just my two cents · Racauan

leadership

Menurut kamus online panutan saya, leadership itu punya makna (salah satunya):

1

[uncountable] the position of being the leader or being in charge of an organization, country etc

leadership of:

his failure to win the leadership of the party

under someone’s leadership:

They invaded the Roman Empire under the leadership of Alaric I.

a leadership struggle/contest/challenge:

The leadership struggle in the party grew more intense yesterday.

Masih panjang ke bawahnya, tapi yang saya ambil yang teratas aja. Soalnya emang itu yang lagi pengen saya omongin sekarang.

Kalo saya lihat diri saya pada beberapa tahun ke belakang, saya bisa lihat bahwa saya ini seorang leader yang payah. Emang, sih, pengalaman main di organisasi saya terbilang lumayan banyak, mau itu di kampus atau di luaran. I was very good at being staff. But always failing when I was at leader position. Sigh.

Too bad, nggak ada yang ingetin saya untuk hal ini. Eh, pernah, ding. Bubos saya. Intinya dia bilang, kalo saya nggak bagus dalam hal leadership dan saya harus belajar untuk jadi leader.

Masalahnya, saya ini orangnya seringnya perlu “manual text book“. Mesti dikasi tau tutorialnya, dengan cara-caranya yang sampai sedetil mungkin. Bukan males nyari tau, sih. Berdasarkan pengalaman, kadang-kadang kalo nemu cara sendiri sering berbenturan dengan orang lain dan akhirnya timbul clash di dalam tim. Saya paling males dengan clash. Mungkin emang mental saya bukan mental leader, kalik 😛

Bubos saya kala itu bilang, kalo di dalam tim itu terdiri dari banyak kepala yang isinya nggak akan pernah sama satu sama lain. Jadi, berbenturan itu mah pasti ada banget gimana pun caranya. Tugas seorang leader mesti bisa menengahi, bantu cari jalan tengah, bantu cari solusi. Apa, deh, itu namanya.

Mungkin ego saya ketinggian, saya sering spanneng duluan ketika dikritik. Mau halus apalagi lembut. Apalagi kalo diserang. Wih! Bakalan bangun, deh, singa laper di dalem diri saya yang lagi tidur 😛

Tapi kayaknya seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak ketemu orang, mudah-mudahan ilmu maklum saya bertambah. Biarin lah orang ini bertingkah begini begitu, kalo sampe ganggu, baru deh, cakar! Selama nggak ganggu, biarin aja. Iya. Ini bukan sikap leadership yang baik, saya tahu 😀

charlie and hobbes leader.png

Di sebuah organisasi yang sedang saya ikuti, saya juga masih ngerasa gagal sebagai leader. Sebenernya sih, bukan ngerasa gagal sebagai leader. Yang dipimpinnya “ngabur” for some reasons. Hahaha. Pengennya sih, saya diganti aja. Tapi, pak Ketu malah ngajakin saya bebenah. Wekekekek.

Nah, ceritanya saya main game bernama Hayday. Iya, hari gini saya masih main Hayday. Saya masuk sebuah neighborhood yang dulu dibentuk seseorang yang sayangnya ternyata itu akun pseudonim. Ketika akun pseudonim tersebut terungkap kepalsuannya, dia malah ninggalin kami semua, setelah sebelumnya mengangkat salah satu dari member neighborhood untuk jadi leader. Duh, padahal sejak dia pergi, kompetisi Derby mulai seru! Huhuhu.

Leader yang baru kurang konsen main, soalnya emang dia juga kan rebutan gadget sama bocahnya. Jadi, yah, nggak bisa diharapkan kalo gitu mah. Trus, entah gimana cerita, dia tiba-tiba mengangkat saya jadi leader di neighborhood tersebut.

Selama beberapa waktu, saya berjuang bertiga aja ngerjain task Derby. Kalo ngajak chat di neighborhood, misalnya saya butuh bantuan apa gitu, sepiii banget. Kadang baru dijawab besoknya, padahal tasknya udah keburu expired. Sedih, deh. 😄

Masalahnya, beban neighborhood berat. Anggota neighborhood 20 orang, yang ngerjain tasks cuma 3-4 orang, disaingkannya ya dengan neighborhood dengan 20 orang yang semuanya ikut Derby, lah. Nah, salah satu member itu ada yang dari luar negeri, levelnya udah 90-an. Saya akui, pernah di salah satu Derby, saya nggak menghasilkan point sama sekali, karena jujur, saya males nerusin kalo gini caranya.

Tapi saya lalu terperanjat, karena setelah Derby usai di sebuah pekan, member dengan level tertinggi itu left neighborhood. Karena saya follow farmnya, saya menemukan dia masuk neighborhood dengan status Champion League (Derby tertinggi, punya sembilan tasks) dan beranggotakan 30 orang! T____T

Saya sangat terpukul. Saya lalu berusaha mengerjakan task Derby sebaik-baiknya. Terima kasih, Tuhan, karena ada dua orang member yang masih setia menemani saya ber-Derby. Thanks, Linda dan kak Ria, yang udah nyemangatin saya!

Saya harus segera pegang kendali saya sebagai leader, I need to get back on my track. Pokoknya, neighborhood yang saya pimpin harus naik peringkat! Langkah pertama yang saya ambil adalah: menendang member yang udah berbulan-bulan nggak main. (Maaf, ya, teman-teman, tapi sebagai leader, saya harus melindungi teman-teman lain yang masih aktif. Sementara kalian nggak set Derby off)

Langkah kedua, saya mulai mengontak secara pribadi teman-teman yang masih ada peluang main tapi kayaknya nggak ikut Derby. Saya minta mereka atur supaya mereka off-kan keikutsertaan mereka di Derby. Dari lima yang saya kontak, dua orang memang meng-off-kan Derby mereka, yang di luar dugaan, tiga orang malah memutuskan back on track! Ikut Derby lagi! Yeay!

Seneng, dong. Dan emang, kami naik dua kali, nih! Haha. Doain, yah, bisa masuk ke Champions League. Sekarang udah ada di Expert League.

Saya akui minggu kemaren saya bawel banget. Berusaha menyemangati temen-temen. Berusaha menyediakan semua keperluan member. Sempet minta maaf lah ke mereka karena saya bawel, tapi malah disemangatin, katanya, kalo leader emang harus bawel. Kekekek…

Leadership saya masih diuji lah, kami belum nyicipin masuk ke Champions League. Kalo member neighborhood saya ini masih hangat-hangat tokai ayam, keknya perlu dijewer juga,deh. Ooops!

Dari sini saya belajar sesuatu. Jadi leader emang nggak mudah. Tapi, dengan percaya dan berbagi tugas dengan member atau co-leader, saya pikir kami akan mencapai tujuan bersama. Nah, semoga saya bisa terapkan hal ini ke divisi yang sedang saya pimpin, ya (yang ini mah di luar konteks Hayday). Saya emang pengen bebenah divisi dan merombak cara kerja. Cuma masih belum tau apa yang akan saya lakukan untuk mencapainya. Impian saya tentang divisi di organisasi tersebut cuma akan jadi angan-angan doang, kalo staf saya nggak bantuin 😀 Udah lama punya mimpi soal itu.

Tapi saya sadari satu hal juga. Meski staf saya udah berusaha keras, kalo nggak didukung dari divisi lain, kami pasti akan mandek dan akhirnya nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak akan ada bedanya dengan hari-hari kemarin.

Jadi intinya, organisasi itu adalah “tubuh”. Satu anggota “tubuh” sakit, mestinya anggota “tubuh” lain ngerasainnya juga. Entah, deh, kalo sebenernya organisasi itu adalah “tubuh” yang semua anggotanya mati rasa, jadi walau kami, si salah satu anggota “tubuh” itu, udah teriak-teriak kesakitan, sementara anggota “tubuh” lain cuma pada bisa nepuk kami buat kasih semangat tanpa bantu nyembuhin, percuma juga, sih, ya…

Terus, gimana dengan neighborhood yang saya pimpin sekarang? Doakan tembus ke Champions League. Kayaknya saya mesti pake ilmu tega kalo masih ada member yang males 😄

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s