just my two cents · Racauan

A Blessing in Disguise

Disclaimer: Judulnya aja sok English, tapi karena saya nggak tahu padanan katanya dalam bahasa Indonesia, ya sutralah, ya… Hihihi…

A blessing in disguise: something that seems to cause problems, but that you later realize is a good thing

Terus terang, saya jadi pengen nulis setelah baca ocehan mas Agung Mbot di sini, tentang rezeki. Saya nggak akan cerita tentang rezeki seperti di tulisannya itu, tapi kurang lebih agak nyambung dikit iya ini maksa banget karena kaitannya dengan percaya akan janji dan balasan dari Tuhan 😀

Jadi gini…

Sejak awal Zaidan masuk sekolah, kami “dipaksa” nabung di setiap kehadiran sekolah dengan peruntukan field trip (sebenernya mereka sebut ini dengan piknik, saya aja yang bilang ini field trip. hahaha). Sekitar akhir Maret hingga awal April, pas Zaidan kepaksa “libur panjang” selama tiga pekan karena terkena campak sampai seluruh kulitnya mengelupas alias ganti kulit, saya dapat pengumuman kalo field trip piknik tersebut akan diadakan pada hari Kamis, 19 Mei 2016, ke Villa Kancil di daerah Rancaekek.

Semua orang, terutama Mama-mama Rempong, antusias menyambut hari H ini.

Sedikit informasi, yang saya sebut Mama-mama Rempong ini adalah grup mama-mama kelas Zaidan yang alhamdulillaah, kompak semuanya. Keberadaan mereka bikin saya betah kalo lagi nungguin Zaidan, walau jujurly, strata pendidikan mayoritas mereka jauh di bawah strata pendidikan saya. Tapi mereka “memaksa” saya untuk bisa bergaul dengan berbagai kalangan, termasuk lower level than mine. Mereka “memaksa” saya untuk masuk ke level mereka. Saya terbiasa bergaul dengan teman-teman yang strata pendidikannya minimal setara dengan saya, sehingga otomatis, bahasa yang digunakan juga bahasa yang sama. Sehingga ketika saya kecebur bergaul dengan mama-mama rempong ini, saya mesti agak nurunin frekuensi dan level saya ketika bersama mereka supaya bisa nyambung dengan mereka. Susah, ya. Karena selama ini saya ga pernah praktik. Alhamdulillaah. I did it!

Saya juga ikut antusias, walau ini artinya saya mesti absen masuk kantor. Bisa jadi, momen field trip piknik itu akan jadi terakhir kalinya kebersamaan saya dengan mereka. Sebab saya berencana memindahkan Zaidan bersekolah di tempat lain, dengan pertimbangan (salah satunya) durasi waktu belajar lebih lama di sekolah untuk mempersiapkannya masuk full day school yang sama dengan Ilman.

Tapi Tuhan berkata lain. Satu pekan sebelum acara ini, Zaidan dapat musibah yang mengakibatkannya harus bolos sekolah lagi sampai kakinya pulih. Tentu saja dia pun harus batal ikut acara field trip piknik ini. Alhamdulillaah, anaknya belum ngeh kalo bakalan ada acara field trip piknik ini, jadi dia nggak nagih-nagih. 😀

Ketika ada yang kirim BBM ke saya, nanyain kenapa saya belum datang juga di hari H sebelum keberangkatan, saya katakan bahwa kondisi kaki Zaidan belum pulih, jawaban orang tersebut, “yaaah… ga seru ga ada mama Zaidan mah…” Naega eotteohgae? 😀

calvin-and-hobbes quote2
jangan tanya saya kenapa pake gambar ini 😛

Ini adalah momen di mana baik saya maupun Zaidan harus belajar ikhlas dan menerima fakta bahwa “manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang punya kehendak”. Saya sih nggak sedih, karena percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik dan saya nggak pernah nagih apalagi bertanya-tanya apa rencana Tuhan pengganti kebatalan saya dan Zaidan ikut “rempong” bersama teman satu sekolah Zaidan. Hihihi…

Tapi percayalah, saya sempet mengelus dada dan ber-sigh-sigh gitu ketika membaca pesan BBM yang masuk tersebut, kok, kayak yang nggak punya empati dengan keadaan ini. Hahaha… Mungkin balik lagi ke faktor strata pendidikan yang membuat orang tersebut ga bisa berempati? (apa hubungannya? *dikeplak)

Saya selalu percaya bahwa di balik musibah ini, walau terus terang saya baper atas kejadian yang menimpa Zaidan, there is a blessing in disguise.

Salah satunya, “secara kebetulan” sejak dua hari sebelum acara, ibu saya sakit sehingga harus beristirahat total. Saya menggantikan perannya berpetualang ke pasar dalam rangka membeli kebutuhan sehari-hari bahkan mengakrabkan diri dengan mas penjual beras langganan ibu. Saya juga menuai titipan doa dari para pedagang di pasar yang kenal akrab dengan ibu 😀 alhamdulillaah… walau keakraban saya dengan mereka belum sampai ke taraf dapat diskonan juga sih 😛

Satu hal lagi, alhamdulillaah, saya dikaruniai suami yang orangnya nrimo. Jadi, kalopun kami ketimpa masalah, dia selalu berusaha melihat dari sisi lain ketimbang sisi bapernya dan berusaha membukakan mata saya untuk nerima itu. Jadilah wawasan saya terbuka. Walau baper atas musibahnya, saya tetep selalu percaya dengan peribahasa di atas tadi.

Jadi kalo ditanya apakah saya kesal dan menyesal karena nggak bisa ikut field trip piknik bersama teman satu sekolah Zaidan? Saya jawab dengan tegas “tidak!“, karena Tuhan selalu punya rencana baik, Dia itu Maha Baik. Insya Allah akan selalu ada celah buat bersyukur. Alhamdulillaah, yaaa… Syahroni style ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s