just my two cents · Quote of the Day · Racauan

Home

HOME ~ Michael Buble

Another summer day has come and gone away
In Paris and Rome, but I wanna go home now
Maybe surrounded by a million people
I still feel all alone, I just wanna go home
Oh I miss you, you know

I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
I’m fine, baby, how are you?
I was sent them but I know that it’s just not enough
My words are cold and flat
And you deserve more than that

Another aeroplane another sunny place
I’m lucky I know
But I wanna go home
I’ve got to go home
Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just step outside when everything was going right
And I know just why you could not come along with me
But this was not your dreams, but you always believed in me

Another winter day has come and gone away
In even Paris and Rome and I wanna go home
Let me go home
And surrounded by a million people
I still feel alone
Let me go home
I miss you, you know

Let me go home
I’d have my run, baby, I’m done
I’ve got to go home
Let me go home
It’ll all be alright
I’ll be home tonight
I’m coming back home…

Tema pengajian di kompleks rumah hari Minggu kemaren itu “Baiti Jannati” alias “Rumahku Surgaku”. Tulisan saya ini sih sebenernya lebih buat jadi catatan buat sendiri. Tapi nggak ada salahnya buat dinikmati bareng-bareng. Apalagi kalo sambil minum kopi. Ahsek!

Sebenernya agak ngaco juga, sih, materi pengajian kemaren, malah disisipi lirik lagu yang ga syar’i pula. Tapi saya kan ga mengklaim bahwa tulisan saya ini bermuatan dakwah. *ngeles*

A home is generally a place that is close to the heart of the owner, and can become a prized possession. It has been argued that psychologically “The strongest sense of home commonly coincides geographically with a dwelling. Usually the sense of home attenuates as one moves away from that point, but it does not do so in a fixed or regular way. Terkenli, T. S. (1995). “Home as a Region”. Geographical Review. 85 (3): 324–334.

Rumah itu selayaknya jadi tempat pulang. Tempat nyaman kita, tempat kita beristirahat, sekaligus tempat yang memberikan rasa aman dan damai pada kita. Definisi rumah seharusnya seperti itu. Tapi nggak sedikit orang yang malas pulang ke rumah. Mungkin karena rumahnya tidak bisa memberikan rasa-rasa seperti yang disebut di atas tadi.

Di Al Qur’an, disinggung mengenai serangga yang membangun rumahnya sendiri. Salah satunya adalah An-Nahl alias Lebah.

And your Lord inspired to the bee, “Take for yourself among the mountains, houses, and among the trees and [in] that which they construct. ~ An-Nahl, 16:68

Seperti yang kita semua tahu, lebah itu nggak pernah sekolah arsitektur, tapi Allah mengajari mereka membuat rumah dengan desain yang keren dan struktur yang kuat. Setiap penghuninya punya tugas masing-masing dan mereka bekerja sama dengan sangat baik. Rumah lebah dikategorikan rumah yang cukup kuat dan tidak mudah rapuh. Selain itu, lebah selalu mendatangi tempat yang baik, sehingga lebah sendiri memberi manfaat bagi lingkungannya. Contohnya, mereka menghasilkan madu yang bisa kita konsumsi, mereka juga membantu tumbuhan berkembang biak, ketika mereka hinggap di atas tumbuhan.

Then eat from all the fruits and follow the ways of your Lord laid down [for you].” There emerges from their bellies a drink, varying in colors, in which there is healing for people. Indeed in that is a sign for a people who give thought ~ An Nahl, 16:69

Merujuk di kisah lebah dan rumahnya, rumah yang baik itu yang di dalamnya berisi penghuni yang baik, yang hanya mendatangi tempat-tempat yang baik dan bermanfaat bagi lingkungannya. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi sesama dan lingkungannya? Bukan yang menjadi sampah bagi masyarakat?

Selalu ajari anak kita bersyukur, menyayangi dan menghormati orang lain. Ajari diri kitaa sendiri dan anak kita untuk memberi manfaat pada masyarakat. Tanpa itu semua, anak kita akan berevolusi menjadi sampah masyarakat.

Hewan lain yang disinggung Allah dalam Al Qur’an mengenai rumahnya adalah rumah laba-laba.

The example of those who take allies other than Allah is like that of the spider who takes a home. And indeed, the weakest of homes is the home of the spider, if they only knew ~ Al Ankabut, 29:41

Di ayat ini disebutkan, perumpamaan orang-orang yang berlindung kepada selain Allah itu seperti laba-laba yang membuat rumah. Ketowel dikit dengan jari aja rapuh, gimana lagi kalo disapu. Babay.

Jadi inget, papanya anak-anak tuh sering banget ngingetin saya, “berharap itu jangan sama manusia. Pasti ada kecewanya.” Berharap mah sama Allah aja, udah paling bener itu πŸ˜€

Trus, kenapa juga, ya, rumah laba-laba itu rapuh? Desainnya bagus padahal. Dan bahan pembangun sarang laba-laba itu sutera yang dihasilkan dari sekresi kelenjar di perutnya. Setiap helai benang terdiri atas 1000 helai benang sutera. Benang ini kuat terhadap koyakan serangga yang lebih besar. Sayangnya, kekuatan sarang itu hanya bertahan sehari saja. Setelahnya, tidak lebih dari tumpukan benang rapuh.

Perumpamaan ini adalah contoh rumah yang hanya dibangun dengan material bagus, tanpa muatan ruhiyah di dalamnya. Seperti yang saya sebut di atas tadi, ada rumah yang orang merasa malas pulang ke rumahnya. Mungkin karena suasana rumahnya sumpek, isinya banyak benturan-benturan senggol bacok, dan faktor-faktor lain yang menjauhkan definisi rumah adalah tempat untuk merasa nyaman.

Selain itu, di sarang laba-laba itu terjadi kanibalisme. Setelah kawin, kalo laba-laba jantan nggak segera pergi, ia akan menjadi mangsa sang betina. Ini menggambarkan kerapuhan seorang kepala rumah tangga yang kalah oleh istrinya. Tugas seorang suami adalah menjadi kepala keluarga, sementara tugas istri adalah patuh pada suami. Bukan terbalik.

Lalu, induk laba-laba akan bertelur dalam jumlah ratusan dan menetas dalam waktu bersamaan. Bayi laba-laba itu akan serempak memakan tubuh induknya sampai habis untuk memenuhi kebutuhannya akan nutrisi, lalu mereka akan saling memangsa hingga akhirnya membubarkan diri lalu membuat sarang lagi masing-masing dan seterusnya.

Kebayang ya, kalo di dalam sebuah rumah isinya saling menjatuhkan, bukannya saling menguatkan. Yang kayak begini ini, salah satu jebolan sampah masyarakat wanna be πŸ˜₯

Perpecahan di dalam keluarga ini sangat menyedihkan. Belakangan denger cerita temen, dalam satu grup keluarga jadi pecah gara-gara bentrok pendapat mengenai politik. Sudahlah masalah warisan yang jelas banget ada tata aturan hukumnya bisa jadi biang perpecahan di dalam keluarga, sekarang ditambah masalah perbedaan pandangan politik bisa jadi tambahan biang perpecahan baru. *sigh*

Saat kita membeli rumah, terutama buat yang ngambil kredit perumahan rakyat macam saya, pasti butuh bayar uang muka, tanda jadi beli rumah. Selanjutnya ada akad kredit dan cicil mencicil sambil kita tinggal di dalamnya hingga lunas.

Sama halnya dengan perkara surga dan neraka. Surga itu sebaik-baik tempat pulang, sementara neraka adalah seburuk-buruk tempat pulang. Tergantung “uang muka” yang kita punya, kelak akan menuntun kita ke tempat pulang kita.

Soal “uang muka” ke tempat pulang abadi mah “sebenernya” kita semua juga udah tau, ya, misalnya apa aja. Saya nggak akan bahas di sini, soalnya kemaren nggak dibahas sama bu ustadzahnya πŸ˜€ mungkin kalo dibahas sama bu ustadzah, akan saya share di sini.

Kalo saya tentu pengen jadiin rumah adalah tempat yang memberi rasa aman dan nyaman buat saya dengan penghuni yang saling menyayangi semuanya… Bokap selalu bilang, “home is where your heart is”. Enjoy your home, then!

14362540_10154577191659802_4262161757873085107_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s