just my two cents · Racauan

Spacing

photo-1

Sejak Zaidan sudah mulai bisa marah, dia akan menunjukkan kemarahannya dengan melemparkan semua barang-barang yang ada di dekatnya. Pertama kali saya mendapati itu, reaksi saya standar: marah balik. Karena, pengalaman saya dengan Ilman tidak demikian. Ilman akan cenderung menyakiti dirinya sendiri jika dia marah. Cara mudah menghadapi Ilman ketika itu adalah memeluknya dan menenangkannya. Nggak mudah, memang, karena dia akan memberontak. Tapi alah bisa karena biasa.

Zaidan akan marah bila anime kesukaannya habis tanpa dia sempat nonton karena dia tertidur atau pas bangun tidur saya tidak langsung menghampirinya. Bisa juga karena ada ritual yang terlewat dilakukan (dalam hal ini mampir ke warung nenek Arasj, tentu saja untuk jajan, dari mana saja perjalanan kami menuju rumah eyang).

Bisa dibilang, saya belum pernah memberlakukan hukuman pada Zaidan semacam time-out jika dia melakukan kesalahan. Karena saya pikir, Zaidan bisa saya ajak berdiskusi (baca: diomeli). Sebelumnya saya terpikir untuk menjadikan Zaidan sahabat saya. Tapi setelah beberapa kali baca artikel tentang parenting, saya harus tetap berperan jadi ibunya (yang harus menetapkan aturan ini itu), walau saya ingin menempatkan diri sebagai sahabatnya. Jadi ibu nggak sama dengan menjadi sahabat, tapi menjadi ibu bisa menjadi sahabat. –kurang lebih kayak gitu kata artikel parenting. Hahaha.

Dan kemarin saya seperti mendapat ujian untuk itu. Kemarin saya jemput Zaidan dari sekolah seperti biasanya. Nah, Zaidan itu nggak mau saya ada untuk orang lain. Biasanya, kalo saya mampir sana sini sebentar buat saling sapa (pasti ada buntutnya ngobrol lah :P), dia akan berguling di tanah untuk menunjukkan aksi protesnya.

Kemarin tidak demikian. Ketika saya sedang berbagi informasi mengenai salah satu teman saya yang merupakan dokter gigi baik dan ramah sama anak-anak pada salah seorang mama teman Zaidan, tak dinyana Zaidan sudah jauh meninggalkan saya. Saya langsung panik. Orang jahat bisa ada di mana saja dan dalam hitungan detik bisa saja dia tiba-tiba raib dibawa orang tak dikenal. Atau bisa saja tersambar mobil atau motor yang melintas, mengingat Zaidan berjalan sambil tidak memperhatikan jalan karena sedang berusaha kabur dari saya.

Well, oke, saya mungkin banyak terpengaruh oleh broadcast message atau berita di televisi mengenai kasus penculikan anak dan lain-lain, tapi saya hanya berusaha meningkatkan kewaspadaan saya.

Saya lupa sempat pamitan atau tidak pada mama teman Zaidan itu atau langsung ngacir, yang terpikir pertama adalah lari sekencang mungkin menghampiri Zaidan. Begitu tangannya sudah tersambar oleh saya, mulut saya merepet mengenai bahayanya bagi dia untuk berjalan sendirian jauh dari saya. Ujungnya adalah saya menyatakan bahwa saya akan memberlakukan sebuah hukuman: tidak mampir ke warung nenek Arasj untuk jajan.

Ketika sampai di persimpangan jalan, biasanya kami berbelok ke kiri dulu untuk mampir ke warung nenek Arasj, saat itu langkah kami langsung berbelok ke kanan. Dari sudut mata, saya menangkap ekspresi Zaidan. Sangat terlihat bahwa dia menyimpan kekecewaan dan kemarahan tapi ekspresinya tetap datar. Saya sudah bisa perkirakan apa yang akan dilakukannya begitu sampai di rumah.

Benar saja. Dia membanting topinya, melangkah masuk seraya membanting pintu. Sambil buka baju, dia menendang kotak mainannya sambil menangis. Yangkung tentu saja kaget dan berusaha membujuknya supaya berhenti melempar-lempar. Saya katakan, “biarin aja dulu. Biarin dia luapkan kemarahannya karena sedang dihukum.”

Saya tinggalkan Zaidan menuju dapur, karena saya berjanji pada Yangti untuk membuatkannya sambal bawang ala-ala Bu Rudy πŸ˜€ Saat itu saya merasa agak beruntung karena Yangti sedang keluar rumah, jadi nggak perlu pusing dengan amukan Zaidan. Biasanya kan Yangti paling nggak tega bila mendengar Zaidan nangis, jadi akan langsung membujuk dan “prinsip parenting” saya akan hangus seketika πŸ˜›

Saya biarkan dulu Zaidan marah-marah dan nangis sambil melempar semua mainannya. Saya berusaha tenang sambil meracik bahan-bahan sambal sekaligus menyiapkan makan siangnya. Sesaat sebelum menumis sambal, saya sempat menghampiri Zaidan untuk mengganti pakaiannya. Saya hanya melakukan kontak mata tanpa senyum, ingat: saya masih memberlakukan hukuman. Tapi keberadaan saya untuk memakaikannya pakaian ganti adalah bahasa tubuh saya padanya bahwa walau saya sedang memberlakukan hukuman padanya, saya tetap ada di sisinya, saya tetap menyayanginya, no matter what.

Selesai mengganti pakaiannya, saya kembali ke dapur untuk menumis sambal. Sudah tidak terdengar tangis dan amarah Zaidan. Dia mulai menonton Wasimo. Begitu urusan sambal selesai, saya hampiri Zaidan untuk menyuapinya. Saat itulah waktunya untuk ice breaking. Komunikasi kami kembali seperti biasa. Nyanyi bareng lagi dan hukuman juga dicabut beberapa jam kemudian. Hari itu, Zaidan tetap bisa ke rumah nenek Arasj πŸ˜€

Ketika hendak meninggalkan rumah nenek Arasj, Zaidan hampir saja mengulangi kejadian serupa: hendak berjalan meninggalkan saya. Mudah-mudahan memang karena dia mengerti bahayanya, dia mengurungkannya dan memutuskan menunggu saya πŸ˜€

Saya belajar satu hal. Ketika anak meluapkan kemarahan, sebaiknya kita biarkan dulu untuk beberapa saat, jauhkan benda-benda berbahaya sih, yang jelas πŸ˜€ Biarkan mereka meluapkan kemarahan sampai reda. Saya namakan itu sebagai spacing. Untuk memberi jarak antara bisa berkelakuan waras dan tidak. Mungkin dalam hal ini dengan cara meluapkan kemarahan. Kenapa saya tidak memutuskan untuk membujuknya langsung? Karena dia perlu meluapkan kemarahannya. Dia sedang kesal, kan. Ketika semua kekesalannya sudah meluap, energinya habis. Dia akan lapar dan butuh hiburan πŸ˜›

Kejadian kemarin membuat saya menyadari bahwa semua orang butuh spacing. Memberi jarak antara bisa berpikir jernih dan tidak. Caranya bisa bermacam-macam. Entah itu melampiaskan kemarahan dengan marah-marah atau apa saja. Sepanjang masih dalam batas aman, kayaknya biarkan dulu sambil tetap diawasi.

Bagaimana dengan kamu?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s