Cerita Bandung · Racauan

Ratu dan Raja Drama

Beberapa tahun lalu, saya pernah membaca sebuah postingan di media sosial salah seorang tante saya, berbentuk pesan untuk putrinya. Walau kesannya “khusus” untuk putrinya, saat itu saya berpikir tante saya sedang menyampaikan pesan untuk semua orang, terutama yang membaca postingnya saat itu.

Isi pesan itu adalah harapan tante saya pada putrinya, jika beliau wafat, untuk tidak mengunggah foto tante saya yang sudah mati. Kurang lebih isinya begitu. Kalopun ingin mengunggah foto untuk mengenangnya, unggahlah foto tante saya yang sedang segar bugar. Bukan sudah pucat karena tak bernyawa. Kalo saya boleh “saring” lagi pesannya: jangan pernah unggah foto jenazah.

Ketika saya masih sering berinteraksi dengan adik kelas saya yang seorang jurnalis, dia pernah katakan pada saya, bahwa stasiun televisi belakangan banyak melanggar kode etik penayangan. Di antaranya adalah menayangkan gambar jenazah. Kadang blurnya ga kena sasaran.

Sekarang? Semakin banyak orang punya kebebasan untuk mengunggah dan menyebarkan segala sesuatu, mulai dari berita bohong sampai foto jenazah, makin penuh deh posting sampah di mana-mana.

Hari Senin lalu, 24 Oktober 2016, terjadi banjir bandang di beberapa wilayah di Bandung. Bahkan ada korban meninggal, salah satunya seorang karyawan Borma Setiabudi. Tentu saja, berita mengenai banjir ini menghiasi hampir semua grup whatsapp yang saya ikuti. Terutama yang berasal dari Bandung dan ber”bau” Bandung. Dan tentu saja isi berita yang sama, teks yang sama, disalin dan tempel sana sini.

Dari semua grup itu, ada satu orang di satu grup yang ngaco banget. Di bawah salin tempel berita yang dia kirim, dia juga menyertakan foto jenazah. Hmph!

Saya yang nggak pernah nimbrung (karena saya memang nggak terlalu suka ngeksis orangnya) sangat merasa terganggu sampai saya harus komentar. Saya bilang, “punten untuk tidak mengunggah foto jenazah. Mari kita hormati orang yang sudah meninggal. Hatur nuhun”.

Tahu apa reaksinya? Orang ini berkilah, bahwa siapa tahu di grup itu ada yang kenal dengan almarhum, jadi niatnya hanya membantu. WTF banget, deh! Jelas-jelas di broadcast message yang tersebar itu, identitas korban sudah teridentifikasi lengkap. Nama lengkap, usia, bahkan alamat rumahnya. MASIH PERLU FOTO JENAZAH JUGA? *iya ini emosi banget gue*

Lalu, ada tetua di antara kami, yang pengennya berusaha menengahi. Intinya sih, dia belain orang ngaco ini dengan bilang, “mungkin beliau ini sangat terharu sampai memposting foto jenazah” (well, tetua ini beberapa waktu sebelumnya pernah posting foto jenazah yang lain juga sih di grup. Pantesan aja ngebelain).

Trus yang dibelain ini balas ngomong, “iya, betul. Begitulah hidup. Niat kita berbuat baik, selalu saja ada yang tidak berkenan”

*GARUK ASPAL* Drama banget, nggak, sih?

Tadinya sih saya pengen balas bahas kode etik dalam mengunggah. Tapi saya sudah tahu bahwa orang-orang begini emang udah bebal. Dan bisa jadi, mereka merasa dirinya benar. Saya sendiri nggak dalam kapasitas merasa bisa bicara dengan mereka, karena toh, saya sendiri nggak pernah ngeksis di antara mereka. Semacam ada pernyataan dari mereka, “siape lu? Ujug-ujug datang buat ngetrol” Hahahaha.

Oh, well. Orang ngaco ini nggak cuma seorang. Ada banyak Raja dan Ratu Drama. Kebanyakan dari mereka cuma baca judul bombastis tanpa ditelusuri dulu kebenaran beritanya, langsung share. Kemudian jika ditegur karena posting mereka berbau hoax atau fitnah, berkilah buat bela diri lalu merepet ke yang lain-lain. Selalu merasa dirinya sendiri benar. Lalu kita salah. Hahaha.

Aku lelah.

attention-whore

Ah, well. Suami saya selalu bilang, bahwa supaya kita nggak jadi cemen, kita emang harus sering ketemu dengan orang-orang begini. Dengan demikian, semakin lama, kadar maklum kita makin tinggi dan orang-orang seperti ini udah nggak akan mengganggu stabilitas mental kita lagi, karena kita sudah maklum dan nggak terganggu.

Tapi jujurly, orang-orang kayak begini masih bikin saya naik darah juga sih. Harap dimaklum, saya ini sumbu pendek. Jadi gimana, dong?

Kalo nggak lagi PMS sih, mungkin, saya bisa abaikan. Tapi kalo lagi PMS, rasanya pengen makan orang tersebut saat itu juga. Dan masalahnya, saya kayaknya PMS setiap hari. Hahahaha.

Biasanya, kalo curhat ke orang-orang dekat saya mengenai ini, ada dua tipe komentar. Komentar pertama, “Semoga kita semua dijauhkan dari orang-orang seperti ini.” Komentar kedua, “Tunjukkan bahwa kamu ga sama levelnya sama orang itu.” Jadi biasanya saya diem aja akhirnya. Diemnya bukan karena merasa kalah, tapi lebih ke males nyalain api. Kalo udah debat dengan saya malah jadi pada kebakaran. Dan saya cukup tahu diri bahwa saya bukan tipe orang yang bisa menyejukkan hati 😀

Satu lagi, dari hasil survey kecil-kecilan plus observasi melalui berbagai drama di media sosial, raja dan ratu drama ini akan selalu bertambah jumlahnya. Mungkin semacam wabah. Satu ratu atau raja drama bisa menginfeksi kalian-kalian yang belum jadi ratu atau raja drama. Siapkan imun di dalam jiwa kalian jika kalian masih waras dan tidak mau terinfeksi menjadi ratu dan raja drama seperti mereka. Perkuat iman, tambah wawasan kalian, perbanyak membaca buku (bukan bacain status melulu), perbanyak berkarya. Waspadalah! Waspadalah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s