just my two cents · Racauan

Cinta VS Komitmen

cinta/cin·ta/ a 1 suka sekali; sayang benar: orang tuaku cukup – kepada kami semua; — kepada sesama makhluk; 2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan): sebenarnya dia tidak — kepada lelaki itu, tetapi hanya menginginkan hartanya; 3 ingin sekali; berharap sekali; rindu: makin ditindas makin terasa betapa — nya akan kemerdekaan; 4 kl susah hati (khawatir); risau: tiada terperikan lagi — nya ditinggalkan ayahnya itu;

— bebas hubungan antara pria dan wanita berdasarkan kemesraan, tanpa ikatan berdasarkan adat atau hukum yang berlaku;
— monyet (rasa) kasih antara laki-laki dan perempuan ketika masih kanak-kanak (mudah berubah);
love-4
source pict: dari sini

Beberapa tahun ke belakang, kayaknya sekitar 6-7 tahun lalu (OHEMJI! Udah selama itu! :O), seorang teman dekat pernah bilang, “Dalam pernikahan itu, pada akhirnya cinta udah nggak penting, karena yang utama adalah komitmen, Pen.”

Dalam beberapa menit saya tertegun. Berusaha mencerna ucapannya, tapi jujurly, sampai kemarin pagi, saya masih nggak ngerti apa maksud perkataannya. Sayangnya, teman dekat saya ini sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya sejak tiga tahun lalu, saya jadi nggak bisa nanya lagi apa maksud kata-katanya itu.

Buat saya, cinta sama komitmen itu sepaket. Nggak bisa dipisah. Jadi, kalo rasa cinta udah hilang, harusnya komitmen ikut hilang. Kan sepaket.

Perlu contoh?

Misalnya, saya cinta berat sama Kimura Takuya. Well, kalo kalian anak 90-an, kalian pasti kenal sama dia, yang pernah main jadi Osamu Toride di dorama Asunaro Hakusho itu, loh! Saya pasti harus nerima kekurangannya, lah. Misalnya dia main jelek di satu drama atau kulitnya makin hari makin mateng aja. Dan yang terbaru, kegantengannya agak memudar karena dia udah menua. Heuheu. Tapi itu nggak menyurutkan cinta saya sama Kimutaku. Ini kan misalnya. Misal, lho!

Biasanya ada yang protes. Kenapa nggak bahas cinta saya ke Pa Il, sih? Umm.. Pa Il pernah bilang, urusan kayak begitu, nggak boleh diekspos, apa pun tujuannya. Jadi, saya nggak perlu ekspos di sini atau di mana-mana. Sebab, ini menyangkut kelebihan dan kekurangannya juga, kan? Pan ini mah urusan ruang pribadi, jadi bukan konsumsi publik. Maap maap aja kalo saya nggak mau umbar-umbar. Hahah 😛

Tapi kalo mau sedikit bocoran, dia itu salah satu alasan saya dalam berkarya.

Okey. Balik lagi ke tujuan awal saya nulis dengan tema cinta lawan komitmen. Tanpa mengurangi rasa hormat pada almarhumah teman saya itu, saya menemukan beberapa misteri di balik kematiannya. Almarhumah memang sakit parah, sih. Tapi kematiannya meninggalkan banyak tanda tanya, sehingga semua itu membuat saya mencoba mengaitkannya dengan statementnya mengenai komitmen.

Kalo mau berburuk sangka, bisa aja saat dia ngomong gitu, sebenernya perasaannya ke suaminya udah luntur, tapi yang membuat dia bertahan adalah komitmen. Entah itu komitmen ke pernikahannya atau karena ada anak-anaknya. Bisa jadi, dia nggak mau anak-anaknya jadi korban perceraian orang tuanya, sehingga dia jaga komitmen itu. Kenapa saya sempat berpikiran begitu? Sebab, memang ada beberapa fakta terkuak dua tahun setelah kematiannya.

Tapi ya sudahlah. Biarkan almarhumah teman saya tetap meninggalkan misteri dan hidup tenang di sana. *sending her al fatihah*

Semalam saya berdiskusi dengan temen super deket banget mengenai ini, pada akhirnya saya diminta untuk “memaklumi” perkataan almarhumah, walau saya ga sepakat dengannya. Karena, hipotesa apa pun yang saya dan temen saya diskusikan tadi malam, tetap berujung pada konklusi yang sama: komitmen itu masuk dalam paketannya cinta.

Lalu, saya juga cerita mengenai temuan saya di sebuah tulisan blog seorang penulis yang juga penyanyi bertahun-tahun lalu ketika penulis ini menghadapi perpisahan, mengenai “cinta itu ada masa kadaluarsanya”. Widih! Waktu pertama kali saya baca, saya langsung menolak pernyataannya. Saya dan teman saya itu sepakat untuk tidak sepakat. Soalnya, kalo emang cinta itu ada masa kadaluarsanya, kok, kayaknya udah ada setingan waktunya gitu, ya? Kayak bikin abon aja, ada masa kadaluarsanya. Cinta kan ga gitu.

Jadi, saya dan teman saya tersebut tetap pada pendirian bahwa komitmen dan cinta itu nggak bisa dipisahkan. Kedua hal itu adalah satu paket, satu kesatuan. Kalo rasa cinta hilang, maka komitmen ikut gugur.

Lalu, gimana cara saya memaklumi statement almarhumah teman saya itu? Kami berdua berpikir, gimana kalo ternyata, statement almarhumah teman saya mengenai “komitmen di atas cinta” itu semata-mata supaya anak-anaknya nggak jadi korban perpisahan keduanya? Bagi saya, itu tetep cinta dan komitmen pada anak-anak mereka. Bukan ke pasangannya, because it takes two to tango. Kalo pasangannya udah nggak bisa memberikan rasa aman dan nyaman ke almarhumah teman saya, maka cinta dan komitmennya udah gugur. Jadi, konklusi kami, ketika almarhumah teman saya itu berkomitmen menjaga pernikahannya demi anak-anaknya, dia harus menerima konsekuensi, bahwa walau harus hidup seatap dengan lelaki yang dia sendiri sudah kehilangan cintanya, atas nama komitmen, dia harus jalani itu.

Gimana menurut kamu?

Advertisements

4 thoughts on “Cinta VS Komitmen

  1. Wah, ini nih. Aku dan temenku juga beberapa waktu lalu sempet ngobrolin tentang pernikahan, komitmen, cinta, dkk.
    Kalo aku setuju bahwa cinta dan komitmen tidak harus sepaket. Cinta bisa memudar, tapi komitmen harus dijaga. Karena apa? Karena eh karena dia bisa pelan2 bantu cinta untuk tumbuh lagi, meskipun mungkin di akhir jatohnya sudah tidak melibatkan romantisme lagi. Ini kalo konteks cintanya sudah menikah, ya. Palagi kalo udah punya anak. But, then again, berkomitmen untuk tetap bersama ketika sudah tidak merasa nyaman itu warbyasa perjuangannya, pasti. Butuh ikhlas sebanyak apa biar ga makan hati terus jadi sakit sendiri. Salut sama orang2 yang bisa tetap bahagia dalam kondisi kayak begitu.
    (komen aku nyambung teu, sih? 😂)

    1. nyambung sih.

      tapi, aku banyak liyat orang (baik dewasa maupun anak-anak yang jadi korban perasaan) menderita karena hanya menjaga komitmen, ketika cinta udah ga ada. yap, bagi orang menikah, mostly alasan anak yang bikin mereka berjuang menjaga komitmen.

      what I wanted to say about Cinta dan Komitmen itu harus sepaket, karena banyak pada akhirnya tidak bertahan ketika menjadikan keduanya terpisah.

      mantan pak dan bu RT kompleksku kan akhirnya pisah setelah si anak gede dan udah bisa cari nafkah sendiri, karena mantan bu RT menjaga komitmen pernikahan mereka sampai anaknya dewasa.

      Padahal, di usia tua mereka, mantan pak RT butuh pendamping banget buat ngurus beliau di masa tuanya 😥

      entah gimana nasibnya sekarang. soalnya mereka udah pindah entah ke mana…hiks hiks

      itu baru satu contoh. dan aku menemukan banyak contoh lain… korbannya justru kebanyakan anak-anak, karena mereka harus menyaksikan dinginnya sikap kedua orang tua mereka yang tengah berjuang menjaga komitmen pernikahan mereka >_<

    1. aku pada akhirnya paham juga, sih, rain. aku ngerasa pas ngobrol sama almarhumah, dia ngeluarin statement itu karena dia sedang struggle menghadapi itu sampai akhir hayatnya. because then I know behind the story before she died 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s