Blogroll · Racauan

Berhijrah, Yuk!

Ah… masih suasana “tahun baruan”, kan, ini? Selamat Tahun Baru 1437 Hijriyah! Semoga kita dapat meninggalkan kebiasaan buruk di tahun lalu dan berhijrah menjadi kita yang lebih baik di tahun baru ini. Aamin. Sound cliche. Tapi….

Jika kalian baca posting saya kemarin, isi naskah pidato yang dibacakan Ilman untuk lomba emang standar. Kita juga udah tahu, gitu-gitu aja. Nggak jauh-jauh dari berusaha mengajak menjadi kita yang lebih baik di tahun berikutnya.

Seandainya kita mau merenungi lebih dalam lagi makna memperbaiki diri —tsaaah–, pasti kita bakal sadar bahwa ternyata ada sedemikian banyak PR pembenahan diri yang harus kita lakukan. Sebenernya emang nggak harus nunggu tahun baru Hijriyah dulu, sih, buat berusaha menjadi kita yang lebih baik. Cuma kebeneran aja momentumnya lagi pas banget. Heuheu…

Tepat setahun lalu, sehari setelah libur Tahun Baru 1436 Hijriyah, sewaktu kantor saya masih suka mengundang ustadz buat kasih tausyiah tiap Jumat pagi, beliau bertutur mengenai makna Hijrah. Tausyiah yang disampaikan beliau itu, alhamdulillaah, selalu masuk ke hati, termasuk mengenai hijrah ini.

Saya memang nggak bisa menceritakan ulang secara detail, karena saya nggak bisa memindahkan isi otak beliau ke tulisan ini, tapi saya bisa ceritakan ulang apa yang saya dapat mengenai hijrah ini. Yang mudah-mudahan, bisa jadi pengingat akan makna kita hidup di dunia ini —ini beneran gue yang ngomong? whahahahaha

Hijrah sendiri kalo menurut KBBI adalah…

hijrah /hij·rah / 1 n perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah; 2 v berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya);

Nah, berdasarkan definisi hijrah tersebut, sebenernya yang dibilang berpindah itu bisa tubuh kita atau perilaku kita. Tahun baru Hijriyah terhitung ketika Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk mengajak pengikutnya berpindah dari Makkah ke Madinah, dengan alasan untuk menghindari kedzhaliman kaum kafir di Makkah juga untuk membuat situasi umat Islam saat itu lebih kondusif. Toh, setelah situasi lebih kondusif, Rasulullaah pada akhirnya kembali ke Makkah. –CMIIW–

Terus, memaknai kata “hijrah” buat kita sendiri gimana?

Salah satunya adalah “berpindah” dari “zona nyaman” (baca: kasur dan selimut) ke “zona tidak nyaman” (baca: pergi kamar mandi buat mandi, lalu keluar rumah dan pergi ke tempat bekerja dan memulai pekerjaan kita hingga selesai). Gunanya apa? Hasil dari pekerjaan kita berguna untuk kita dan orang lain. Dapat apa? Gaji dan pahala. Itu namanya hijrah? Yes. Salah satu contohnya.

Cuma, bukankah itu sudah kita lakukan setiap hari? Any challenges? Coba deh, dikerjakannya karena berniat ibadah. Pasti adaaa aja setan yang menggoda 😛 nah, kalo godaan udah banyak di depan mata, itu dia challenge-nya

Biasanya, menjelang tahun baru Masehi, saya sering menemukan posting mengenai resolusi di tahun berikutnya bertebaran di timeline saya. Sebenernya, sih, itu juga bagian dari hijrah, kok. Ada resolusi buat tahun berikutnya. Pertanyaannya: dikerjain, nggak? 😀

Merujuk dari apa yang dituturkan pak ustadz tahun lalu, sebenernya hijrah itu nggak perlu muluk-muluk. Cukup evaluasi keseharian kita gimana, pastiin aja hari ini harus lebih baik dari kemarin dan besok itu lebih baik dari hari ini. Begitu seterusnya. Sounds easy? Sounds cliche? Iya.

Tapi, pernah, nggak, kalian terlibat atau minimal menyaksikan pertengkaran setiap harinya, hanya gara-gara broadcast message yang tersebar atau adu komentar? Sayang banget, sih, ya, kalo udah punya niat memperbaiki diri, tapi masih mudah tersulut. Sayang banget juga, kalo udah berusaha memperbaiki diri, tapi masih suka forward message berbau provokasi. Belum hijrah itu namanya. Karena hari ini masih sama buruknya atau jauh lebih buruk dari kemarin. Eww… jadi sayang aja gitu. Nggak ada bedanya kita hari ini dengan kemaren. Ngomong emang gampang, praktiknya? Itu dia challenge lagi. Hihihi.

Saya sendiri gimana? Saya memulainya dengan menuliskan beberapa hal yang ingin saya perbaiki. Biarlah cuma saya sendiri dan Tuhan yang tahu apa isinya. Tiap hari, saya coba untuk telaten mencoret target harian saya yang sudah tercapai dan ulangi lagi target bagus besoknya. Hihihi.

Sebenernya, kadang kalo mood saya ambruk, itu target suka lolos juga 😦 Nah, atas dasar rekomendasi teman baik saya yang seorang dokter, setiap mood kita ambruk, coba framing diri kita sendiri dulu, kontemplasi dengan cuma mengingat Allah saja. Allah, Allah, dan Allah lagi. Syukuri dulu apa yang kita terima, kalo masih nggak terima dengan keadaan itu, sebut Allah, Allah, dan Allah lagi.

Jujurly, bagian yang paling sulit adalah: menahan diri dari bereaksi negatif dari aksi negatif yang saya terima. Resultan gaya yang muncul kadang terlalu besar untuk tidak bereaksi. Biasanya setelah sadar bahwa terlalu banyak energi negatif yang masuk ke saya, saya lakukan kontemplasi untuk mengurangi energi negatif yang masuk ke saya. Dampaknya buruk, deh, kalo diri kita dikuasai energi negatif. Pertama: kita jadi selalu punya pikiran buruk tentang orang lain. Kedua, kita jadi tukang mengeluh 24 jam. Ketiga, penyakit juga jadi sukarela hinggap di hati kita dan bisa berdampak ke tubuh kita. Duh, sayang banget, yaaa… >_<

Kontemplasi yang selalu disarankan Pa Il adalah dengan berdzikir, mengisi pikiran kita hanya dengan menyebut nama Allah, bisa juga dengan murajaah hafalan, sekalian ngukur, udah seberapa jauh hafalan Al Qur’an kita. Kontemplasi kedua yang saya lakukan adalah makan enak. Kalo nggak ketemu makanan enak, nonton film favorit, baca komik (karena hal itu selalu ngasih efek healing dan bikin saya ketawa) atau put my fave songs dan nyanyi outloud. Hihihi. Soalnya kalo maksain tidur atau ngerjain hobby juga udah pasti nggak akan bisa kalo badan dan pikiran penuh hawa negatif.

Atau bisa dicoba kayak kelakuan salah satu temen saya. Jadi, dia selalu punya dua saku di pakaiannya (baik itu celana maupun kemeja). Saku kanan dipake untuk poin berbuat baik, saku kiri dipake untuk poin berbuat salah.
Misalnya, dia lagi ngeceng cewek, terus stalk sosmed cewek itu. Nah, pas dia stalk, terus dia tersadar kalo itu salah, dia langsung ambil batu, disimpannya di saku kiri. Atau dia abis forward BC yang jelas hoax, nambah lagi tuh beban di saku kirinya. Kalo dia abis kasi minum ke tukang sampah yang lagi istirahat setelah bekerja berat, misalnya, saku kanannya nambah beban. Menjelang tidur, dia berhitung jumlah batu di saku kanan dan saku kiri. Dia juga tuliskan perilakunya hari itu. Besok nggak boleh kejadian lagi yang serupa atau sama. Kalo masih terlakukan –ada nggak sih, imbuhan ter-kan untuk kata “laku”? :D– dia “punish” dirinya sendiri, misalnya mesti lari sepuluh putaran kompleks kampus atau push up atau bersihin kamar mandi orang lain 😀 Keren, yah! Tapi menurutnya ini efektif banget buat jaga kelakuan.

Kita bisa mencontohnya, kok. Nggak perlu seekstrim itu juga sih, kalo ngerasa nggak mampu mah. Mungkin bisa dimulai dengan nggak mudah terprovokasi broadcast message, apapun itu bunyinya. Sikapi dulu dengan mencari kebenaran sumber broadcast message tersebut. Terus, terima dulu apa yang dikomentari orang, cerna dulu, jangan langsung naik darah. Sayang energinya. Terus, nggak perlu usil komentarin jelek hasil kerja/kelakuan orang lain. Inget, setiap telunjuk kita mengarah pada orang lain, ada empat jari lain yang mengarah pada diri kita, lho! Hihihi…

Kalo Aa Gym bilang, “kumulai dari diri sendiri, kumulai dari yang paling kecil, kumulai dari sekarang juga.” Terdengar nggak susah dan worth to try, kan?

So? Sudah siap berhijrah? Yuk, kita berhijrah jadi diri kita yang lebih baik! 😉 Selamat berhijrah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s