just my two cents · Quote of the Day · Racauan

Tomorrow, Autism, dan Mercury Rising

“Tomorrow is promised to no one.”
Clint Eastwood

Tadi pagi, saya dan Pa Il daftarin Zaidan ke sebuah taman kanak-kanak tempat Ilman bersekolah dulu. Selagi ngobrol dengan bu Kepsek, muncul seorang anak penyandang ADHD yang memang sudah saya kenal cukup lama ke ruangan bu Kepsek. Sebut saja namanya Mori. Dia sedang mencari sesuatu, yang menurut bu Kepsek adalah buku kuitansi untuk disusun..

Tiba-tiba dia duduk di pangkuan Pa Il, seakan-akan mereka sudah kenal lama. Padahal kayaknya mereka baru ketemu sekarang. Karena saya dan Pa Il hendak bergegas, saya panggil Mori, “Mori, mau peluk Bunda, nggak?”

Nggak saya duga, dia duduk di pangkuan saya dan membiarkan saya memeluknya. Lalu saya ajak Mori ke kelasnya. Tapi yang nggak saya duga kemudian adalah dia nggak mau lepas dari saya, malah minta gendong. Hihi. Dari cara dia memeluk, saya menyadari bahwa dia seperti meminta rasa aman pada saya. Saya mengusap punggungnya, berbisik, “I love you, Mori…” dan dia semakin mengeratkan pelukannya pada saya.

Ini pengalaman pertama banget bagi saya untuk bersentuhan langsung dengan anak berkebutuhan khusus selain Ilman. Karena biasanya mereka nggak mau saya dekati apalagi sampai mau memeluk saya seperti itu. Mori berbeda. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada saya, saya bisa merasakannya. Walau perilakunya berbeda jauh, Mori dan Ilman punya kesamaan: sama-sama sensitif dan bisa merasakan keberadaan orang yang mau menerimanya dengan hati. Ilman itu mudah memeluk orang, tapi nggak semua orang bisa dia peluk secara spontan. Saya cukup terkejut ketika dia memeluk sepupu saya, Dadan, pertama kalinya dia bertemu. Setahun lalu mereka bertemu ketika Dadan sekeluarga berlebaran di rumah orangtua saya, tapi saya tahu tidak ada interaksi di antara keduanya. Jadi, saya cukup kaget melihat Ilman spontan memeluk Dadan beberapa pekan lalu. Dari situ saya juga tahu, bahwa Ilman peka mengenali hati murni yang baik dalam diri Dadan.

Lalu saya ceritakan pengalaman saya tadi pagi ke sebuah grup whatsapp. Ada yang kemudian bertanya mengenai apakah ADHD itu dan saya hanya kasih tahu akronimnya (orangnya mesti guling-guling sendiri deh, buat tahu apa itu). ADHD adalah akronim dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Mori termasuk penyandang ADHD non verbal. Maksudnya, dia belum bisa mengucapkan satu patah katapun di usianya yang ke-6 tahun. Setahu saya, Mori belum mampu mengendalikan tantrumnya, sehingga cenderung menyerang orang lain. Ilman tidak pernah menyerang orang lain selain orang terdekatnya jika sedang marah. Tapi masa itu sudah berlalu. Paling sekarang kalo marah, dia memukul saya atau adiknya. Itupun nggak sampai bertubi-tubi.

Dua pekan lalu, mama Mori curhat pada saya, bahwa Mori menyerang seseorang ketika tantrum dan akibatnya “berbuntut”. Orang yang diserang itu nggak mau menerima permintaan mama Mori dan terus nyerocos sehingga mengecilkan hati mama Mori yang membuat hatinya semakin terpuruk. Mama Mori bertanya pada saya, “Mom, salah, nggak, kalo saya bereaksi seperti itu? Saya menangis nggak bisa berhenti… padahal saya sudah berusaha menerima kenyataan ini… Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk kuat.. tapi ketika ada orang yang marah walau saya sudah berkali-kali minta maaf, ini di luar kontrol dan dugaan kami, rasanya sakit banget, Mom…”

Jujurly, saya nggak punya comfort words untuknya. Saya bisa merasakan kepedihan di hatinya, karena saya juga kerap merasakannya berulang-ulang. Saya cuma bisa bilang, “that’s okay, Mom. You’re still human…” *lalu saya kasih emot peluk*

Di grup whatsapp yang saya omongin di atas tadi, ada yang tiba-tiba merasa dirinya penyandang ADHD atau autistik hanya karena merasa tidak fokus, anti sosial, dll. Entah kenapa, saat membaca komentar itu rasanya agak tertusuk hati saya, karena ini seolah-olah jadi candaan yang sumpah nggak lucu. Saya hanya berkomentar, “dites dulu aja. Buat tahu masuk spektrum autistik atau nggak kan harus melalui berbagai tes. Nemuin diagnosa Ilman aja saya sampai nangis darah”.

Oke. Ini emang lebay.

But FYI, untuk menerima sebuah diagnosa “gifted disinkroni dengan perilaku autistik dan kesulitan belajar spesifik” itu, Ilman harus melalui berbagai tes dan observasi. Dealing with a special kid like him, we need extra energy, support, matter, and tears.

Saya melalui masa-masa tubuh saya rasanya remuk karena dipukuli Ilman ketika tantrum. Saya melalui masa-masa berat ketika saya frustasi nggak bisa berkomunikasi dengan Ilman. Saya melalui masa-masa berat ketika menghadapi Ilman tantrum dan saya nggak tahu mesti bagaimana mengendalikannya. Hari ini ketika dia tantrum mungkin bisa dialihkan dengan cara A. Tapi besok, belum tentu mampu reda dengan cara A. Saya harus punya berbagai cara untuk membantunya bisa mengendalikan tantrumnya dan nggak selalu ampuh.

Masa-masa berat itu masih akan saya lalui hari ini, besok dan seterusnya. Apakah ini candaan? Seriously, NOT. Tapi mungkin bagi sebagian orang, ini adalah bahan candaan karena mereka nggak pernah tahu rasanya ada di posisi ini.

Karena saya juga tahu banyak orang di grup whatsapp itu mungkin nggak pernah bertemu langsung dengan anak-anak dalam spektrum autistik, saya lalu merefer ke film Mercury Rising. Kenapa? Karena saya tahu seperti apa anak autistik dari film itu. Saya belajar tahu bagaimana berusaha menjalin komunikasi dengannya lewat film itu. Miko Hughes, pemain karakter Simon Lynch -penyandang autistik, berhasil meraih hati saya karena akting bagusnya seolah-olah dia nyata banget menjadi penyandang autistik.

Saya menonton film itu jauh sebelum saya menikah. Dan ternyata Pa Il juga sama. Sebenernya, sih, karena Pa Il itu fans nomer satunya Bruce Willis, makanya dia demen sama film-film beliau. Kalo saya nonton Mercury Rising emang karena ceritanya menyentuh sekali.

Ada komentar yang bilang di grup itu ketika saya ceritakan kerennya akting Miko Hughes, “k Peni hafal banget, toh, nggak akan keluar di ujian”.

Saya jawab, “iya, sih, bener. Tapi kepake banget di ujian hidup alias kenyataan. Now I’m dealing with autism child. Aku belajar banyak dari film itu, kayak metode komunikasi yang mereka gunakan di film itu.”

Saya tahu, Mercury Rising hanya film. Tapi ketika rasanya seperti nyata, saya belajar banyak dari situ. Saya dan Pa Il sama-sama nggak pernah terpikir bahwa suatu saat kami akan dealing with autism. Tapi paling nggak, kami sama-sama ingat bahwa ciri-ciri autistik tersampaikan jelas di sana dan kami langsung mengenali anak kami punya ciri yang mirip (baca: nggak sama persis, tapi kurang lebih serupa).

Dari apa yang saya ceritakan di atas, kita memang nggak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi saya percaya, bahwa apa yang kita alami hari ini adalah bimbingan Tuhan untuk menjelang hari-hari esok. Do your best. Seperti yang dibilang Clint Eastwood, “tomorrow is promised to no one”.

Sebenernya saya nggak tahu benang merah dari tulisan ini, karena jadi belepotan apa hubungannya hari besok~autistik~Mercury Rising. Haha. Tapi ya udah, terima aja. Atau silakan bikin benang merahnya sendiri… 😀 Mood saya cuma segini buat nulis soalnya. Besok mungkin saya lupa lagi mau nulis apa kalo saya tunda 😛

Btw, ini trailer Mercury Rising, andai belum pada tahu filmnya

Advertisements

2 thoughts on “Tomorrow, Autism, dan Mercury Rising

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s