

Bapak pun memesan dua ekor domba yang gemuk, ditambatkan di lahan kosong salah satu sisi rumah kami. Dulu, rumah Bapak belum sepenuh sekarang, kami masih punya lahan kosong untuk tempat domba ditambatkan. Walau memang di rumah jadi ada suasana yang lain, sih, karena setiap hari kami jadi mendengar suara domba, berasa hidup di desa. Hihi. Bapak juga mengingatkan saya dan adik untuk mengajak ngobrol para domba itu setiap hari, ketika kami bertemu mereka.

Ketika hari aqiqah terlaksana, Bapak meminta tolong Abah Rosyad (salah satu pengurus di masjid dekat rumah, sekarang sudah wafat) untuk menyembelih kedua ekor domba tersebut.

Abah Rosyad meminta Bapak untuk menyiapkan sisir dan cermin di hari penyembelihan. Kalo saya nggak salah ingat, sehari sebelum penyembelihan, kedua domba itu dimandikan juga.

Saya nggak ikut menyaksikan penyembelihan, karena terus terang, saya nggak bisa melihat yang seperti itu. Tapi dari cerita Bapak, sebelum memulai penyembelihan, Abah Rosyad melakukan ritualnya, yaitu menyisiri para domba sambil diajak bicara. Setelah selesai disisiri, Abah Rosyad memperlihatkan cermin ke wajah domba itu sambil berkata, “Kumaha? Ayeuna tos kasep, pan? Alhamdulillaah, nya, ka bumi Alloh parantos ibak heula sareng nyisiran heula dugi ka kasep kieu.” (terjemahan: Gimana? Sekarang udah ganteng, kan? Alhamdulillaah, ya, ke rumah Allah sudah mandi terlebih dahulu dan bersisir sampai ganteng begini”)

Ketika akan disembelih, Abah Rosyad berbicara pada domba, “Ujang Kasep, ikhlaskeun, nya. Insya Allah, Ujang teh tos dipilih ku Alloh kanggo janten hewan aqiqah. Insya Allah, Ujang lebet surga. Ikhlaskeun, nya…” (terjemahan: Ujang Ganteng, ikhlaskan, ya. Insya Allah, Ujang sudah dipilih Allah menjadi hewan aqiqah. Insya Allah, Ujang masuk surga. Ikhlas, ya…”) lalu beliau berdoa, mengucap bismillaah, dan mulai menyembelih. Domba tersebut meneteskan air mata.

Cerita Bapak ini selalu ada di kepala saya. Abah Rosyad selalu memperlakukan hewan-hewan yang akan disembelihnya seperti itu, baik dalam acara aqiqah maupun qurban. Minimal, kalo nggak dimandikan terlebih dahulu, disisiri dulu dan selalu diajak berbicara, meminta keikhlasan para hewan tersebut.

Semoga ada banyak Abah Rosyad di dunia ini, yang selalu dapat membuat hewan-hewan yang menghadapNya dalam konteks ibadah menjadi ikhlas. Semoga saya, kamu, dan semuanya mampu menghargai dan minimal tidak memberi perlakuan buruk pada makhluk hidup selain manusia. Segera hentikan kebiasaanmu menendang kucing, misalnya, kalo kamu punya kebiasaan itu. Tapi saya nggak bisa menyarankan untuk berhenti membasmi kecoak, sih 😀

Selamat menjalankan shaum Arafah bagi yang menjalaninya, selamat menjalani wukuf bagi yang menjalaninya. Semoga kebaikan selalu bersama kita… ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s