just my two cents · Racauan

Citraan

calvin and hobbes citra.jpg

Menurut kamus Bahasa Indonesia panutan saya, makna citraan (kita biasa dengar dengan kata “pencitraan”)…

citraan/cit·ra·an/n Sas cara membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu; kesan atau gambaran visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi

Biasanya, istilah ini diberlakukan bagi pejabat (atau calon pejabat) yang kerap dianggap melakukan “citraan” ketika dia blusukan keluar masuk kampung, pasar tradisional, dan lain-lain saat berkampanye.

Ketika memikirkan satu kata ini, (saya memiliki kebiasaan memikirkan satu kata yang selalu nyangkut di kepala sampai akhirnya saya harus mengeluarkannya dalam bentuk tulisan), saya teringat pada masa saya masih bekerja di sebuah playgroup ketika masih jadi tim edisi perintis.

Karena baru mau mulai tahun ajaran di angkatan pertama, untuk menarik perhatian calon siswa juga orangtuanya, beberapa bulan sebelum tahun ajaran baru mulai, kami mengadakan Trial Class, selama sebulan. Hampir semua peserta Trial Class berasal dari keluarga menengah ke atas (baca: kelas sosial A, minimal punya mobil ber-AC dan mengilap).

Style para ibu? Tentu saja, mayoritas para ibu gaul dengan dandanan high class :D. Kalo mereka berdiri berdampingan dengan kami, kami jadi seperti maid mereka. See? Dari penampilan luar terbentuk sebuah citraan, kan?

Para ibu ini menarik perhatian saya. Yah, waktu itu kan saya belum menikah, jadi sekalian cari referensi mau seperti apa kelak kalo udah jadi ibu.

(((cari referensiiii)))

Ketika itu saya hafal semua jenis merk mobil yang kerap drop atau pick siswa, karena emang hampir semuanya selalu seperti itu. Kecuali satu. Ibu ini setiap datang selalu ganti mobil, pakai supir. Selalu. Jadi saya nggak pernah bisa hafal mobilnya apa aja. Karena pasti selalu beda di setiap kedatangannya.

Citra yang terbentuk di kepala saya ketika itu adalah: si ibu ini tajirnya edan, garasinya entah segede apa, dan yang jelas mobilnya buanyaaak! Iya, saya dulu sepolos itu. Nggak kepikir apa ibu itu suaminya kerja di showroom, bengkel atau apa, deh. Hihi.

Untuk menambah kesan ketajirannya, si ibu ini pengen mengadakan party ulang tahun anaknya di sekolah. Namun, pimpinan yayasan kan anti banget sama perayaan ulang tahun, jadi hal itu tentu saja terlarang di sekolah. Akhirnya, ibu ini mengundang para staf sekolah dan siswa trial class ke sebuah resto siap saji untuk merayakan ulang tahun si anak. Karena kami nurut sama pimpinan yayasan, kami tidak hadir di acara tersebut :D. Cuma supaya si anak nggak kecewa karena nggak ada pihak sekolah yang hadir di acara ultahnya, para guru datang ke rumah si anak ini. Saya nggak ikut, karena ada urusan di kampus. (Kampus apa pacar, ya? Lupa!)

Kami sempat berekspektasi terlalu tinggi pada ibu ini. Hampir semua dari kami sepikiran dengan saya mengenai citra ibu ini. Jadi… pas kami tahu bahwa mobil gonta ganti itu adalah mobil yang baru selesai dipoles sebelum diambil pemiliknya (karena suami si ibu ini kerja di bengkel auto), terus bahwa rumahnya nggak semewah dan sekeren yang kami bayangkan, bahwa dia nggak setajir yang kami bayangkan, mimik kami semua sempat pokerface pas bahas itu 😀

Saat itu, sambil makan siang di kantor sekolah, kami bersyukur bareng-bareng, bahwa kami nggak harus “kerja keras” untuk terlihat keren, karena pada dasarnya kami sudah keren dari sananya https://fbcdn-dragon-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xaf1/t39.1997-6/p160x160/851575_392309847532994_1387280330_n.png

Balik lagi ke soal citraan atau pencitraan tadi, saya berusaha untuk melihat dari sisi lain, bahwa citraan bukan sekedar ingin terlihat “hebat”, “wah”, “keren” dan sederet sanjungan lainnya.

Saya agak “meyakini” bahwa sesuatu yang semula dilakukan untuk citraan sebetulnya dapat membawa perubahan bagi pelakunya, dengan catatan: dilakukan secara konsisten dan jangka panjang.

Misalnya, saya pengen dianggap sebagai kutubuku keren. Saya harus rajin apdet progres baca dan menulis komentar pintar sebagai pencitraan. Pokoknya biar orang-orang lihat kalo saya ini kutubuku yang keren, saya harus lakukan pencitraan. Kalo saya konsisten, lama-lama akan jadi kebiasaan buat saya dan akhirnya akan terbentuk bahwa saya emang kutubuku keren. Misal ini mah, misaaaaaaaaaaal. Kenyataannya? Kalian tentu tau sisa ceritanya 😛

Jadi, in my humble opinion, setiap kita lihat ada yang posting dengan modus pencitraan, mending jangan nyinyir duluan. Let’s see if that will turn out to be a good habbit. Dampaknya pasti akan bagus untuk lingkungan, nusa, bangsa dan sekitarnya. Lagian bagusan gitu walau modusnya pencitraan daripada kita yang cuma bisa nyinyir. Hihihi.

Tahun ini, rencana pencitraan saya adalah baca 40 buku di luar komik dan nulis 60 review buku dan komik. Plus khatam Al Quran sedikitnya 10 kali. Kenyataan? Kita lihat di evaluasi akhir tahun nanti… https://fbcdn-dragon-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xaf1/t39.1997-6/p160x160/851575_392309847532994_1387280330_n.png

Advertisements

2 thoughts on “Citraan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s