resume pengajian

Three NOs

Lagi-lagi ini mah catetan pengajian rutin di kompleks rumah. Judul aslinya sih, Mukjizat Akhlaq Rasulullaah. Bukan Three NOs yang ini, loh… πŸ˜€

Apa ajakah itu?

  1. Rasulullaah SAW tidak pernah mencela makanan sepanjang hidupnya. Kalo beliau suka dengan makanan tersebut, dimakan. Nggak suka, ya nggak dimakan. Tapi nggak mencela atau ngomong jelek tentang makanan itu.

    photo865058365795051874.jpg

    Suatu ketika, Rasulullaah SAW dan Khalid bin Walid dijamu makan oleh tuan rumah, berupa hidangan kadal padang pasir. Khalid bin Walid makan dengan lahap, sementara Rasulullaah SAW tidak menyentuhnya.
    Melihat Rasulullaah SAW nggak ikutan makan, Khalid bin Walid jadi punya pertanyaan, dong. Apakah kadal padang pasir itu haram atau gimana, sehingga Rasulullaah SAW tidak menyentuhnya sama sekali.
    Rasulullaah SAW hanya menjawab, “aku mendapati diriku tidak terbiasa dengan makanan itu”.

    Dari sini, kita bisa lihat, Rasulullaah SAW nggak pernah mencela manusia. Jangankan mencela manusia, mencela makanan saja tidak pernah.

    Oya, di sini dibahas juga, bahwa dari seluruh kegiatan berbohong yang dilarang, ada satu berbohong yang diperbolehkan. Yaitu berbohongnya seorang suami ketika memuji masakan istrinya. Walau keasinan, walau nggak enak, tetep aja dipuji atau minimal berterimakasih dengan memakannya secara lahap πŸ˜€

    Makasih, papa, yang selalu menghabiskan masakan bunda, walau kadang rasanya ga jelas asal muasalnya πŸ˜›

  2. Rasulullaah SAW tidak pernah menolak memberikan apa yang diminta kepadanya.Setelah Perang Hunain, Rasulullaah SAW dan pasukannya mendapat ghanimah (harta rampasan perang) yang sangat banyak. Rasulullaah SAW membagikannya kepada mereka yang baru saja memeluk Islam. Namun, Rasulullaah SAW juga memberikannya kepada Shafwan bin Umayyah, seorang yang sangat membenci dan dendam kepada Rasulullaah SAW. Shafwan bin Umayyah dendam pada Rasulullaah SAW ketika mengetahui bahwa ayahnya, Umayyah bin Khalaf, pemimpin suku Jumah, salah satu klan besar dari suku Quraisy, terbunuh di medan Perang Badar.
    Bahkan Shafwan bin Umayah pernah memerintahkan Umair bin Wahab untuk membunuh Rasulullaah SAW. Namun Umair memeluk Islam sebelum sempat membunuh Rasulullaah.
    Rasulullaah SAW memberikan Shafwan satu lembah bersama isinya. Shafwan diberikan harta terus menerus oleh Rasulullaah. Hati Shafwan pun luluh akan kebaikan Rasulullaah, dia pun memeluk Islam.

    Shafwan mengatakan, “Demi Allah, di waktu Muhammad memberikan harta kepada saya untuk pertama kalinya, saya masih membenci Muhammad. Tetapi, semakin hari kebencian saya mulai terkikis karena Muhammad memberikan harta kepadaku secara terus menerus walaupun saya masih menyimpan dendam kepadanya. Dan sekarang saya semakin mencintainya”

    Di kisah lain, Rasulullaah menerima pemberian orang lain, berupa baju yang sangat bagus. Seorang sahabat melihatnya, memuji baju yang dikenakan Rasulullaah dan memintanya. Sahabat lain menegurnya, tapi Rasulullaah tidak menolak memberikan baju itu walau baju itu adalah pemberian sahabat lain. Sebenernya, sahabat itu pengen kalo dia meninggal kelak, dia ingin dikafani baju yang pernah dipakai Rasulullaah, bukan karena butuh banget. Hanya itu.
    Dan Rasulullaah nggak menolak permintaan itu.

  3. Rasulullaah SAW tidak pernah menghardik pembantunya.Anas bin Malik, dititipkan oleh ibunya kepada Rasulullaah, di usia 10 tahun, untuk dijadikan pembantu. Meski jadi pembantu, Rasulullaah merawat dan mendidik Anas dengan sangat baik. Tidak pernah sedikit pun Rasulullaah menghardik Anas.

    Suatu ketika, Anas pernah diutus Rasulullaah untuk suatu keperluan. Anas pun berangkat. Sewaktu lewat pasar, Anas melihat sekelompok anak sedang bermain dan ikut main dengan mereka. Beberapa saat kemudian, seseorang memegang baju Anas. Ketika Anas menoleh, ternyata itu Rasulullaah, yang bertanya, “Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Anas pun salah tingkah, lalu menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat, wahai Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa salaam”

    Rasul memanggil Anas dengan sebutan Anas, kadang dengan sebutan Unais (anak kecil), atau kadang memanggilnya dengan “anakku”. Walau Anas itu pesuruh/pembantunya, Rasulullaah tetap menyayanginya seperti ke anak sendiri. Aaaaa…. Saya? Saya sering ngomelin dua bocah sayaaa :((

 

Keliatannya Three NOs ini sepele, ya. Tapi susah banget. Jangankan soal menghardik, makanan aja saya suka komen, “ih, asin ini mah.” atau yang lainnya 😦

Mudah-mudahan setelah denger kisah Three NOs-nya Rasulullaah SAW, pelan-pelan saya mulai bisa meneladaninya. Aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s