Racauan · Review

kilas balik 2015

Ditantang kang Qui, buat nulisin “Terbaik dan Terburuk di 2015” versi saya. Halah.

Sebenernya nggak pengen sih. Cuma dipikir-pikir, mungkin ini baik untuk refleksi diri (kok jadi kayak baca tagline pijat, sik)

Jadi?

Jreng… jreeeng. Mari kita mulai curhat.

peanuts-depressing year.jpg

9 buku (yang terdokumentasi). … komik (nggak ngitung, soalnya emang cuma baca ulang semua Miiko seluruh judul). 2 drakor. 1 j-dorama. 3 movies. 6 review buku. 6 karya tusuk silang. 3 karya paper quilling. 0 karya lipet-lipet. 0 karya papercutting (karena baru sampai niat). sempet ngeroti juga keknya.

Payah? Jelas. Terutama masalah nulis review buku. Padahal, rencana saya, tahun 2015 pengen melahirkan dua blog baru: blog craft dan blog review film. Tapi yah gitu. Berantakan.

Sebenernya buku yang saya baca ada 15. Tapi yang terdokumentasi hanya sembilan, direview hanya enam, enam lainnya nggak kelar dibaca di 2015 karena keburu males nerusin atau pengen buka buku lain. Dan selalu tergoda pengen baca Miiko lagi.

Kalo boleh dibilang, yang terbaik di 2015 adalah 6 karya tusuk silang dan 3 karya paper quilling. Mengingat tahun sebelumnya hanya menghasilkan 2 – 3 karya tusuk silang (baru mulai tahun lalu, sih).

Paper quilling terbaik tahun ini akibat kepepet karena ada yang ulang tahun. Penerima paper quilling yang pertama dan kedua sih, bilang seneng. Kalo yang ketiga entah, deh. Bilang makasih juga nggak. Sebenernya nggak terlalu pengen bikinin, mengingat orang ketiga yang saya kasih itu demennya parfum, tas, sepatu, jam tangan dan mobil, saya cuma mampu bikinin karya tangan. Kekekek. Ini bagian terburuk sepanjang sejarah saya bikin kado handmade.

Moral of the moment, ke depannya, kalo mau kasih kado, liyat-liyat situasi dan karakter orangnya juga. Nggak semua orang suka dengan kado handmade. Masih ada orang-orang yang lebih menghargai kalo dia dikasih Dior atau Gucci ketimbang kado handmade. Tapi, nggak sedikit juga orang yang sangat menghargai kado handmade, karena handmade itu priceless (nggak berharga kalo kata pa il mah :P)

Drakor cuma berhasil namatin Marriage not Dating dan Angels Eyes. Yang lagi ditonton sejak 2015 belum kelar sampai sekarang tuh My Daughter Seo Young. Serial Bigbang nggak ketonton ulang. Movies yang ketonton cuma Inside Out (bolak balik) sama Toys Story 3 (bolak balik juga). J-dorama yang berhasil ditonton ulang hanya Good Luck. Oke. Ini memang faktor mas Kimura Takuya, wajib ditonton ulang tiap tahun. Paling nggak, ritual tahunan nonton Good Luck terkerjakan di 2015 😛

Namun, dari seluruh catatan keburukan, di tahun 2015 saya lebih produktif nulis di blog ini, walau ritual nulis surat mengenang mendiang ibu nggak terlaksana akibat terlalu excited dengan event gathering sebuah komunitas.

Tahun 2015 bisa jadi kemunduran soal membaca, soalnya emang lagi nggak mood, banyak teralih fokusnya. Saya mencoba bawa buku ke kantor atau sekolah anak, tapi akhirnya nggak baca karena malah mantengin grup waslap. Huhuhu… Kayaknya lagi bosan baca aja. Tapi setiap lihat tumpukan buku di kamar Ilman, rasanya kok, saya berdosa gitu. Dari situlah saya bertekad untuk bisa baca semuanya tahun ini. Paling nggak setengahnya.

Salah satu yang terbaik juga di 2015: Saya cuma belanja buku dua kali. Duanyanya bekas pula. Hihihi. Satu karena lelang, satu lagi karena ada yang jual butuh.

Punya resolusi di 2016? Nggak punya. Paling tekad memperbaiki produktivitas membaca, tusuk silang, paper quilling, paper cutting, juga nulis review. Punya target membaca 40 buku dan nulis 60 review buku. Plus, nulis agak bener di review Goodreads, biar nggak diledekin Aki Hippo (yang katanya dari Hongkong itu). Nonton drakor atau J-dorama dan movies seiring dengan berjalannya mood dan waktu aja, pengennya sih bisa ngereview juga. Semoga YongHwa oppa terlibat di dorama baru, deh, biar saya ada bahan memandangi dia lagi. Hawhaw.

Jadi, gitu, deh, kang Qui. Terbaik dan Terburuk versi saya di 2015. Semoga tahun ini bisa bayar hutang-hutang review dan SAL. Aamiin.

Advertisements

4 thoughts on “kilas balik 2015

    1. kepaksa, kang, soal belanja buku mah. rak buku udah pada menderita, butuh teman baru, tapi bukannya dikasih teman baru, malah dikasih makan terus sampai olap.

      drakor itu karena ceritanya ikutan trend dan kepo, biar kekinian, walau suka gemes-gemes gimana gitu nontonnya. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s