just my two cents · Racauan

Brisk Walking untuk Bukan Penyuka Olahraga

Belakangan ini, saya menyadari bahwa saya lumayan mudah lelah, mengantuk, dan sedikit-sedikit terkena pilek. Yang paling saya takutkan adalah bila batuk mampir ke tubuh saya, walau sudah dihajar berbagai ramuan, perlu waktu paling sedikit dua pekan untuk sembuh.

Ditambah lagi, mengingat di keluarga saya ada riwayat diabetes, kemungkinan besar papa saya carrier diabetes, maka saya punya peluang besar terkena diabetes. NO!

Mau nggak mau, saya harus mulai melawan ini semua dengan berolahraga, padahal saya nggak suka banget sama yang namanya olahraga.

Sekitar sembilan tahun lalu, saya pernah rutin ikut senam aerobic sepekan dua kali. Memang, sih, saya merasa lebih segar, tapi berat badan saya malah melonjak naik cukup parah. Karena olahraga berat semacam aerobic itu membuat saya mudah sekali terserang lapar dan saya nggak bisa mengendalikan nafsu makan ketika itu. Semua saran pola makan sehat tidak saya gubris, karena perut keroncongan bisa membuat saya murka.

Yang penting sehat itu betul. Tapi, bila berat badan sudah nggak wajar lagi, bentuk tubuh nyaris mirip bola, napas juga ikut cepat ngos-ngosan setiap mengikuti gerakan senam aerobic. Kayaknya saya harus cari alternatif olahraga lain yang nggak bikin nafsu makan menggila.

Sekitar setahun belakangan, di media sosial berseliweran posting teman-teman, sepupu, juga salah satu paman saya yang rutin ikut marathon. Saya sempat tergiur, tapi jogging keliling gang saja sudah lemes. Payah!

Lalu, salah seorang teman menyarankan saya untuk brisk walking. Syaratnya cuma dua: bangun lebih pagi dan rutin brisk walking setiap harinya. Dia bilang, olahraga ini termasuk ringan juga enteng di kantong.

Menurut The Centre of Disease Control and Prevention (CDC) brisk walking itu adalah jalan cepat (pacewalking) tapi bukan kayak lagi adu cepat jalan (racewalking). Hitungannya sekitar satu kilometer per 12 menit atau lima kilometer per jam. Jadi dibilang jalan santai juga bukan.

Ini sudah tiga pekan saya mencoba brisk walking. Belum bisa konsisten setiap hari rutin jalan, sih, tapi saya usahakan minimal sepekan tiga kali harus melakukannya, dengan durasi minimal 90 menit. Lumayan, kan, minimal saya dapat 7,5 km setiap brisk walking.

Meski begitu, saya sudah mulai merasakan efek brisk walking ini. Saya memilih waktu untuk brisk walking seusai shalat Shubuh, ketika udara masih terbilang cukup bersih, belum banyak terpapar polusi kendaraan. Saya jadi nggak cepat ngantuk di siang hari, sehingga saya lebih bisa fokus melakukan aktivitas tanpa harus berjuang melawan rasa kantuk.

Bagaimana dengan nafsu makan? Ini yang terpenting. Nafsu makan nggak menggila, tetap bisa diatur, sehingga tidak perlu khawatir berat badan saya bakalan melonjak naik. Dari tips beberapa teman baik, biasakan minum air hangat dicampur perasan jeruk nipis begitu bangun tidur. Konon efeknya bisa menekan rasa lapar tanpa perut menjadi perih. Saya lakukan ini juga, tapi berhubung saya sering terlupa menyediakan jeruk nipis, kadang saya skip. Meski begitu, nafsu makan tetap terkendali walau saya lupa minum perasan jeruk nipis ketika bangun tidur dan melakukan brisk walking 90 menit.

Saya memutuskan olahraga brisk walking ini menjadi pilihan untuk hidup lebih sehat. Mungkin ke depannya saya akan menambah alternatif olahraga lain. Per harinya, saya membuat bullet journal, termasuk target langkah hari itu. Untuk menghitung langkahnya, saya memakai salah satu apps bernama Step Buy Step. Review apps ini akan saya tulis di posting selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s