Blogroll · Racauan

Mereka Belajar dari Kita

Sejak tahun ajaran baru 2015-2016 berjalan, saya memutuskan untuk selalu mengantar dan menemani Zaidan, putra kedua saya, bersekolah. Tidak ingin mengulangi “kegagalan” tahun lalu, kali ini saya memutuskan untuk turun tangan sendiri dalam mendampinginya bersekolah.

Sekedar informasi, setahun lalu, Zaidan sudah terdaftar di salah satu PAUD dekat rumah orangtua saya. Sebenarnya, kami nggak bermaksud memaksa bocah tiga tahun itu bersekolah. Saya pribadi hanya melihat dia agak takut bersosialisasi, sehingga terbetik keinginan untuk memperkenalkannya pada ruang lingkup sosial di luar rumah. Walau sebenarnya, setiap hari ketika saya bekerja di luar rumah, Zaidan bayi sudah diperkenalkan dengan ruang lingkup sosial di luar rumah melalui ibu saya, yang rutin mengajaknya ke pasar, arisan, atau hanya sekedar mengantarkan semangkuk sayur untuk tetangga. Jadi, tujuan awal saya mendaftarkannya bersekolah di PAUD semata-mata hanya untuk mengenal teman sebayanya dan belajar berinteraksi dengan mereka. Saya tekankan pada guru dan ibu saya yang saat itu mengantarkan Zaidan sekolah untuk tidak memaksanya mengikuti seluruh kegiatan di sekolah, jika dia tidak mau.

Meski demikian, ternyata aktivitas bersekolah itu hanya bertahan sekitar satu bulan. Zaidan memilih tidur menjelang pagi sehingga dia baru terbangun ketika jam bubaran sekolah πŸ˜€ Dan ini terjadi selama berbulan-bulan. Hingga akhirnya, ketika izin bagi saya untuk bekerja dari rumah turun, saya memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya dalam mendampingi Ilman dan Zaidan, ketika saya tidak ke kantor. (Untuk yang ini, ada ceritanya sendiri. Lain kali saya akan berbagi, karena terus terang, saat ini pun, masih dalam masa adaptasi yang cukup pelik dan rumit. Haha)

Menjelang akhir tahun ajaran lalu, saya sempat bingung ketika hendak memutuskan mengenai sekolah Zaidan. Mengulang di PAUD dan kelas yang sama atau daftar baru ke sekolah lain? Saya berhitung mundur termasuk memperhitungkan segala kemungkinan hingga akhirnya mendapat keputusan untuk mengulang di PAUD dan kelas yang sama tahun ajaran ini saja. Untuk membantunya beradaptasi dengan lingkungan baru lagi, saya berencana mendaftarkannya di sekolah lain tahun depan.

Ternyata walau sudah digadang-gadang sejak berhari-hari sebelumnya bahwa dia akan kembali bersekolah di sekolah yang sama, dia masih mogok. Di hari pertama, sulit sekali membujuknya. Nggak mau bangun lah, nggak mau mandi lah, nggak mau pakai seragam lah. Dimulai dengan segala drama bersimbah airmata, dan ketika kami sampai di sekolah, sekolahnya udah bubar. Hahaha. Padahal, jam 6 pagi, saya SMS-an dengan wali kelas Zaidan yang mengabarkan bahwa hari itu kelas dimulai jam 10. Kami datang jam 9.30, sudah bubar. Kenapa? Hari itu hari pertama sekolah setelah libur Lebaran yang cukup lama, walau sekolah sudah mengeluarkan pengumuman (secara lisan) bahwa untuk kelas kecil masuk jam 10, ternyata tetap saja seluruh kelas datang jam 8. Akhirnya jadi cuma salam-salaman, terus bubar.

Drama bersimbah airmata menolak berangkat sekolah itu berlangsung selama dua pekan. Ketika akhirnya Zaidan sudah mulai berinisiatif untuk berangkat sekolah, saya malah harus menginap di rumah sakit beberapa hari dilanjutkan dengan bedrest total di rumah selama dua pekan karena terjadi perdarahan.

Ketika saya sudah mulai kembali beraktivitas, adaptasi Zaidan merosot lagi ke angka nol. Drama bersimbah airmata terjadi lagi dan bahkan kembali harus saya tunggui di kelas sampai beberapa kali pertemuan. Alhamdulillaah, tiga pekan terakhir ini, Zaidan sudah tidak menangis lagi di kelas walau dia masih memanggil-manggil saya ketika aktivitas sekolah dimulai, setelah saya melambai melalui jendela, dia pun tenang. Hihihi. Adaptasi Zaidan lumayan lama, mungkin karena pertemuannya sepekan hanya tiga kali. Per pekan ini, Zaidan mulai mau bermain di perosotan walau masih harus dipegangi dan masih belum mau menjawab ketika ditanya guru, walau dia tahu jawabannya.

Saya sering membaca drama tentang menunggu anak di sekolah di timeline saya. Sejauh ini sih, saya nggak ingin terlibat drama tidak mengenakkan dengan para ibu sesama penunggu anaknya, jadi kalo bisa jangan bikin masalah πŸ˜€

Sebenarnya selalu ada bahan cerita lewat pengamatan saya mengenai interaksi ibu-ibu ini. Tapi yang justru menarik perhatian saya adalah seorang kakek teman sekelas Zaidan yang luar biasa kejam di mata saya. Sebenarnya, Kakek ini masih tetangga jauh juga, orangtua saya mengenal baik si Kakek dan istrinya. Kenapa luar biasa kejam? Saya belum pernah mendengar tutur kata lemah lembut keluar dari mulutnya pada cucu-cucunya. Selalu marah-marah, membentak, bahkan menoyor kepala mereka. Dan ini selalu terjadi setiap kali beliau muncul di sekolah. Nah, di setiap jadual penjemputan, pasti ada dua cucu beliau yang lebih besar ikut menjemput. Kayaknya sih, dua cucu lain ini sudah kelas 1-2 SD.

Tampaknya si Kakek dan istrinya hanya berdua saja merawat cucu-cucunya, karena anak-anak mereka bekerja di luar rumah semua. Yang saya sayangkan adalah temperamen si Kakek menular pada cucu-cucunya, terutama cucu laki-laki yang sudah kelas 1 SD itu. Karena setiap hari santapannya adalah bentakan dan toyoran, saya perhatikan karakter si anak SD ini berwatak keras. Wajahnya mudah marah, mudah tersinggung, bahkan kasar pada saudara perempuannya. Kemarin mereka pukul-pukulan dan dorong-dorongan di depan kelas Zaidan. Lalu apa yang saya lakukan? Saya hanya menatap mereka. Saya nggak berkata apa-apa untuk melerai mereka. Tapi kayaknya sih, gara-gara tatapan saya mereka berhenti berkelahi πŸ˜€

Nggak sekali dua saya temukan di mana saja perilaku orang lebih tua sedemikian kasar pada anak-anak. Bahkan mungkin, saya sendiri termasuk pelakunya. *PLAK!*

Pada sebuah kegiatan parenting di sekolah Ilman, psikolog memberitahu kami bahwa anak yang distimulus dengan perilaku baik, akan merekam semua yang diterimanya dan menyampaikan hal yang sama pada orang lain. Jika dia distimulus dengan perilaku kasar, hal yang sama akan dilakukan olehnya pada orang lain. Karenanya, jangan berharap anak bakal berlaku santun pada kita jika kita berlaku sebaliknya pada anak.

Menjalankan teori memang nggak semudah menjentikkan jari. Ditambah dengan sejumlah masalah dan suasana hati buruk yang merubungi kepala kita sehingga rasanya mau meledak, biasanya kita sudah meledakkan semuanya pada anak. KITA? Saya aja kali.

Suatu hari, saya pernah diantar pulang oleh teman sekolah saya dari sebuah acara makan siang dan kami bercerita banyak mengenai anak-anak kami. Selepas istrinya wafat, otomatis dia mengerjakan banyak pekerjaan rumah tangga sendiri, terlebih ketika si bibik pulang kampung untuk menikah dan nggak bisa melanjutkan profesinya. Dia bilang, harapannya, apa yang dilakukannya sekarang akan terekam oleh anak-anaknya dan timbal baliknya, anak-anak akan melakukan hal yang sama padanya kelak atau meneruskan apa yang dilakukannya pada anak-anaknya lagi.

Kesimpulannya?

Jika kita ingin melihat keponakan, anak, bahkan cucu kita berbuat baik pada kita atau pada orang lain, kenapa kita nggak memperlakukannya dengan baik terlebih dahulu sebagai teladan? Bila kita ingin diperlakukan sebagai manusia, kenapa kita tidak memperlakukan mereka sebagai manusia juga? Beri mereka teladan baik sehingga mereka akan merekam semua kebaikan kita. Feedbacknya, mereka akan mempraktikkan hal yang sama. Sulit? Yup! Tapi bukannya ga bisa, kan? *ini lagi ngomong sama diri sendiri di depan cermin* πŸ˜›

Sebagai penutup, catatan Dorothy Nolte ini mungkin bisa menjadi bahan renungan kita…

children-learn-what-they-live

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s