Uncategorized

Stasiun Radio. Apa Kabarmu?

radio-microphone-wallpaper-headphones_on_a_mic-1920x1440
sumber

 

Saya tumbuh bersama acara “mendengarkan siaran radio”. Saya lupa awalnya mulai kapan saya senang mendengarkan siaran radio, mungkin ketika saya duduk di bangku SD dan ibu kandung saya sudah wafat.

Kenapa?

Karena saya jadi banyak menghabiskan waktu bersama Bapak. Sebelum Ibu wafat, Bapak mengerjakan pekerjaannya di studionya, di daerah Linggawastu, Bandung. Bapak adalah seorang pembuat maket (miniatur bangunan yang menjadi prototype sebuah proyek). Karena pekerjaannya melibatkan banyak orang, rokok, dan begadang, Bapak mengontrak sebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah kami yang disulap jadi studio untuk mengerjakan maket, supaya lingkungan di dalam rumah tidak terlalu bising dan minim asap rokok, sebelum saya lahir. Apalagi almarhumah Ibu memiliki kelainan jantung sejak kecil.

Setelah Ibu wafat dan sudah waktunya kami menempati rumah sendiri yang lumayan jauh dari rumah kontrakan kami sebelumnya di daerah Cihampelas, akhirnya Bapak memutuskan untuk menjadikan rumah kami sekaligus studio untuk alasan sederhana: bekerja sembari mengasuh anak.

Ibu wafat ketika saya kelas satu SD dan baru menemukan ibu sambung (Mom, sebenernya saya manggil beliau “Ibu” juga, tapi buat bedain di sini, pake istilah “Mom” aja, ya) ketika saya kelas empat SD. Selama tiga tahun itu, saya dan adik saya diasuh oleh Bapak, dibantu seorang asisten yang mengerjakan pekerjaan rumah.

Sejak saat itulah, saya mulai akrab dengan siaran radio. Karena Bapak dan anak buahnya bekerja sambil mendengarkan siaran radio. Asap rokok? Jangan tanya. Selain Bapak juga saat itu seorang perokok, semua anak buahnya juga merokok. Bisa dibilang, alhamdulillaah banget, saya nggak punya masalah dengan penyakit paru-paru walau menjadi perokok pasif. Mungkin karena ketika bayi, imun saya kuat (pengaruh studio terpisah dari rumah tinggal). Sementara kedua adik saya yang lahir dari Mom, paru-paru mereka agak sensitif. Tidak heran. Selama Mom hamil, sehari-hari terpapar oleh asap rokok yang ada di rumah.

Fokus lagi ke cerita radio, yah. Hahaha… Ini curcolnya udah kebanyakan đŸ˜›

Siaran radio yang didengar Bapak dan para anak buahnya itu dari Mara FM. Jadi yah, saya terbiasa denger lagu Air Supply, Rod Stewart, Dian Pramana Putra, KLA Project, dan lain-lain sejak kecil. Setiap lagu diputar dan ada salam-salam yang dikirim melalui penyiar, rasanya saya kepingin banget bisa pesan lagu. Ya nggak buat dikirim ke siapa-siapa, sih. Hahaha. Lagian saat itu saya belum naksir siapa-siapa juga.

Sampai suatu ketika, lupa SD kelas berapa, saya memberanikan diri pergi ke telepon umum bermodalkan uang koin 100 rupiah 3 buah dan nomer telepon radio Mara FM yang sudah saya hafal entah sejak kapan XD

Pada masa itu, pasang telepon rumah itu antriannya bisa bertahun-tahun. Daftar udah dari sejak saya SD, baru terpasang setelah saya SMA. Ngahahahahaha…

Saya pernah diberi tahu (lupa oleh siapa) kalo nelepon ke stasiun radio buat minta lagu itu lumayan susah masuknya. Kayaknya hari itu juga saya nggak berhasil, karena setelah dicoba berulang-ulang, sambungan teleponnya sibuk terus. Sementara di belakang saya, antrian telepon umum sudah panjang. Hihihi…

Tapi saya nggak menyerah. Dari yang tadinya saya gemetaran karena gugup saat berjalan ke telepon umum sampai akhirnya saya udah nggak gemetaran lagi. Berapa kali nyoba, tuh! Ndilalah, pas ada rezekinya buat bicara sama operator, tremornya datang lagi. Hahahaha. Gugup banget ngomong ke operatornya buat minta lagu. Tapi saya masih ingat, mas operatornya baik banget. Saya juga udah lupa minta lagu apa.

Terus saya lari pulang ke rumah, masuk kamar dan ngumpet di bawah bantal XD

Saya nggak mau membayangkan respons orang-orang yang ada di studio Bapak kalo denger lagu permintaan saya yang diputar di siaran radio yang mereka dengerin. Kan pasti nama saya disebut, dong. Hihihi…

Alhamdulilllaah! Pas saya denger lagu permintaan saya diputar dan nama saya disebut, nggak ada yang ngeh kalo itu saya yang minta lagunya XD

Setelah itu saya nggak pernah lagi nelepon ke stasiun radio. Yang penting udah pernah nelepon ke stasiun radio dan saya senang lagu permintaan saya diputar. Cukup banget, deh.

Setelah SMP, saya punya pesawat radio sendiri di kamar. Bisa dibilang, buku dan pesawat radio adalah teman baik saya. Saya termasuk anak introvert, lebih suka diam di rumah, terutama  di kamar, apalagi sejak nggak perlu nebeng denger siaran radio dari studio Bapak.

Kebiasaan mendengarkan siaran radio terus berlangsung sampai saya menikah, punya anak, tapi bukan sampai sekarang. Saya lupa kapan tepatnya saya “berhenti” mendengarkan siaran radio. Yang jelas, walaupun sudah ada teknologi ponsel, kebiasaan saya mendengarkan siaran radio tidak berhenti. Saya bahkan selalu membeli ponsel yang ada aplikasi radio di dalamnya. Terakhir saya punya gadget keluaran Blackberry pun saya masih mendengarkan siaran radio, terutama ketika sedang dalam perjalanan.

Saya juga punya beberapa “kisah” dengan stasiun radio. Sewaktu saya baru lulus kuliah, saya pernah nemenin Pak Eka Wardhana (penulis cerita anak) menjadi penyiar tamu di stasiun radio MQ FM, hari Minggu. Kalo kebetulan pak Eka berhalangan hadir, saya ditemani teman saya, Aoe, mengisi siaran acara anak-anak di MQ FM itu. Dan saya nggak pernah tahu, kalo ternyata ada “fans” saya yang kemudian saya temui di luar studio secara nggak sengaja. Waktu itu saya lagi mau beli kerudung di daerah MQ Gegerkalong, teteh yang jaga tokonya bilang seperti sangat mengenal suara saya. Setelah kenalan, dia takjub karena dia ketemu saya yang suaranya hanya bisa didengarkannya lewat siaran radio. Padahal, saya cuma ngisi acara itu hari Minggu aja. Saya juga bukan penyiar. Hahaha. Kok bisa ya, udah punya fans aja? Di toko kerudung itu, saya sempet dikerubutin teteh-teteh lain yang ternyata juga pendengar siaran acara anak-anak itu. *pingsan karena kaget*

Beberapa waktu kemudian, saya ditawari ikut casting di stasiun radio yang sama. Dan juga beberapa stasiun radio yang lain. Tapi nggak ada yang lolos satu pun. Hihihi. Semuanya bilang, “tempo bicara kamu terlalu cepat untuk stasiun radio kami”.

Yowes. Saya pun akhirnya kerja di tempat saya kerja sampai sekarang. Dibilang lupa sama mimpi jadi penyiar nggak juga. Karena sekitar satu atau dua tahun (eh apa tiga atau empat tahunan, ya?) setelah saya kerja di Akal, saya sempat mendapat kesempatan menjadi narasumber yang diwawancarai. Stasiun radio yang waktu itu mewawancara saya adalah Mustika FM (sekarang jadi PRFM). Saya diwawancara terkait profesi saya sebagai content designer. Kaget juga waktu banyak banget telepon yang masuk dan kebanyakan yang nanya itu cowok. Mungkin karena bidang pekerjaan saya banyak didominasi kaum lelaki, kali yah XD

Beberapa bulan belakangan ini, saya terlibat “urusan” dengan salah satu mantan penyiar radio yang bergelut di back office sebuah stasiun radio. Kemarin, mantan penyiar ini datang ke kantor kami untuk mengerjakan salah satu urusan bersama kami. Di sela-sela pekerjaan itu, saya menanyakan sebuah pertanyaan yang sudah lama menari di benak saya.

Me: “Kang, sewaktu masih zaman lagu yang diputar di stasiun radio pakai kaset, kan, kasetnya stasiun radio pasti punya, ya. Sekarang, setelah lagu jadi dalam bentuk digital, stasiun radio punya lagu-lagu tersebut dalam bentuk apa?”

Dia: “CD.”

Me: “Beli? Legal?” (pertanyaannya minta dijitak banget, yah XD)

Dia: “Iya. Langsung dari label”

Me: “Trus, kalo lagu itu, misalnya, nggak masuk ke Indonesia dalam bentuk CD, tapi adanya di iTunes atau Playstore, gimana?”

Dia: “Ya purchase download. Tetap legal”

Me: “Syukurlah kalo gitu”

Dia: *muka pengen noyor* (nggak, kok, dia seneng saya bertanya begitu. kayaknya) “Belakangan yang susah didapat itu lagu dangdut. Kebanyakan, sering diputar di stasiun tv, booming, banyak orang minta diperdengarkan juga di radio, sementara si lagu itu nggak pernah dibuat single dari label manapun”

Me: “Nah, kalo kejadiannya begitu, solusinya gimana?”

Dia: “Ya jadi kesepakatan aja, sharing lagu untuk semua stasiun radio dari stasiun tv yang punya hak siar lagu itu.”

Obrolan berlanjut lagi mengenai tren stasiun radio saat ini. Saya pun membuat pengakuan padanya, bahwa belakangan, saya hanya mendengarkan siaran radio jika saya sedang berada di dalam mobil. Dan itu pun bisa dihitung dengan jari durasinya. Beliau mengakui, bahwa dari hasil survei, orang-orang sekarang mendengarkan siaran radio kebanyakan paling lama sekitar 15 menit dan itupun di dalam kendaraan. Berarti saya masuk ke dalam “orang-orang tersebut”.

Beliau juga bilang, bahwa tren saat ini, stasiun radio lebih menjadi tempat nongkrong. Dan interaksi stasiun radio dengan pendengar justru mengandalkan media sosial, bukan via telepon seperti dulu. Saya kok tiba-tiba yakin, bahwa “pendengar” yang berinteraksi dengan stasiun radio via media sosial pun tidak sedang mendengarkan siaran radio saat itu. Bener, nggak? Tidak salah kan, bila saya menulis kata “pendengar” dengan menggunakan tanda petik? XD

Sudah banyak stasiun radio yang gulung tikar. Termasuk sebuah stasiun radio yang masih “berhutang” sejumlah dus diapers hadiah kuis beberapa tahun lalu pada saya. Entah itu karena mulai kehilangan pendengarnya atau juga biaya operasional yang harus dikeluarkan lebih besar ketimbang pemasukannya.

Dari hasil diskusi dengan beliau, ada beberapa poin lain yang muncul selain mengenai tren stasiun radio yang terjun bebas. Di antaranya:

  1. Hilangnya “imajinasi”. Orang-orang sudah kehilangan imajinasi tentang karakter seseorang lewat suara, misalnya.
  2. Stasiun radio yang tadinya menjadi sumber informasi, kalah pamor dengan media sosial dan malah mengandalkan media sosial dalam menyebarkan informasi
  3. Alhamdulillaah, masih ada orang-orang “konvensional”, yang tetap menelepon ke stasiun radio untuk sekedar bertanya kepada narasumber atau sekadar “curhat”.
  4. Banyak stasiun radio yang akhirnya mengubah segmennya. Misalnya tadinya sebagai news radio, berubah menjadi stasiun radio seperti yang lain yang tidak hanya menyiarkan berita, tapi juga memutar lagu dan lain-lainnya.
  5. Hilangnya profesi operator radio, karena sekarang lagu-lagu yang dalam bentuk digital bisa disusun sendiri oleh penyiar tanpa bantuan operator lagi (hilang satu lapangan pekerjaan deh)
  6. Pernah dibuat semacam live radio, di mana di dalam studio siaran dipasang kamera, jadi kayak streaming siaran gitu. Tetap nggak mendongkrak jumlah pendengar (kasarnya: dianggap gagal)
  7. Selain menjadi tempat nongkrong, stasiun radio sekarang jadi lebih banyak mengadakan acara off-air

Sebenernya masih ada beberapa lagi, tapi saya agak lupa apa aja. Percakapan berakhir dengan pertanyaan beliau, “Mbak Pen masih tertarik jadi penyiar? Tuh, radio “xxx” lagi butuh penyiar…”

Untuk yang ini mah saya agak tahu diri saja. Dulu saya pernah ikut casting di sebuah radio anak muda, untuk posisi acara off-air dan promosi. Dalam banyak hal, saya lolos. Yang bikin nggak lolos, karena saya berhijab dan dandanan saya biasa banget alias nggak menarik XD (waktu itu hijab masih menjadi halangan bekerja di dunia entertainment, karena pada masa itu belum musim hijab modis kayak sekarang)

Lagipula, saya lumayan tahu lingkungan stasiun radio yang kayaknya “bukan” dunia saya lagi… Jadi… Stasiun radio, apa kabarmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s